Artikel Ilmiah : F1A012086 a.n. AMIMAH FADHILAH
| NIM | F1A012086 |
|---|---|
| Namamhs | AMIMAH FADHILAH |
| Judul Artikel | BANGGA DADI WONG NGAPAK” (Studi tentang Penggunaan Bahasa Jawa Banyumasan Painyongan di Kalangan Mahasiswa Perantau Yogyakarta) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Penelitian berjudul “Bangga Dadi Wong Ngapak”, Studi tentang Penggunaan Bahasa Jawa Banyumasan Panginyongan di Kalangan Mahasiswa Perantau Yogyakarta” ini berfokus pada anggapan mahasiswa asli Banyumas mengenai penggunaan dialek Banyumasan saat mereka di tanah rantau yakni tepatnya di Yogyakarta. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi penggunaan bahasa Jawa dialek Banyumasan (ngapak) mahasiswa asli Banyumas yang merantau di Yogyakarta serta mengetahui persepsi mahasiswa asli Banyumas tentang “bangga dadi wong ngapak”dalam konteks penggunaan bahasa Jawa dialek Banyumasan di lingkup daerah Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Sasaran penelitian ini adalah mahasiswa asli Banyumas yang merantau di Yogyakarta, ahli budayawan dan dosen Universitas Jenderal Soedirman.Lokasi penelitian ini tepatnya di Banyumas dan Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan snowball sampling.Teknik pencarian data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan masih kurangnya pemahaman bahasa Jawa secara umum dengan bahasa dialek Banyumasan itu sendiri, masyarakat Jawa umumnya mengenal bahasa Jawa yang unggah-ungguh adalah Jawa Asli sedangkan dialek Banyumas merupakan bagian dari bahasa Jawa yang masih kasar penggunaannya. Posisi mahasiswa rantau asal Banyumas saat berinteraksi di Yogyakarta cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dan lawan bicara yang dihadapi atau memposisikan diri untuk menyeimbangkan menggunakan bahasa Yogyakarta namun adakalanya saat posisi mereka berkumpul atau berada dengan sesama Banyumas mereka menggunakan bahasa Banyumas. Persepsi mengenai “bangga dadi wong ngapak” menurut mereka tetap bangga mengenal, menggunakan, melestarikan kebudayaan Banyumas, ini diwujudkan melalui adanya komunitas Imbas di Yogyakarta. Komunitas ini terbentuk dari berbagai mahasiswa asli Banyumas yang berada di Yogyakarta kegiatan mereka seperti sosialisasi, makrab, rapat komisi, festival budaya, dialog kebudayaaan serta lainnya. Implikasi dari penelitian ini bahwa masyarakat yang berada di daerah rantauan perlu melestarikan penggunaan bahasa daerahnya seperti pemakaian dialek Banyumasan yang harus digunakan setiap hari oleh masyarakat asli Banyumas itu sendiri. Selain itu, adanya penerapan untuk mengenal danmemahami budaya Banyumas juga harus ditanamkan dari generasi ke generasi dengan cara meningkatkan program pendidikan berbasis bahasa daerah. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The researchentitled "Bangga Dadi Wong Ngapak”, A Study about Using Javanese Language Banyumasan Panginyongan Among The Nomads Student Nomads Yogyakarta" it is focuses on the student's original assumptions regarding the use of Banyumasan dialect when they are land in another region i.e. in Yogyakarta. The purpose of this research is to know the interaction of using Javanese language dialects of Banyumasan (ngapak)by Banyumas original student who were wander in Yogyakarta and also to know the original student perceptions of Banyumas about “bangga Dadi Wong Ngapak” in the context of using Javanese language dialect of Banyumasan in the scope area in Yogyakarta. The method which is used in this research is descriptive qualitative. The target of this research is original student of Banyumas who wander in Yogyakarta, cultural observer andlecturer of Jenderal Soedirman University. The location of this study precisely in Banyumas and in Yogyakarta.Sampling technique using snowball sampling. Data search techniques through observation, interview, and documentation. Analysis data technique which used in this research is interactive model. The result of this research shows that is still lack of understanding on Java language generally with the language of Banyumasan dialect itself, the Javanese generally knows the Java language with politenesses is the original Java while the Banyumas dialect is a part of the Javanese language which is still rough on usage. The position of original students of Banyumas when interacting in Yogyakarta tend to adapting the environment and opposed talking that faced or put themselves to balance using the language of Yogyakarta but sometimes when they are assembling or be with fellow Banyumas they using Banyumas language. The perception about “bangga dadi wong ngapak”,according to them remain proud to know, use, and preserving Banyumas culture.It is established through the existence of “Imbas” Community in Yogyakarta. This community is made up by various original student Banyumas in Yogyakarta. Their activities such as socializing, solidarity night, commission meeting, cultural festivals, cultural dialogue. Implication from this research is people who were in wandering region need to preserve the using of their own original language, such as using Banyumasan dialect which is should be practiced everyday by Banyumas people itself. In addition, there is some application to recognize and understanding Banyumas culture also have to be planted on each generation with raising up education program based on regional language. |
| Kata kunci | Bahasa Banyumasan, Mahasiswa Rantau, Interaksi, Persepsi. |
| Pembimbing 1 | Dr. Masrukin, M.Si |
| Pembimbing 2 | Dra. Fatmah Siti Djawahir, M.Si |
| Pembimbing 3 | Dr. Rawuh Edy Priyono, M.Si |
| Tahun | 2016 |
| Jumlah Halaman | 13 |
| Tgl. Entri | 2016-09-28 14:52:25.153753 |