Artikel Ilmiah : F1A012089 a.n. CLORINTIAMI
| NIM | F1A012089 |
|---|---|
| Namamhs | CLORINTIAMI |
| Judul Artikel | POTRET KEHIDUPAN PSKL (PEKERJA SEKS KOMERSIAL LESBIAN) DI PURWOKERTO |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Pekerja Seks Komersial Lesbian (PSKL) merupakan sebuah fenomena dimana seorang perempuan dengan orientasi seksual sesama jenis yang memiliki profesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Penelitian ini dilakukan di Kota Purwokerto. Kota Purwokerto dipilih karena di kota ini terdapat tempat-tempat yang menyediakan jasa PL (Pemandu Lagu) diantaranya tempat karaoke (District lounge & karoake, The President, dan E-max), hotel yang menyediakan karaoke (Hotel astro, Java Heritage dan Wisata Niaga) dan klub malam (Cheers Cafe, Zone Baturaden, dan King atau Puri). Tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan dramaturgi dari Pekerja Seks Komersial Lesbian (PSKL). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Informan dipilih menggunakan teknik snowball sampling dengan unit analisis Pekerja Seks Komersial Lesbian (PSKL). Teknik analisis data menggunakan model interaktif (Interaktif Model of Analisis). Pekerja Seks Komersial Lesbian (PSKL) dan pasangannya dipilih sebagai Informan atas dasar tema yang diangkat dalam penelitian yaitu seorang perempuan yang memiliki orientasi seksual sesama jenis namun bekerja melayani nafsu seksual lawan jenis. Keunikan dari penelitian ini adalah pasangan kekasih (perempuan) dari PSKL tersebut mengetahui profesi dari kekasihnya namun hal tersebut tidak menjadi masalah. Hasil penelitian menunjukkan adanya fenomena Pekerja Seks Komersial Lesbian (PSKL) di Kota Purwokerto adalah akibat kemiskinan, rendahnya pendidikan dan sempitnya lowongan pekerjaan yang memaksa perempuan dengan keterbatasan keterampilan memilih bekerja di jalan pintas yaitu menjadi Pekerja Seks Komersial. Sebagian besar Pekerja Seks Komersial (PSK) di Purwokerto berkedok sebagai PL atau Pemandu Lagu. Praktek-praktek perilaku ini biasa terjadi di tempat karaoke, hotel atau klub malam. Lingkungan pekerjaan yang bebas membuat perempuan-perempuan tersebut terjerat dalam hubungan cinta sesama jenis. Alasannya adalah karena terbiasa bersama perempuan yang memiliki orientasi seksual sesama jenis hingga lama-lama terlibat hubungan tersebut. Dengan orientasi seksual tersebut tidak menyurutkan perempuan PSK dalam bekerja melayani pelanggan yang notabe laki-laki (lawan jenis). Pekerjaan tersebut dilakukan dengan alasan profesionalitas kerja bukan karena kepuasan pribadi. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat pasangan kekasih sesama jenis dari PSKL tersebut yang tidak melarang pasangannya bekerja sebagai PSK meskipun merasa cemburu dengan alasan kebutuhan hidup. Dalam kehidupan pasangan kekasih lesbian ada peran yang dipertukarkan. Pekerja seks komersial yang notabene femm (dalam pasangan lesbian berperan sebagai perempuan) mengambil peran sebagai pencari nafkah dan butch (dalam pasangan lesbihan berperan sebagai laki-laki) mengambil peran sebagai yang diberi nafkah. Meskipun begitu pada prakteknya saat PSKL bekerja, sang butch yang akan bertugas sebagai pengantar dan sesekali pelindung jika perempuannya dilecehkan. Dalam kehidupannya PSKL memiliki front stage yaitu sebagai Pemandu Lagu dan back stage yaitu PSKL. Front stage PSKL sendiri terbagi dua yaitu setting dan front personal. Setting yaitu tempat karaoke (tempat bekerja) dan front personal yaitu dengan berdandan cantik (rambut panjang, make up tebal, pakaian minim) serta gaya mengoda. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Lesbian Prostitute (LP) is a phenomenon where a homosexual woman works as a prostitute. This study was conducted in Purwokerto. Purwokerto was chosen as it provided places with Lesbian Prostitutes services such as karaoke houses (District lounge & karoake, The President, and E-max), hotel with karaoke booth (Hotel astro, Java Heritage and Wisata Niaga) and night clubs (Cheers Cafe, Zone Baturaden, and King or Puri). The objective of the study is to explain the dramaturgy of Lesbian Prostitutes (LP) and their partners. The approach of this study is qualitative using descriptive methods. The informants were chosen using snowball sampling technique with Lesbian Prostitutes (LP) as the unit of analysis. Technique of data analysis uses interactive model (Interactive Model of Analysis). Lesbian Prostitutes (LP) and their partners were chosen as the informants in line with the theme of this study which is a homosexual woman who works to satisfy the needs of men. The uniqueness of this study is that the (woman) partners of the prostitutes are aware of their respective partner but are not having problem with it. The result of the study shows that the phenomenon of Lesbian Prostitutes (LP) exists because of the poverty, low education, and lack of job vacancy resulting in the women with limited abilities choose to work as Lesbian Prostitutes (LP). Most of the Lesbian Prostitutes (LP) in Purwokerto act as PL or Pemandu Lagu (Karaoke Candygirl). These practices usually happen in karaoke houses, hotels, or night clubs. The too liberal work environment causes these women fall into homosexual relationship. The main reason for this is because they are used to being together with homosexual women so they somehow adapt the kind of relationship. The homosexuality does not hinder them in doing their job to pleasure male customers. The job is done merely due to professionalism instead of private satisfaction. The result of the study also shows the partners of those LP do not forbid them to work as LP, despite the jealousy, because of life necessities. In the life of lesbian couples there is a changing role. The prostitutes who are femm (act as the woman of the couple) take role as bread winners, and butch (act as the man of the couple) take role bread receiver. Nevertheless, in practice, when the LP is working, the butch are sending them out and sometimes protecting LP should any molestation happen. In their life, LP has front stage as Pemandu Lagu and backstage as LP. Front stage of LP are divided into two which are setting and front personal. Setting means karaoke place (work place) and front personal means full on makeup (long hair, heavy makeup, mini clothes) and seduction. |
| Kata kunci | Perempuan, Pekerja Seks Komersial, Lesbian / Women, Lesbian Prostitutes, Lesbian |
| Pembimbing 1 | Dr. Masrukin, M. Si |
| Pembimbing 2 | Drs. Nalfaridas B, M. Hum |
| Pembimbing 3 | Dr. Tyas Retno W, M. Si |
| Tahun | 2017 |
| Jumlah Halaman | 15 |
| Tgl. Entri | 2017-08-15 08:58:26.68804 |