Artikel Ilmiah : A1G012007 a.n. SITA ANIENDITHA

Kembali Update Delete

NIMA1G012007
NamamhsSITA ANIENDITHA
Judul ArtikelKAJIAN FINANSIAL USAHATANI BENGKUANG (Pachyrhizus Erosus) DI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)Bengkuang merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang berpotensi untuk dikembangkan. Komoditas ini telah lama dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk konsumsi segar. Kecamatan Kembaran merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas yang telah lama mengembangkan usahatani bengkuang. Pada umumnya petani tidak memperhitungkan secara terperinci aspek-aspek finansial, seperti biaya produksi, penerimaan dan keuntungan dalam usahataninya. Perhitungan mengenai aspek-aspek finansial tersebut sangat menentukan dalam mempertahankan keberlanjutan usahahatani bengkuang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: biaya, penerimaan dan pendapatan usahatani bengkuang; mengkaji kelayakan usahatani bengkuang; tingkat Break Even Point (BEP); dan mengkaji usahatani bengkuang ketika terjadi penurunan produksi, harga jual dan perubahan biaya usahatani. Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 26 Januari sampai 26 Februari 2015. Sasaran penelitian ini adalah petani yang melakukan usahatani bengkuang di Desa Linggasari dan Desa Purbadana pada musim tanam bulan April sampai Agustus 2014 dengan jumlah responden 45 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah survei, sedangkan metode penenentuan responden secara sensus. Metode analisis yang digunakan adalah: analisis biaya, penerimaan, pendapatan, Revenue Cost Ratio (R/C), Break Even Point (BEP), dan analisis sensitivitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata biaya usahatani bengkuang per ha pada musim tanam April sampai Agustus 2014 sebesar Rp13.162.804,76, rata-rata penerimaan adalah Rp24.133.254,32 sehingga rata-rata pendapatan per hektar yang diterima petani sebesar Rp10.970.449,56. Revenue Cost Ratio (R/C) sebesar 1,83, BEP (unit) sebesar 7.525,33 kilogram dan BEP (penerimaan) sebesar Rp10.330.537,20. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani bengkuang menguntungkan sehingga layak untuk dikembangkan. Hasil analisis sensitivitas pada usahatani bengkuang apabila terjadi penurunan produksi sebesar 30 persen, 35 persen dan 40 persen masih menguntungkan, harga jual bengkuang per kilogram sebesar Rp2.000,00, Rp1.500,00 dan Rp1.200,00 juga masih menguntungkan dan perubahan biaya usahatani meliputi kenaikan upah tenaga kerja dan harga benih sebesar 7,5 persen masih sangat menguntungkan.

Abtrak (Bhs. Inggris)Jicama is one of tubers that has a potential to be developed. The district of Kembaran is one of districts in Banyumas Regency which has long been developing jicama farming. In general, farmers do not take into account in detail the financial aspects, such as the cost of production, revenue and profit in farming business. Calculations regarding those financial aspects are crucial in maintaining the sustainability of jicama farming business. This study aims to determine: cost, revenue and income of jicama farming business; to review the feasibility of jicama farming business; level of Break Even Point (BEP), and to review Jicama farming business as it declines in production, selling prices and changes in farming costs. Retrieval of data was held from January 26 to February 26, 2015. The goal of this research is farmers who conduct jicama farming business in the village of Purbadana and Linggasari during the growing season from April to August 2014 with the number of respondents of 45 people. The research method used was a survey, while the method for Respondents determination was census. The analytical methods used are: analysis of cost, revenue, income, Revenue Cost Ratio (R/C), Break Even Point (BEP), and sensitivity analysis. The analysis showed that the average cost per hectare of jicama farming in the growing season from April to August 2014 amounted to Rp13.162.804,76, the average income is Rp24.133.254,32 so that the average income per hectare received by farmers amounting to Rp10.970.449,56. Revenue Cost Ratio (R/C) of 1.83, BEP (unit) of 7.525,33 kilograms and BEP (income) of Rp10.330.537,20. This shows that the jicama farming business is profitable so it is worth to be developed. Sensivity analysis result in jicama farming business when there is a decline in production around 30 percent, 35 percent and 40 percent is still profitable and chnges in cost of jicama farming business as rise in labor cost and seed price as much 7,5 percent are still very profitable.
Kata kunciFinansial, usahatani, bengkuang
Pembimbing 1Ir. Hj. Pudji Hastuti Purwantini, M.P
Pembimbing 2Dr. Ir. Djeimy Kusnaman, M.Sc
Pembimbing 3
Tahun2015
Jumlah Halaman13
Tgl. Entri2015-08-13 10:58:17.009122
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.