Artikel Ilmiah : F1D011059 a.n. LUTHFA SHABRINA

Kembali Update Delete

NIMF1D011059
NamamhsLUTHFA SHABRINA
Judul ArtikelRASISME DAN GERAKAN ABOLISI DALAM FILM “12 YEARS A SLAVE”: Representasi Perlawanan Kelompok Anti-Perbudakan terhadap Kebijakan Proslavery di Amerika Tahun 1840-An
Abstrak (Bhs. Indonesia)Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan rasisme dan gerakan abolisi di Amerika Serikat dan juga representasi perlawanan kelompok antiperbudakan terhadap kebijakan proslavery yang ada dalam film “12 Years A Slave”. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan semiorika dalam bingkai perspektif pascastrukturalis dan paradigma dekonstruksi, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa perbudakan di Amerika terjadi karena sentimen rasial dan paham white supremacy yang mengangap bahwa ras kulit putih merupakan ras yang paling superior terutama terhadap ras kulit hitam. Perbudakan diatur melalui kebijakan proslavery. Kebijakan tersebut mengatur hak-hak budak dan juga hak majikan dari budaknya. Tidak semua setuju dengan perbudakan, dan yang menentangnya disebut dengan kelompok antiperbudakan. Kelompok ini melakukan gerakan abolisi dengan tujuan menghapuskan perbudakan. Meskipun dihapuskan rasisme di Amerika masih ada karena rasisme sudah menjadi nilai universal di Amerika. Dapat disimpulkan bahwa perbudakan terjadi karena adanya monopoli kekuasaan di sektor ekonomi dan didukung oleh sentimen rasial.
Abtrak (Bhs. Inggris)This research-based paper aims at understanding and describing racism and abolitionis movement in the United States and describing the resistance of antislavery society against the proslavery policy in movie “12 Years A Slave”. By using a qualitative method and semiotics approach in the framework of the poststructuralist perspective and the deconstructive paradigm, the result of the research reveals that the slavery in the United States happened because of the racial sentiment and the white supremacy ideology which stated that the whites are more superior especially to the blacks. Slavery was regulated through the proslavery policy. The policy organized the slave’s rights and also the master’s. Not everyone was opposed to slavery. Those who didn’t was called the antislavery society. The society started the abolitionist movement with the purpose of abolishing the slavery. Despite the abolition of slavery, racism is still occur in the United States because the racism has embedded into the society. It can be concluded that the slavery happened because of economy reason and driven by the racial sentiment.
Kata kuncirasisme, gerakan abolisi, kebijakan proslavery, kelompok antiperbudakan, perbudakan
Pembimbing 1Triana Ahdiati, M.Si
Pembimbing 2Solahuddin Kusumanegara, M.Si
Pembimbing 3Khairu R. Sobandi M.A, M.Si
Tahun2011
Jumlah Halaman28
Tgl. Entri2015-08-24 19:52:18.048872
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.