| NIM | H1F011066 |
| Namamhs | YUDA DIRGANTARA DAKUSHID |
| Judul Artikel | GEOLOGI DAN TATA GUNA LAHAN ANALISIS GEOMORFOLOGI DAERAH MAJAKERTA DAN SEKITARNYA KECAMATAN WATUKUMPUL KABUPATEN PEMALANG JAWATENGAH |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Peningkatan penggunaan lahan mengakibatkan banyak lahan yang salah fungsi atau lahan tidak digunakan sesuai daya dukung geologinya. Sehingga terjadi bencana yang memakan korban jiwa, seperti bencana longsor, banjir dan sebagainya. Daerah Majakerta adalah daerah yang sedang berkembang dan melakukan perkembangan dalam hal penggunaan lahan. Namun daerah Majakerta adalah daerah perbukitan, sehingga sangat rawan terkena bencana. Maka dari itu daerah Majakerta sangat cocok untuk dilakukannya pemetaan tata guna lahan. Daerah Majakerta sekitarnya memiliki bentuk lahan 2 perbukitan yang dipisahkan sebuah dataran dibagian tengahnya. Untuk melakukan pemetaan tata guna lahan maka perlu dilakukan pengkajian pustaka, pembuatan peta dasar dan sebagainya. Setelah itu dilanjutkan survey lapangan, untuk mengetahui kondisi geologi daerah Majakerta. Setelah survey lapangan, akan dilanjutkan untuk analisis labolatorium. Analisis labolatorium untuk mengetahui kondisi geologi, geomorfologi, stratigrafi, sejarah geologi, persen lereng, kedalaman air tanah, potensi bencana, potensi batuan, dan pada akhirnya data-data tersebut digunakan untuk membuat peta tata guna lahan. Dalam pembuatan peta tata guna lahan perlu diketahui kondisi peta geologi dan geomorfologi sebagai langkah awal. Akhirnya diketahui bahwa kondisi geologi Majakerta terbentuk oleh 2 satuan batuan dan 5 struktur, ini akan menjadi pertimbangan dalam tata guna lahan daerah majakerta. Dari geomorfologinya daerah penelitian terbagi menjadi 3 satuan, yaitu: satuan dataran alluvial (F4), satuan perbukitan struktural (S8) dan satuan perbukitan struktural (S9). Sejarah geologi daerah Majakerta sendiri terbentuk pada meosen tengah dan yang terbentuk terlebih dahulu adalah satuan perselingan batulempung-batupasir dengan lingkungan pengendapan Bathyal Atas-Bathyal Tengah. Dilanjutkan dengan pengendapan satuan batupasir-batulempung dengan umur meosen tengah sampai meosen akhir dan diendapkan selaras dengan batuan dibawah, lingkungan pengendapanya Bathyal Atas-Bathyal Tengah. Lapisan satuan batulempung-batupasir dan satuan batupasir-batu lempung yang sudah terendapkan mengalami pertlipatan dan pensesaran pada Kala Pliosen Akhir-Pleistosen Awal. Lipatan tersebut lama kelamaan tererosi yang menghasilkan dataran yang sekarang menjadi tempat pengendapan alluvial. Pembuatan peta tata guna lahan dengan cara tumpang susun peta tematik, seperti yang sudah disebutkan diatas. Selain itu harus menghitung dan menilai status kelayakan kawasan budidaya dan lindung agar dapat membuat zonasi yang tepat. Akhinya daerah majakerja dibagi 7 kawasan, yaitu : kawasan pemukiman, pemukiman terbatas, kawasan pertambangan, kawasan persawahan, kawasan perkebunan /pertanian, hutan produksi, dan hutan lindung. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Increased land use results in a lot of land that has a wrong function or the land is not used according to the geological support capacity. So that a disaster that takes lives, such as landslides, floods and so on. The Majakerta area is an area that is developing and making progress in terms of land use. But the Majakerta area is a hilly area, so it is very vulnerable to disasters. Therefore the Majakerta area is very suitable for land use mapping. The surrounding Majakerta area has a 2-hill land area separated by a plain in the middle. To do land use mapping, it is necessary to conduct literature review, basic map making and so on. After that, continued the field survey, to find out the geological conditions of the Majakerta area. After the field survey, it will be continued for laboratory analysis. Laboratory analysis to determine geological conditions, geomorphology, stratigraphy, geological history, percent slope, depth of groundwater, potential disasters, rock potential, and ultimately these data are used to make land use maps. In making a land use map, it is necessary to know the condition of geological and geomorphological maps as a first step. Finally, it is known that the geological conditions of Majakerta are formed by 2 rock units and 5 structures, this will be a consideration in the land use of the majakerta area. From the geomorphology, the research area is divided into 3 units, namely: alluvial plain unit (F4), structural hill unit (S8) and structural hill unit (S9). The geological history of the Majakerta region itself is formed in the middle meocene and the one formed first is the unit of interlocking sandstone with the depositional environment of Bathyal Atas-Bathyal Tengah. Followed by deposition of sandstone-claystone unit with middle meocene until final meocene and deposited in harmony with the rock below, the controlling environment is Bathyal Atas-Bathyal Tengah. Layers of sandstone and claystone units that have been deposited were tightened and enlarged in the Late Pliocene-Early Pleistocene Period. The crease eroded over time which produced the plains that are now an alluvial deposition site. Making land use maps by overlapping thematic maps, as mentioned above. In addition, they must calculate and assess the feasibility status of the cultivation and protected areas so they can make the right zoning. Finally the working area is divided into 7 areas, namely: residential areas, limited settlements, mining areas, rice fields, plantation / agricultural areas, production forests, and protected forests. |
| Kata kunci | tata guna lahan, geologi, geomorfologi, kawasan. |
| Pembimbing 1 | Drs. H. Gentur Waluyo M.Si. |
| Pembimbing 2 | Sachrul Iswahyudi, S.T., M.T. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2018 |
| Jumlah Halaman | 8 |
| Tgl. Entri | 2018-08-30 18:39:11.078452 |
|---|