| NIM | A1M014019 |
| Namamhs | AFAN BACHTIAR |
| Judul Artikel | PENGARUH VARIASI JENIS BAHAN PENYALUT, PERBANDINGAN EKSTRAK-ETANOL, DAN SUHU PENGERINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK MIKROENKAPSULAN EKSTRAK ETANOL SEREH DAPUR (Cymbopogon citratus) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Ekstraksi sereh dapur dilakukan untuk mendapatkan senyawa bioaktifnya. Namun, hasil ekstraksi tidak stabil karena senyawa bioaktif rentan terhadap kondisi lingkungan seperti pemanasan dan kontak dengan oksigen. Hal ini menyebabkan umur simpan ekstrak menjadi pendek. Oleh karena itu, diperlukan metode enkapsulasi untuk melindungi senyawa bioaktif. Mikroenkapsulasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk menyalut senyawa dengan ukuran partikel sekitar 15-20 µm. Faktor yang mempengaruhi proses mikroenkapsulasi diantaranya bahan penyalut, rasio ekstrak, dan suhu pengeringan yang digunakan. Jenis bahan penyalut yang digunakan adalah turunan karbohidrat seperti maltodekstrin dan β-siklodesktrin. Sedangkan, metode pengeringan yang digunakan adalah spray drying. Berdasarkan hal tersebut, perlu dikaji pengaruh variasi bahan penyalut (maltodekstrin dan β-siklodesktrin), perbandingan ekstrak dengan bahan penyalut, dan suhu pengeringan spray dryer terhadap karakteristik mikroenkapsulan sereh dapur yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan ekstrak dengan bahan penyalut, pengaruh suhu pengeringan, dan interaksi perbandingan ekstrak dengan bahan penyalut dan suhu pengeringan terhadap karakteristik mikrokapsul ekstrak sereh dapur menggunakan dua jenis bahan penyalut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga faktor yang diteliti; 1) jenis bahan penyalut (P), yang terdiri dari maltodekstrin (P1) dan β-siklodekstrin (P2); 2) perbandingan ekstrak dengan bahan penyalut (K) yang terdiri dari 1:3 (K1), 1:5 (K2), dan 1:7 (K3); 3) suhu pengeringan (T), yaitu 120oC (T1), 130oC (T2), dan 140oC (T3). Variabel dalam penelitian ini adalah total fenol, pengukuran pH, aktivitas antioksidan, dan aktivtas antimikroba. Hasil penelitian ini menunjukkan interaksi bahan penyalut dan perbandingan ekstrak dengan bahan penyalut memiliki total fenol tertinggi 34,64 mg/100 g dan nilai aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 14,14%. Interaksi bahan penyalut dan suhu pengeringan menunjukkan nilai aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 13,93%. Pada pengaruh jenis bahan penyalut, perbandingan ekstrak dengan bahan penyalut, dan suhu pengeringan memiliki nilai total fenol tertinggi sebesar 44,7 mg/100 g, nilai aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 19,55%, nilai KHM dan KBM terhadap Staphylococcus aureus adalah 5 mg/mL dan 15 mg/mL; KHM dan KBM terhadap Escherichia coli adalah 15 mg/mL dan 18 mg/mL. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahan penyalut β – siklodekstrin lebih baik digunakan daripada maltodekstrin dalam menyalut ekstrak sereh dapur. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Lemongrass extraction performed to obtain its bioactive compounds. However, the extract is unstable because the bioactive compounds ssensitive to environmental conditions such as heating and oxygen contact. This causes extract has a short shelf life. Therefore, encapsulation is needed to protect the bioactive compounds. Microencapsulation is a technique for coating compound with a particle size of 200 µm. Factors that affect microencapsulation process include coating material, extract : coating material ratio, and drying temperature. Type of coating material used is carbohydrate derivatives; that were maltodextrin and β-cyclodesktrin. The drying method used was spray drying. Based on this, it is necessary to examine effect of coating material variations (maltodextrin and β-cyclodesktrin), extract : coating material ratio, and spray dryer temperature on the microencapsulant characteristics.Aim of this research was to study the effect of extract : coating material ratio, influence of drying temperature, and interaction of extract : coating material ratio and drying temperature on microcapsule characteristic. This study uses a Completely Randomized Design (CRD) with three factors studied; 1) types of coating material (P), consists of maltodextrin (P1) and β - cyclodextrin (P2); 2) extract : coating material ratio (K) consist of 1: 3 (K1), 1: 5 (K2), and 1: 7 (K3); 3) drying temperature (T), consist of 120oC (T1), 130oC (T2), and 140oC (T3). Variable observed in this reaserch were total phenol, pH, antioxidant and antimicrobial activities. Result of the research showed the interaction of coating material and extract : coating material ratio gave the highest total phenol of 34.64 mg / 100g and gave the highest antioxidant activity of 14.14% compare to other treatments. On coating material and drying temperature interaction gave the highest antioxidant activity of 13.93%. Interaction of coating material, extract : coating material ratio, and drying temperature gave the highest total fenol phenol of 44.7 mg / 100g, the highest antioxidant activity of 19.55%, MIC and MBC against Staphylococcus aureus is 5 mg / mL and 15 mg / mL; MIC and MBC against Escherichia coli is 15 mg / mL and 18 mg / mL compare to other treatments. This study shows that the coating material β - cyclodextrin better use than maltodextrin to coat lemongrass extract. |
| Kata kunci | Bahan Penyalut, Antioksidan, Fenol |
| Pembimbing 1 | Dra. Erminawati, M.Sc., Ph.D |
| Pembimbing 2 | Dr. Ike Sitoresmi Mulyo Purbowati, S.TP., M.Sc. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2018 |
| Jumlah Halaman | 19 |
| Tgl. Entri | 2018-08-08 11:49:39.650447 |
|---|