Artikel Ilmiah : F1A012085 a.n. SEPTIANA DIAN EKAWATI
| NIM | F1A012085 |
|---|---|
| Namamhs | SEPTIANA DIAN EKAWATI |
| Judul Artikel | PEMBANGUNAN TAMAN KOTA SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mensyaratkan adanya ketersediaan luas ruang terbuka hijau minimal sebesar 30% dari luas wilayah kawasan perkotaan, dibagi menjadi ruang terbuka hijau publik minimal 20% dan ruang terbuka hijau privat minimal 10%. Adanya amanat Undang-Undang tersebut, maka setiap daerah wajib menyediakan ruang terbuka hijau dan di bawah naungan Dinas Cipta Karya, Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Pemerintah Kabupaten Banyumas berkomitmen untuk memenuhi kuota minimal 30% Perkotaan Purwokerto melalui pembangunan taman. Meskipun pemerintah sudah mengupayakan pembangunan taman, namun ruang terbuka hijau di Kawasan Perkotaan Purwokerto belum memenuhi kuota minimal dan hingga saat ini baru mencapai 11%. Berangkat dari kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor pendorong dan penghambat serta mengetahui pemanfaatan ruang terbuka hijau yang tersedia untuk masyarakat di Kawasan Perkotaan Purwokerto Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan dan penentuan informan yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan dua teknik yaitu dengan menggunakan teknik purposive sampling (sampel bertujuan) dan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembangunan taman kota, terdapat faktor pendorong serta penghambat yang mempengaruhi. Faktor pendorong meliputi adanya kebutuhan masyarakat, adanya amanat Undang-Undang, dan sebagai konsep kota berkelanjutan. Faktor penghambat dalam pelaksanaan pembangunan taman kota meliputi keterbatasan lahan, keterbatasan anggaran dan sulitnya pembebasan lahan. Dampak yang terjadi dengan adanya pembangunan taman kota, meliputi dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif pembangunan taman kota selain berfungsi untuk estetika dan menciptakan lingkungan yang sehat, juga mempunyai fungsi sosial seperti untuk melakukan kegiatan wisata, baik wisata hiburan, wisata hijau, wisata pendidikan, bahkan dapat meningkatkan pendapatan daerah maupun masyarakat. Dampak negatif pembangunan taman kota, meliputi munculnya perilaku-perilaku negatif seperti perusakan fasilitas taman, kurangnya kesadaran untuk turut menjaga kebersihan taman, hingga alih fungsi taman sebagai tempat sasaran untuk aktivitas orang berpacaran sehingga seringkali menimbulkan beberapa pandangan-pandangan negatif terhadap keberadaan taman kota itu sendiri. Kata kunci: pembangunan, ruang terbuka hijau, pemanfaatan, dampak. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Act No. 26 of 2007 on Spatial Planning requires the broad availability of green open space of at least 30% of the area of urban area is divided into green open space of at least 20% of public and private green open space of at least 10%. The existence of the mandate of the Act, every region must provide open green space and under the auspices of the Department of Human Settlements, Sanitation and Spatial (DCKKTR) that the commitment of the Government of Banyumas to meet the minimum quota of 30% Urban Purwokerto is through the construction of the park. Although the government has been working on the construction of the park, but the green open space in Urban Area Purwokerto not meet the minimum quota and to date has only reached 11%. Departing from this fact, this study aims to identify factors driving and inhibiting and examine the use of green open space that is available to the public in Urban Area Purwokerto, Banyumas Regency. Through a series of in-depth interviews to several informants selected, the results of this study indicate that in the implementation of the construction of a city park, there are factors driving and inhibiting influence. The driving factors include the need for the community, the mandate of the Constitution, and as the concept of sustainable cities. While inhibiting factor in the building of a city park includes land constraints, budget constraints and the difficulty of land acquisition. Impacts that occur with the construction of city parks, including the impact of positive and negative impacts. The positive impact of the construction of a city park in addition serves for aesthetic and create a healthy environment, it also has a social function to perform activities such as travel, entertainment travel well, green travel, educational travel, and even be able to generate income and to society. The negative impact of the construction of city parks, including the emergence of negative behaviors such as destruction of park facilities, the lack of awareness to maintain the cleanliness of the park, the transfer functions of the park as a target for the activity of a relationship that often creates some views negatively to the presence of city parks itself . Keywords: construction, green open space, utilization, impact |
| Kata kunci | pembangunan, ruang terbuka hijau, pemanfaatan, dampak. |
| Pembimbing 1 | Dr. Edy Suyanto, M.Si |
| Pembimbing 2 | Drs. Muslihudin, M.Si |
| Pembimbing 3 | Drs. Dalhar Shodiq, M.Si |
| Tahun | 2016 |
| Jumlah Halaman | 14 |
| Tgl. Entri | 2016-08-15 03:16:45.034188 |