Artikel Ilmiah : F1D013029 a.n. SABARANI ENGGAR PANGESTU
| NIM | F1D013029 |
|---|---|
| Namamhs | SABARANI ENGGAR PANGESTU |
| Judul Artikel | POLITIK MULTIKULTURALISME DI TINGKAT LOKAL PASCAREFORMASI: Relasi Mayoritas-Minoritas di Kota Surakarta Pasca-1998 |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Penelitian tentang Politik Multikulturalisme di Tingkat Lokal Pascareformasi: Relasi Mayoritas-Minoritas di Kota Surakarta Pasca 1998 ini bertujuan untuk: 1) Untuk memahami dampak yang ditimbulkan Kerusuhan Mei 1998 sebagai akibat dari kekerasan anti-Tionghoa terhadap relasi antara kelompok mayoritas dengan kelompok minoritas di Kota Surakarta; 2) Memahami bagaimana relasi yang tercipta antara masyarakat mayoritas dengan masyarakat minoritas melalui organisasi dan perayaan rakyat pascakerusuhan Mei 1998 di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dan melalui perspektif pascastrukturalisme. Selain itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Streubert dan Carpenter yang menekankan pada subjektivitas pengalaman hidup dari kelompok etnis Tionghoa dalam Kerusuhan Mei 1998 dan pascakerusuhan tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa realitas kondisi sosial di Kota Surakarta pada saat Kerusuhan Mei 1998 berada dalam kondisi kondusif, sehingga ketika kerusuhan tersebut terjadi membuat hubungan antaretnis merenggang. Pascakerusuhan Mei 1998 menimbulkan dampak fisik dan psikis. Dampak fisik berupa rusaknya bangunan sedangkan dampak psikis berupa rasa trauma dan rasa semangat untuk bangkit. Selain itu, Kerusuhan Mei 1998 juga berdampak pada hubungan antara kelompok etnis Tionghoa sebagai minoritas dan kelompok pribumi sebagai mayoritas yang menjadi renggang. Banyak dari kelompok etnis Tionghoa memilih meninggalkan Kota Surakarta, sementara sebagian kelompok etnis Tionghoa lain tetap ada yang tinggal. Kelompok etnis Tionghoa yang mengalami trauma tetapi memilih tinggal di Kota Surakarta menjadi pribadi yang lebih tertutup, sementara kelompok etnis Tionghoa yang mampu bangkit berusaha memperbaiki hubungan antaretnis melalui organisasi Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) dan Himpunan Fu Qing. Selain itu, usaha lain yang dilakukan adalah dengan mengadakan Solo Imlek Festival (SIF) yang menyerupai pesta rakyat bagi seluruh masyarakat Kota Surakarta. Dengan hal ini menunjukkan, bahwa relasi antara kelompok mayoritas-minoritas nampak membaik, tetapi sentimen setnis antara kelompok pribumi terhadap kelompok etnis Tionghoa masih ada dalam ranah personal. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The research about Politik Multikulturalisme di Tingkat Lokal Pascareformasi: Relasi Mayoritas-Minoritas di Kota Surakarta Pasca 1998 has the purpose to: 1) Understanding the impact of Mei 1998 Riot as a result of anti-Tionghoa violence which concerning the relationship between majority group with minority group in Surakarta City; 2) Understanding how the relation which created between majority society with opposition society pass through organization and populace celebration after the Mei 1998 Riot’s in Surakarta City. These research using constructivism paradigm and through the post-structuralism perspective. Besides that, the method which used in this research is the qualitative method with Streubert and Carpenter phenomenology approach which emphasizes to subjectivity living experience from ethnic Tionghoa’s group in Mei 1998 Riot and after the riot. The result of this research shown that social condition reality in Surakarta City when the Mei 1998 Riot happened made the inter-ethnic relationship stretchable. After the Mei 1998 Riot surface the physical and psychological impact. The physical effect as damage building whereas the psychological impact as trauma feeling and spirit was feeling to get up. Also, Mei 1998 Riot also impact to the relationship between Tionghoa ethnic group as minority and native group as majority became stretched. Many from Tionghoa ethnic group choose to left Surakarta City, while another Tionghoa ethnic group stay. Tionghoa ethnic group which have trauma feeling became more closed, even another Tionghoa ethnic group able to rise trying fixed the inter-ethnic relationship through Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) and Himpunan Fu Qing organization. Besides that, another try which done is launched the Solo Imlek Festival (SIF) similar to populace celebration for all Surakarta City citizenship. With this show, the relationship between majority-minority group looks better, but the ethnic sentiment between the native group to the Tionghoa ethnic group still there in the realm of personal. |
| Kata kunci | Politik Multikulturalisme, Minoritas Etnis Tionghoa, Kerusuhan Mei 1998, Pasca 1998, Kota Surakarta |
| Pembimbing 1 | Luthfi Makhasin, S.IP., M.A., Ph.D. |
| Pembimbing 2 | Triana Ahdiati, M.Si. |
| Pembimbing 3 | Drs. Syah Firdaus, M.Si. |
| Tahun | 2013 |
| Jumlah Halaman | 26 |
| Tgl. Entri | 2017-08-15 03:53:49.525724 |