| NIM | F1D008005 |
| Namamhs | SYAHID MUHAMMAD MUTHAHHARI |
| Judul Artikel | PERBANDINGAN PEMIKIRAN POLITIK ALI SYARI’ATI DAN MURTADHA MUTHAHHARI TENTANG IMAMAH |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan pemikiran politik Ali Syari’ati dan Murtadha Muthahhari mengenai Imamah. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan heurmenetika dalam bingkai perspektif pascasktruktural dan paradigma konstruktivisme, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, seimbang dan universal, untuk itu bagi mereka Imamah adalah masalah penting dalam agama yang memiliki fungsi untuk mengantarkan masyarakat menuju kemaslahatan. Akan tetapi, bagi Ali Syari’ati Imam bukanlah manusia yang telah diutus Tuhan melalui mekanisme wasiat, baginya Imam adalah manusia biasa yang memiliki kualitas kemanusiaan yang melebihi manusia lainnya sehingga ia pantas dijadikan sebagai Imam. Maka ma’sum menurutnya adalah manifestasi kebaikan yang tidak pernah putus bukan pemberian Tuhan semata (taken for granted). Selain itu, baginya keturunan Nabi (ahl al-bayt) bukan hanya mereka yang mereka yang memiliki garis darah kenabian, namun mereka yang mencerminkan nilai-nilai kenabian. Berbeda dengan Murtadha Muthahhari yang melihat bahwa Imam dan serangkaian keriterianya sudah ditentukan Tuhan sebagai amanat bagi kehidupan, untuk itu Imam eksis karena wasiat, karena itu Imam harus ma’sum (terlepas dari dosa). Disamping itu Imam adalah representasi dari nubuwah (kenabian) maka dalam pandangan Murtadha Muthahhari Imam harus dari keturunan Nabi (ahl al-bayt) sebab kriteria inilah yang dapat menjamin kebenaran dan keabsahan agama serta menjamin stabilitas sosial-politik masyarakat (ummat). Pemikiran ini berimplikasi pada teori politik Syi’ah terutama masalah kepemimpinan pasca keghaiban besar (ghaibah al-Qubra). Ali Syari’ati menolak menginginkan adanya penantian aktif selama hilangnya Imam dengan mencari sosok manusia progresif dan revolusioner (rausyan fikr). Bagi Murtadha Muthahhari masa keghaiban besar harus dipimpin oleh manusia yang memiliki tingkat kecerdasan dan keshalehan yang mumpuni. Maka dilihat dari corak pemikirannya dalam pemikiran Ali Syari’ati masuk dalam kategori kepemimpinan Populis sedangkan Muradha Muthahhari masuk kedalam kategori kepemimpinan Teokratis. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Article results of this study aims to describe and explain political thought Ali Syari’ati and Murtadha Muthahhari about the Imamate. By using qualitative methods and approaches heurmenetika in the frame pascasktruktural perspective and constructivism, the results of this study reveal that Islam is a perfect religion, balanced and universal, for it was for them Imamate is an important issue in the religion that has a function to deliver to the benefit of society. However, for Syari’ati Imam is not a man who had been sent by God through the mechanism will, for him Imam was a human being who has a human quality that exceeds other man that he deserves to be a priest. ma'sum then he said, are manifestations of goodness that never gave not God's gift alone (taken for granted). In addition, her descendant of the Prophet (ahl al-Bayt) not only those who those who have blood lines prophetic, but they reflect the values prophetic. In contrast to Murtadha Muthahhari see that the Imam and a series of pre-determined keriterianya God as a mandate for life, for the Imam to exist because of the will, because the priest must ma'sum (apart from sin). Besides, the Imam is a representation of nubuwah (prophethood), then in view of Murtadha Muthahhari priest must descendant of the Prophet (ahl al-Bayt) because these criteria can guarantee the authenticity and validity of religion and ensure socio-political stability of the community (ummah). This thinking has implications for political theory mainly Shiite leadership problems after major mysteries (ghaibah al-kubra). Ali Syari’ati refused wanted the active waiting for Imam loss by finding the human figure progressive and revolutionary (rausyan fikr). For Murtadha Muthahhari great mysteries period should be led by people who have high levels of intelligence and piety are qualified. So seen from shades of thought into thinking Ali in the category of leadership Populist while Mutadha Muthahhari into the leadership Theocracy. |
| Kata kunci | Imamah, Imam, Ghaibah al-Qubra |
| Pembimbing 1 | Drs. Bambang Suswanto, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Ahmad Sabiq, S.IP., M.A. |
| Pembimbing 3 | Andi Ali Said Akbar, S.IP., M.A. |
| Tahun | 2015 |
| Jumlah Halaman | 27 |
| Tgl. Entri | 2015-08-26 12:46:46.565157 |
|---|