Artikel Ilmiah : G1B012100 a.n. AWWALINA ZULFA HIDAYATI

Kembali Update Delete

NIMG1B012100
NamamhsAWWALINA ZULFA HIDAYATI
Judul ArtikelASPEK SOSIAL BUDAYA TERKAIT TERJADINYA KEHAMILAN USIA MUDA PADA REMAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JATILAWANG KABUPATEN BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)Latar Belakang: Kehamilan usia muda/remaja sangat membahayakan untuk kesehatan ibu dan bayi karena beresiko perdarahan ketika persalinan dan rentan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Penyebab terjadinya kehamilan usia muda pada remaja didominasi oleh pernikahan dini dan kehamilan di luar nikah serta faktor sosial budaya merupakan salah satu faktor kuat yang mempengaruhi pernikahan dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran aspek sosial budaya terkait terjadinya kehamilan usia muda pada remaja.

Metode : Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Subyek penelitian adalah remaja hamil di bawah usia 20 tahun dan informan pendukungnya adalah orang tua, teman sebaya dan tokoh masyarakat, tokoh agama serta tenaga kesehatan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam.

Hasil Penelitian : Subyek penelitian telah mengetahui batasan usia ideal bagi seorang perempuan untuk hamil dan punya anak, memiliki pengetahuan mengenai kehamilan usia muda pada remaja meliputi, dampak, penyebab, pencegahan dan faktor pendorong dari hal tersebut. Orang tua mereka telah memberikan pola asuh terbaik, memberi kontrol pergaulan dan edukasi terkait dengan bahaya kenakalan remaja, hanya saja masih kurang dalam pendidikan kesehatan reproduksi/seks. Teman sebaya mereka tidak pernah melakukan tindakan/perilaku yang mendorong untuk terjadinya kehamilan usia muda pada remaja, dibuktikan dalam pergaulan di sekolah yang baik dan tidak menyalahgunakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Peranan tokoh masyarakat masih dirasa kurang terkait pencegahan kehamilan usia muda pada remaja, dibuktikan dengan belum adanya program atau kegiatan dari instansi kesehatan terkait masalah tersebut. Budaya menikah muda bagi remaja putri di wilayah tersebut sudah tidak ada.

Simpulan : Tidak ada budaya untuk menikah muda bagi remaja putri, peran orang tua dan teman sebaya sudah baik dan perlunya peningkatan peranan dari tokoh masyarakat, tokoh agama sesuai dengan bidangnya masing-masing serta tenaga kesehatan terkait pencegahan kehamilan usia muda pada remaja.
Abtrak (Bhs. Inggris)Background: Pregnancy of young age/teenagers were very dangerous for the health of mothers and babies because of the risk of bleeding when labor and vulnerable to deliver babies with low birth weight. The cause of early pregnancy in teenagers was dominated by early marriage and pregnancy out of wedlock and as well as socio-cultural factors was one of the strong factors that affect early marriage. This reasearch aims to know the role of socio-cultural aspects related to the occurrence of young pregnancies in adolescents.

Method: This research was qualitative with phenomenological approach. Subjects of research were pregnant teenagers under 20 years old and supporting informants were parents, peers and community leaders, religious leaders and health workers. Data collection techniques used in-depth interviews.

Results: Subjects of the study have known the ideal age limit for a woman to become pregnant and have children, have knowledge about youth pregnancy in adolescent include, impact, cause, prevention and driving factors of that. Their parents have provided the best parenting pattern, providing social and educational controls related to the dangers of juvenile delinquency, but still lacking in reproductive health education/sex. Their peers never undertaken actions/behaviors that encourage the occurrence of teenage pregnancy in adolescents, evidenced in the association in good schools and do not misuse the use of information and communication technology. The role of community leaders is still considered less related to the prevention of young pregnancy in adolescents, evidenced by the absence of programs or activities of health agencies related to the problem Culture to married at a young age for teenage girl in the region was gone.

Conclusion: There is no culture to married at a young age for teenage girl, the role of parents and peers was good and the need for improvement the role of community leaders in according to their respective fields, religious leaders and health workers related to prevention of early pregnancy in adolescents.
Kata kunciaspek sosial budaya, kehamilan usia muda, remaja
Pembimbing 1Elviera Gamelia, SKM, M. Kes.
Pembimbing 2Drs. Bambang Hariyadi, M. Kes.
Pembimbing 3
Tahun2017
Jumlah Halaman15
Tgl. Entri2017-08-15 20:51:12.417016
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.