Artikel Ilmiah : C1F015012 a.n. CAHYANING TYAS ANGGOROWATI
| NIM | C1F015012 |
|---|---|
| Namamhs | CAHYANING TYAS ANGGOROWATI |
| Judul Artikel | Analisis Pengakuan dan Pengukuran Aset Biologis Perusahaan Perkebunan dengan Pendekatan Nilai wajar dan Nilai Historis |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI telah mengesahan PSAK 69: Agrikultur sebagai respons terhadap konvergensi IFRS, IAS 41: Agriculture. Seperti halnya IAS 41, dalam PSAK 69 mengharuskan perusahaan perkebunan di Indonesia menggunakan pendekatan nilai wajar dalam melakukan pengakuan dan pengukuran aset biologis. Namun, sampai dengan tahun 2015, dari seluruh perusahaan perkebunan yang terdaftar di BEI hanya terdapat 1 perusahaan yang telah menerapkan pendekatan tersebut. Penelitian ini mencoba memberikan analisis pendahuluan mengenai perbandingan pendekatan nilai wajar dan nilai historis dalam pengakuan dan pengukuran aset biologis, serta dampak implementasi pendekatan nilai wajar pada laporan keuangan perusahaan perkebunan, sebelum PSAK 69 efektif diterapkan di Indonesia pada tanggal 1 Januari 2018. Penelitian ini menggunakan metode penelitian komparatif untuk membandingkan beberapa variabel bebas pada dua kelompok perusahaan perkebunan dengan nilai wajar dan nilai historis. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan secara statistik dengan menggunakan uji beda non parametrik Mann Whitney U Test untuk dua sampel yang independen. Hasil penelitian menjelaskan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai total aset, pendapatan, dan laba, tetapi terdapat perbedaan yang nyata pada nilai profitabilitas Return on Assets (ROA) dan nilai Income Smoothing Index (ISI) di antara kelompok perusahaan perkebunan yang menerapkan pendekatan nilai wajar dan nilai historis. Implikasi dari kesimpulan penelitian tersebut yaitu memberikan early warning bagi perusahaan perkebunan di Indonesia agar mempersiapkan sejak dini hal-hal yang diatur dalam PSAK 69, khususnya penerapan nilai wajar. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI has ratified PSAK 69: Agrikultur as a response toward IFRS convergence, IAS 41: Agriculture. As well as IAS 41, PSAK 69 require fair value approach in recognizing and measuring biological assets. However, until 2015, only there is one plantation company listed in BEI used fair value. This study try to give the initial analysis description about the comparison of fair value and historical approaches in recognize and measure biological assets, and the impact of approaches itself on plantation companies financial statement, before PSAK 69 officially applied in Indonesia on 1 January 2018. This study use comparative method to compare some variables at two groups of plantation companies applying fair value and historical approaches. Samples were selected through purposive sampling method. The hypothesis tests in this study use statistical tests with nonparametric difference test Mann Whitney U for two groups of independent samples. The result of this study determine that there is no significant difference of total assets value, revenue, and earnings but there is significant difference of Return on Assets (ROA) and Income Smoothing Index (ISI) between two groups of plantation companies applying fair value and historical approaches. As implication from the research conclusion above is giving an early warning toward plantation companies in Indonesia to prepare everything stated in PSAK 69 early, in particular applying fair value. |
| Kata kunci | aset biologis, pengakuan dan pengukuran, nilai wajar dan nilai historis, PSAK 69 |
| Pembimbing 1 | Dr. Eliada Herwiyanti, S.E., M.Si., Ak. |
| Pembimbing 2 | Rini Widianingsih, S.E., M.Acc., Ak. |
| Pembimbing 3 | Drs. Sugiarto, M.Si., Ak. |
| Tahun | 2017 |
| Jumlah Halaman | 106 |
| Tgl. Entri | 2017-08-10 02:33:31.985846 |