Artikel Ilmiah : F1A014065 a.n. Renanda Afrizka Roma Satria
| NIM | F1A014065 |
|---|---|
| Namamhs | Renanda Afrizka Roma Satria |
| Judul Artikel | Dasar dan Praktik Keagamaan Saksi-Saksi Yehuwa di Kabupaten Banyumas (Fundamental beliefs and religion practices of Jehova’s Witnesses in the District of Banyumas) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Kebebasan dalam menafsirkan suatu agama memiliki konsekuensi lahirnya berbagai macam sekte. Di Kabupaten Banyumas sendiri, khususnya di Purwokerto terdapat suatu sekte yang bernama Saksi-Saksi Yehuwa. Sekte ini secara tegas dan konsisten menyatakan bahwa mereka adalah bagian dari umat Kristen, akan tetapi bagi banyak kelompok Kristen mainstream mereka justru dianggap sebagai antitesa dari Kristen itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan sekaligus Juru Selamat. Pada perkembangan selanjutnya Saksi-Saksi Yehuwa mendapatkan cap sesat, dan menyimpang. Berdasarkan cap yang mereka dapatkan maka menjadi menarik untuk melihat bagaimaana sebenarnya dasar dan praktik keagamaan dari sekte yang dianggap sesat dan menyimpang ini, dan bagaiamana relasi Saksi-Saksi Yehuwa dengan kelompok keagamaan lainnya di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan informannya dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data adalah menggunakan model analisis interaktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai macam praktik keagamaan Saksi-Saksi Yehuwa yang berbeda dengan kelompok-kelompok Kristen mainstream, di antaranya adalah 1) tidak merayakan hari natal; 2) tidak merayakan hari raya paskah; 3) tidak diperbolehkan merayakan ulang tahun; 4) netral secara politik; 5) tidak melakukan transfusi darah; 6) tidak menyanyikan lagu kebangsaan; 7) tidak diperbolehkan hormat kepada bendera; dan 8) tidak diperbolehkannya wanita untuk berkotbah di mimbar. Selain itu relasi Saksi-Saksi Yehuwa dengan kelompok keagamaan lainnya dapat dikatakan tidak terjalin dengan baik bahkan cenderung rawan akan konflik, hal ini dikarenakan Saksi-Saksi Yehuwa cenderung tertutup, dan hanya melakukan komunikasi dengan kelompok keagamaan lainnya ketika mereka sedang melakukan tugas penyebaran ajaran agamanya dari rumah ke rumah. Metode penyebaran agama yang mereka pilih pun menjadi faktor mengapa keberadaan Saksi-Saksi Yehuwa tidak begitu ditanggapi secara positif oleh kelompok-kelompok keagamaan lainnya. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The freedom to interpret beliefs leads to creation of various cults – or faiths. In District of Banyumas, especially Purwokerto area, a cult’s existence emerges with a name of Saksi-Saksi Yehuwa (Jehova’s Witnesses). This order boldly identify itself as part of Christians; However; many of Christian-religion-based groups, stated that the cult stand in opposition with their faith. This is because the cult does not believe that Jesus as the god and the saviour of the people. As the result, the cult considered as fallacious and misleading. Because of the disbelief statements to the cult from the faithful ones, this issue interests me as to study their fundamental beliefs and religion practices as well as to discover their relationship condition with other religion groups in the District of Banyumas. This research is using qualitative methods in which informant is chosen through purposive sampling technique processes. This sampling technique allows researcher to collect data by observations, series of intense and sophisticated interviews, and documentations. In the other hand, for the analyzation technique is using interactive analysis model. The result of this research shows numerous kinds of religion practices conducted by the cult are distinct to other Christian-based-group in the district, those practices are listed as follow: 1) The cult does not celebrate Christmas; 2) The cult does not celebrate Easter; 3) The cult does not celebrate birthday; 4) The cult are politically neutral; 5) The cult does not do blood transfusion; 6) The cult does not sing national anthem; 7) The cult does not salute to the national flag; 8) The cult forbids women to deliver her preaching on the pulpit (stage). In addition, the relation between the cult with the other groups are troubled. Moreover, the tension between them could be resulting in unwanted conflict. Therefore, the cult is very careful and only communicate with other group when they are in duty to spread their teachings and beliefs from house to house in order to have more members. Lastly, their chosen methods in spreading teachings is also become a factor for other Christian-based-group to ignore the cult even more. |
| Kata kunci | sekte, Saksi-Saksi Yehuwa, dasar dan praktik keagamaan, relasi |
| Pembimbing 1 | Dra. Sotyania W, M.Kes |
| Pembimbing 2 | Drs. FX. Wardiyono, M.Si. |
| Pembimbing 3 | Hariyadi, MA, Ph.D. |
| Tahun | 2018 |
| Jumlah Halaman | 16 |
| Tgl. Entri | 2018-11-14 09:19:22.054166 |