Artikel Ilmiah : C1A013052 a.n. RATU SEKAR KEMUNING

Kembali Update Delete

NIMC1A013052
NamamhsRATU SEKAR KEMUNING
Judul ArtikelANALISIS EFISIENSI EKONOMI DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN PENGRAJIN ANYAMAN BAMBU DI DESA BANJARWARU KECAMATAN NUSAWUNGU KABUPATEN CILACAP
Abstrak (Bhs. Indonesia)Penelitian ini berjudul “Analisis Efisiensi Ekonomis dan Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Anyaman Bambu di Desa Banjarwaru Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi ekonomis, kontribusi pendapatan usaha, dan tingkat kesejahteraan usaha pengrajin anyaman bambu di Desa Banjarwaru Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap.
Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis data primer. Data diperoleh langsung dari responden yaitu para pengrajin anyaman bambu melalui penyebaran kuesioner. Jumlah sampel 73 pengrajin. Metode analisis yang digunakan adalah analisis efisiensi ekonomis, kontribusi pendapatan usaha, dan tingkat kesejahteraan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) usaha kerajinan anyaman bambu di Desa Banjarwaru Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap sudah mencapai efisiensi ekonomis. Jenis produksi kerajinan anyaman bambu yang paling besar efisiensinya adalah kerajinan rinjing kecil sebesar 3,26 (2) kontribusi usaha kerajinan anyaman bambu terhadap pendapatan keluarga pengrajin anyaman bambu di Desa Banjarwaru Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap yang paling berkontribusi yaitu produksi rinjing besar sebanyak 53,01 persen. Hal ini dikarenakan harga jual rinjing besar lebih tinggi dibanding produk lainnya (3) Para pengrajin anyaman bambu di Desa Banjarwaru Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap dapat dikatakan belum sejahtera karena belum memenuhi standar kebutuhan hidup layak (KHL) di Kabupaten Cilacap.
Implikasi dari penelitian di atas adalah (1) pengrajin sebaiknya meminimalisirkan waktu dalam memproduksi anyaman bambu sehingga target produksi per hari bisa bertambah, seperti biasanya pengrajin yang hanya menghasilkan empat sampai lima anyaman bambu saja per hari dapat ditingkatkan lagi produksinya menjadi delapan sampai sepuluh anyaman (2) pengrajin anyaman bambu hendaknya melakukan inovasi seperti menciptakan model kerajinan baru atau menambah hiasan pernak-pernik, sehingga mampu membuat produk lebih menarik. Oleh karena itu, para pengrajin harus diberikan banyak penyuluhan dan pelatihan tentang produksi dan pemasaran produk dari pihak pemerintah (3) minimnya modal yang dimiliki oleh pengrajin anyaman bambu berdampak pada keterbatasan pembelian bahan baku, sehingga akan mempengaruhi jumlah anyaman bambu yang dapat diproduksi. Oleh karena itu, perlu adanya bantuan modal dari pihak-pihak terkait dan bimbingan pengelolaan usaha.
Abtrak (Bhs. Inggris)This research entitled "Analysis of Economic Efficiency and Welfare Level of Bamboo Craftsmen in Banjarwaru Village, Nusawungu Sub-district, Cilacap Regency". The purpose of this study is to determine the level of economic efficiency, the contribution of business income, and the level of welfare business of bamboo woven craftsmen in Banjarwaru Village, Nusawungu Sub-district, Cilacap Regency.
This research is done by primary data analysis method. Data obtained directly from the respondents are the bamboo woven craftsmen through the distribution of questionnaires. The number of samples is 73 craftsmen. The analytical method used is the analysis of economic efficiency, the contribution of business income, and the level of welfare.
The results showed that (1) bamboo plaiting business in Banjarwaru Village, Nusawungu Sub-district, Cilacap Regency has reached economic efficiency. Type of production of bamboo wicker craft the greatest efficiency is small rinjing craft of 3.26 (2) the contribution of bamboo wicker handicraft business to the income of woven bamboo handicraft family in Banjarwaru Village, Nusawungu Sub-district, Cilacap Regency, which contributed the most with a large rinjing production of 53.01 percent . This is because the selling price of large rinjing is higher than other products (3) the bamboo woven craftsmen in Banjarwaru Village, Nusawungu Sub-district, Cilacap Regency is not yet prosperous because they have not met the standard of decent living (KHL) in Cilacap Regency.
The implications of the above research are (1) the craftsman should minimize the time in producing bamboo plaited so that the production target per day may increase, as usually the craftsmen who only produce four to five woven bamboo only per day can be upgraded to eight to ten woven (2) bamboo woven craftsmen should do innovations such as creating a new craft model or adding decorative knick-knacks, so as to make the product more attractive. Therefore, the craftsmen should be given a lot of counseling and training on production and marketing of products from the government (3) the lack of capital owned by bamboo woven craftsmen impact on the limitations of raw material purchases, thus affecting the number of woven bamboo that can be produced. Therefore, there needs to be capital assistance from related parties and business management guidance.
Kata kunciProduksi Anyaman Bambu, Efisiensi Ekonomis, Kontribusi Pendapatan Usaha, Tingkat Kesejahteraan.
Pembimbing 1Dra. Dijan Rahajuni, M.Si
Pembimbing 2Drs. Oke Setiarso, M.Si
Pembimbing 3Dr. Diah Setyorini G, S.E, M.Si
Tahun2017
Jumlah Halaman82
Tgl. Entri2017-10-26 05:59:22.578353
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.