Artikel Ilmiah : A1L111050 a.n. PRATAMA BUDI SASONGKO

Kembali Update Delete

NIMA1L111050
NamamhsPRATAMA BUDI SASONGKO
Judul ArtikelEVALUASI KERUSAKAN LAHAN KERING UNTUK PRODUKSI BIOMASSA DI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES
Abstrak (Bhs. Indonesia) Tanah sebagai salah satu sumber daya alam, wilayah hidup, media lingkungan dan faktor produksi biomassa yang mendukung kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya. Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan, contohnya adalah tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Meningkatnya kegiatan produksi biomassa yang memanfaatkan tanah maupun sumber daya alam lainnya yang tak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan tanah untuk produksi biomassa, sehingga menurunkan mutu serta fungsi tanah yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pernyataan tersebut merupakan dasar pertimbangan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 150 tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa. Kerusakan tanah untuk produksi biomassa merupakan karakteristik atau sifat dasar tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui pola penyebaran lahan kering, memetakan dan mengidentifikasi lahan kering, karakteristik dan kualitas lahan kering serta nilai kerusakan lahan kering untuk produksi biomassa di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2014 sampai dengan Maret 2015 di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. Analisis tanah dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian menggunakan metode survei tanah dengan pendekatan satuan lahan homogen (SLH) yang dapat diperoleh dengan cara melakukan tumpang susun (overlay) dari peta jenis tanah, peta kemiringan lereng dan peta penggunaan lahan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode random sampling. Variabel yang diamati adalah kedalaman solum, bebatuan permukaan, komposisi fraksi atau tekstur tanah, bobot isi tanah, porositas tanah, permeabilitas tanah, pH tanah, potensial reduksi-oksidasi (redoks), daya hantar listrik (DHL) dan total mikrobia. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode pencocokan berasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000 Tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah penelitian dapat dikelompokkan menjadi 2 kelas, yaitu tingkat kerusakan rendah dengan skor 12-24 dan tingkat kerusakan sedang dengan skor 25-34. Faktor penyebab kerusakan tanah tersebut adalah tingkat kelerengan dan iklim. Upaya peningkatan kualitas lahan dapat dilakukan dengan metode vegetasi agar menjaga stabilitas agregat tanah dan penanaman atau pengolahan tanah kontur.
Abtrak (Bhs. Inggris) Land as one of the natural resources, the living area, the media environment and biomass production factors that support human life and other living things have to be kept and maintained preservation of function. Biomass is organic material produced by photosynthetic processes, either the product or the waste, for example, are plants, trees, grass, potatoes, agricultural waste, forest waste, feces and animal manure. Increased biomass production activities that utilize land and other natural resources that uncontrolled can cause upland degradation for biomass production, thereby reducing the quality and function of the soil, which in turn could threaten the survival of human life and other living things. The statement is the basis for consideration of the issuance of Government Regulation No. 150 of 2000 on Land Degradation Control for Biomass Production. Upland degradation for biomass production is a characteristic or nature of the soil that exceed standard criteria soil degradation that has been set by the government. This study aims to: determine the pattern of spread of dry land, mapping and identifying the dry land, the characteristics and quality of dry land and the value of the upland degradation for biomass production in Sub Paguyangan Brebes.
The experiment was conducted in December 2014 through to March 2015 in Sub Paguyangan Brebes. Soil analysis carried out in the Institute for Agricultural Technology Yogyakarta and Soil Science Laboratory of the Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman Purwokerto. Research using ground survey methods to approach Homogeneous Land Units (HLU) which can be obtained by overlaying (overlay) of soil type maps, maps of slope and land use maps. Sampling was done by random sampling method. Variables measured were solum depth, rocks surface, the composition of the fraction or soil texture, soil bulk density, soil porosity, degree of release of water or soil permeability, soil pH, oxidation-reduction potential (redox), electrical conductivity (EC) and total microbial. Data were analyzed by the method of matching based on Govermentt Regulation No. 150 of 2000 on Land Degradation Control for Biomass Production.
The results showed that the study area can be grouped into two classes, namely the low degradation rate by a score of 12-24 and the level of moderate degradation with a score of 25-34. Factors causing degradation is slope and climate. Efforts to improve the quality of land can be done by the method of vegetation in order to maintain the stability of soil aggregates and contour tillage or planting.
Kata kunciJenis Tanah, Kelerengan, Kerusakan Lahan Kering, Produksi Biomassa.
Pembimbing 1Ir.Begananda, M.S.
Pembimbing 2Drs.Prasmadji Sulistyanto, M.Si.
Pembimbing 3
Tahun2015
Jumlah Halaman98
Tgl. Entri2015-06-23 11:43:40.014321
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.