Artikel Ilmiah : F1D012001 a.n. RANTI RAHMATIAH

Kembali Update Delete

NIMF1D012001
NamamhsRANTI RAHMATIAH
Judul ArtikelMONUMEN DAN SIMBOLISME POLITIK RUANG DI KOTA PURWOKERTO
Abstrak (Bhs. Indonesia)Penelitian ini bertujuan untuk: 1) memahami dan mendeskripsikan nilai-nilai simbolis yang direpresentasikan Monumen Gatot Subroto dan Monumen Jenderal Soedirman di Kota Purwokerto; 2) memahami dan mendeskripsikan nilai-nilai simbolis tersebut dalam membentuk dinamika politik ruang di Kota Purwokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan fenomenologi sebagai pendekatannya.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa nilai-nilai simbolis yang direpresentasikan Monumen Jenderal Soedirman dan Monumen Gatot Soebroto di Kota Purwokerto, yakni: 1) sejarah perkembangan Kota Purwokerto pada masa Pendudukan Jepang dan Awal Kemerdekaan; 2) peranan kedua tokoh, yakni Jenderal Soedirman dan Jenderal Gatot Soebroto; 3) perjuangan masyarakat Banyumas. Tiga nilai simbolis yang terepresentasikan Monumen Jenderal Soedirman dan Monumen Gatot Soebroto di Kota Purwokerto ini tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi ada andil dari aktor yang memproduksi ingatan dan kedua monumen ini. Aktor yang dimaksud, yakni Serulingmas dan Brigade XVII sebagai aktor yang membangun Monumen Jenderal Soedirman, sedangkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat Banyumas, dan Brigade XVII yang membangun Monumen Gatot Soebroto. Ingatan dan aktor yang memproduksi kedua monumen ini tentunya dua hal yang tidak dapat dipisahkan kaena ingatan akan terbentuk karena ada aktor yang membentuknya, yang selanjutnya disebut dengan politik ruang.
Selanjutnya, tiga nilai simbolis yang melekat pada kedua monumen ini pun mengalami perubahan atau dinamika politik ruang. Dinamika politik ruang ini terbentuk pada saat rezim penguasa di Kabupaten Banyumas pun mengalami perubahan, dari sipil ke pemerintahan militer. Perubahan pemegang kekuasaan ini selanjutnya merubah pemaknaan atas kedua monumen dari pemaknaan yang awalnya identik dengan nilai-nilai kesejarahan menjadi nilai-nilai bermuatan militer. Contohnya, melalui upacara peresmian Monumen Gatot Soebroto yang didominasi dengan nilai-nilai kemiliteran dengan sendirinya merubah pemaknaan atas monumen tersebut. Oleh karena itu, perubahan aktor yang mengisi ruang dengan sendirinya akan merubah pemaknaan atas ruang atau dinamika politik ruang.
Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah Monumen Jenderal Soedirman dan Monumen Gatot Soebroto di Kota Purwokerto pada dasarnya merupakan ruang yang merepresentasikan sejarah perkembangan Kota Purwokerto, peranan tokoh, dan perjuangan masyarakat Banyumas. Selanjutnya, tiga nilai tersebut membentuk dinamika politik ruang, yakni dengan mengalami pemaknaan baru. Maksudnya, perubahan pemaknaan atas kedua monumen terjadi mengikuti aktor yang mengisi dan memegang kuasa atas ruang tersebut.
Abtrak (Bhs. Inggris)This study aims to: 1) understand and describe symbolic values represented Monument Gatot Subroto and Monument General Soedirman in the City of Purwokerto; 2) understand and describe the symbolic values in forming the dynamics of space politics in the City of Purwokerto. The method used in this research is qualitative method with phenomenology as its approach.
The results of this study reveal that the symbolic values represented by Monument General Soedirman and Monument Gatot Soebroto in Purwokerto City, namely: 1) the history of the development of the city of Purwokerto during the Occupation of Japan and the Beginning of Independence; 2) the roles of the two figures, namely General Soedirman and General Gatot Soebroto; 3) Banyumas community struggle. The three symbolic values represented by General Soedirman Monument and the Gatot Soebroto Monument in Purwokerto City do not form by themselves, but there is a share of the actors producing the memory and the two monuments. The actor in question, namely Serulingmas and Brigade XVII as the actor who built the Monument General Soedirman, while the central government, local government, community Banyumas, and Brigade XVII build the Gatot Soebroto Monument. Memories and actors who produce these two monuments are of course two things that can not be separated because memories will be formed because there are actors who form it, hereinafter referred to as space politics.
Furthermore, the three symbolic values embedded in these two monuments also undergo a change or dynamics of space politics. The dynamics of this space politics was formed when the regime in Banyumas regency changed from civil to military government. This change of power holders further changes the meaning of the two monuments of meaning originally identical with historical values into military-charged values. For example, through the inauguration ceremony of the Gatot Soebroto Monument dominated by military values by itself changes the meaning of the monument. Therefore, the change of actors who fill the space by itself will change the meaning of space or the dynamics of space politics.
The conclusion obtained in this research is the Monument General Soedirman and Monument Gatot Soebroto in Purwokerto City is basically a space that represents the history of the development of the City of Purwokerto, the role of the character, and the struggle of the people of Banyumas. Furthermore, these three values form the dynamics of space politics, namely by experiencing new meaning. That is, the change of meaning on the two monuments occurs following the actor who fills and holds the power over the space.
.

Kata kunciKata Kunci: monumen, nilai simbolis, dan dinamika politik ruang.
Pembimbing 1Triana Ahdiati, M.Si.
Pembimbing 2Dr. Luthfi Makhasin
Pembimbing 3Oktafiani Catur Pratiwi, M.A.
Tahun2017
Jumlah Halaman31
Tgl. Entri2017-08-10 23:52:41.100326
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.