Artikel Ilmiah : F1D008014 a.n. WIDIANTO SATRIA N

Kembali Update Delete

NIMF1D008014
NamamhsWIDIANTO SATRIA N
Judul ArtikelPOLITIK IDENTITAS DAN RELASI KUASA DALAM KAJIAN PASCAKOLONIAL: Resistensi Kaum Pribumi Terhadap Kolonialisme Belanda dalam "Tetralogi Pulau Buru"
Abstrak (Bhs. Indonesia)Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan resistensi kaum pribumi terhadap kolonialisme Belanda dalam “Tetralogi Pulau Buru.” Selain itu juga untuk memahami dan menjelaskan bahwa resistensi kaum pribumi terhadap kolonialisme Belanda dalam “Tetralogi Pulau Buru” merupakan refleksi dari politik identitas dan relasi kuasa dalam kajian pascakolonial. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan yang digunakan adalah Hermeneutika dalam bingkai perspektif pascastruktural dan paradigma yang digunakan adalah nonpositivisme khususnya kostruktivisme, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa resistensi Kaum Pribumi terhadap Kolonialisme Belanda tercermin pada tokoh-tokoh Pribumi yang melakukan berbagai aktivitas perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Perlawanan yang dilakukan dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk, yaitu : perlawanan secara fisik, non fisik, serta fisik non fisik sekaligus. Ketiga bentuk perlawanan tersebut merupakan cerminan politik identitas yang dilakukan oleh Kaum Pribumi terhadap kolonialisme Belanda dalam “Tetralogi Pulau Buru”. Politik identitas ini dilakukan Kaum Pribumi melalui politik perbedaan dan politik pengakuan. Politik perbedaan dilakukan dengan berbagai macam aktivitas perlawanan mulai dari menegaskan identitas, menjalankan kebudayaan, serta membelejeti Kolonialisme Belanda. Politik pengakuan dilakukan melalui berbagai macam aktivitas perlawanan mulai dari menulis, mendirikan organisasi, mendirikan surat kabar, hingga melakukan pemerasan terhadap birokrasi kolonial. Politik identitas yang dilakukan tidak terlepas dari relasi kuasa yang timpang dalam masyarakat kolonial. Relasi yang timpang kemudian membuat Kaum Pribumi sebagai golongan yang dikonstruksikan sebagai golongan yang inferior di berbagai lini kehidupan oleh Kolonialisme Belanda. Artinya relasi kuasa yang timpang mendorong Kaum Pribumi melakukan resitensi terhadap Kolonialisme Belanda. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditegaskan bahwa resistensi kaum pribumi terhadap Kolonialisme Belanda dalam “Tetralogi Pulau Buru” merefleksikan politik identitas dan relasi kuasa dalam kajian pascakolonial
Abtrak (Bhs. Inggris)The results of this article research aimed at understanding and describing the resistance of the natives against the Dutch colonialism in the "Tetralogi pulau buru". It is also to understand and explain that the resistance of the natives against the Dutch colonialism in the "Tetralogi Pulau Buru" is a reflection of the politics of identity and power relations in postcolonial studies. By using qualitative methods and approaches used in the frame is Hermeneutics pascastruktural perspective and paradigm used is nonpositivisme particularly constructivism, the results of the study revealed that the resistance of the Indigenous People against Dutch colonialism reflected in the figures Natives who perform various activities of resistance against Dutch colonialism. Resistance that is done can be categorized into three forms: physical resistance, non-physical, physical and non-physical as well. The third form of resistance is a reflection of identity politics carried out by The Natives against Dutch colonialism in the "Tetralogi Pulau Buru". The identity politics was done by tribe Native through political differences and political recognition. Political differences do with a variety of activities ranging from the asserted identity resistance, run culture, and stripe the Dutch Colonialism. Political recognition is done through various resistance activities ranging from writing, founded the organization, set up a newspaper, to commit extortion against the colonial bureaucracy. Identity politics do not in spite of unequal power relations in colonial society. Unequal relations makes The Natives as a group which is constructed as a group are inferior in various lines of life by the Dutch Colonialism. That is the unequal power relations push Native tribe to perform resistance to Dutch colonialism. Based on these descriptions, it can be affirmed that the resistance of the natives against the Dutch Colonialism "Tetralogi pulau buru" reflects the politics of identity and power relations in the post-colonial studies.
Kata kunciResistensi Kaum Pribumi, “Tetralogi Pulau Buru”, Politik Identitas, Relasi Kuasa, Kajian Pascakolonial.
Pembimbing 1Triana Ahdiati, M.Si
Pembimbing 2Tri Rini Widyastuti, M.Si
Pembimbing 3Khairu Roojiqien Sobandi, S.IP, M.Si., M.A
Tahun2015
Jumlah Halaman30
Tgl. Entri2015-05-21 22:00:40.882336
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.