Artikel Ilmiah : F1I013043 a.n. PATRICIA HANARIA

Kembali Update Delete

NIMF1I013043
NamamhsPATRICIA HANARIA
Judul ArtikelRESTRUKTURISASI PERAN INTERNATIONAL MONETARY FUND DI ASEAN+3 MELALUI MEKANISME REGIONAL FINANCIAL ARRANGEMENT TAHUN 2012-2016
Abstrak (Bhs. Indonesia)Krisis finansial Asia tahun 1997 merupakan peristiwa awal masuknnya International Monetary Fund (IMF) dikawasan Asia. Thailand, Korea Selatan dan Indonesia adalah contoh negara yang meminta bantuan dana dan melakukan persyaratan dari IMF diantaranya kebijakan penyesuaian makroekonomi atau liberalisasi pasar. Namun setelah melakukan implementasi kebijakan dan bantuan dari IMF beberapa negara mengalami dampak yang buruk pada sektor ekonominya. Penurunan nilai mata uang, tingginya inflasi, pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan penutupan lembaga keuangan dalam jumlah banyak dan bersamaan. Pasca tahun 1999, negara dalam kawasan asia tenggara dan asia timur membentuk sebuah kerja sama kawasan bernama ASEAN+3. Pada tahun 2000 ASEAN+3 memutuskan membangun sebuah Financial Regional Arrangement (RFA), untuk mencegah krisis dimasa mendatang. RFA tersebut berbentuk bantuan pembayar likuiditas dalam jangka pendek untuk negara yang mengalami krisis. Salah satu persyaratan di dalam CMI adalah delinked portion IMF, sehingga pada jumlah nominal dana lebih dari 10% maka terdapat hubungan dan melaksanakan kebijakan dari IMF.
Pembentukan CMI mendapat respon positif dari negara negara di kawasan ASEAN+3 sehingga terus dikembangkan. CMI ditingkatkan menjadi Chiang Mai Initiative Multilateralisation dengan perubahan jumlah dan persyaratan dalam mekanisme nya. Salah satunya adalah penigkatan nilai delinked portion IMF yang mengurangi peran IMF dalam kawasan ASEAN+3.
Abtrak (Bhs. Inggris)The Asian financial crisis of 1997 was an early inception of the role of the International Monetary Fund (IMF) in Asia. Thailand, South Korea and Indonesia are some countries who seeking funding and implementing policy requirements from the IMF. But after implementing policies and assistance from the IMF, some countries have a bad impact on their economic sectors. Adverse impacts include the decline in currency values, high inflation, stagnant economic growth and the closure of many financial institutions at the same time. The countries in Southeast Asia and East Asia formed a regional cooperation called ASEAN + 3. In 2000, ASEAN + 3 decided to build a Financial Regional Arrangement (RFA), to prevent future crises. This RFA takes the form of short-term liquidity aid to the crisis-stricken country. One of the requirements in the CMI is the delinked portion of the IMF, which means in the nominal amount of funds more than 10% then there is a relationship and implement the policy of the IMF.The establishment of CMI received a positive response from the countries in the ASEAN + 3 region so it made this mechanism continue to be developed. CMI was developed into Chiang Mai Initiative Multilateralization with some changes in the form, the nominal amount of funds and the requirements of its mechanism. One is the increased value of the IMF's delinked portion which reduces the role of the IMF in the ASEAN + 3.
Kata kunciASEAN+3, Pengaturan Keuangan Daerah, Krisis Keuangan, Chiang Mai Initiative, Dana Moneter Internasional, delinked portion.
Pembimbing 1Renny Miryanti, S.IP., M.Si
Pembimbing 2Muhammad Yamin, S.IP., M.Si
Pembimbing 3Dr. Agus Haryanto, S.IP., M.Si
Tahun2017
Jumlah Halaman25
Tgl. Entri2017-08-02 16:19:10.141908
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.