Artikel Ilmiah : C1A011089 a.n. ATRIA GHITA MAYASARI

Kembali Update Delete

NIMC1A011089
NamamhsATRIA GHITA MAYASARI
Judul ArtikelANALISIS JALUR PEMBIAYAAN BANK SYARIAH DALAM MEKANISME TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA TAHUN 2004-2014
Abstrak (Bhs. Indonesia)Penelitian ini berjudul “Analisis Jalur Pembiayaan Bank Syariah dalam Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia tahun 2004-2014.” Perkembangan industri perbankan, khususnya perbankan syariah saat ini semakin baik. Sejalan dengan berkembangnya industri perbankan syariah, peran serta bank syariah dalam mentransmisikan kebijakan moneter juga semakin penting. Adanya penerapan kebijakan moneter kontraktif belum lama ini mengakibatkan terjadinya perlambatan pembiayaan perbankan pada tahun 2012 hingga bulan Juni 2014. Mekanisme transmisi kebijakan moneter mengindikasikan adanya hubungan antara kebijakan moneter yang berlaku dengan sektor pada pasar uang, perbankan syariah hingga memengaruhi tingkat inflasi.
Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui respon dari variabel imbal bagi hasil PUAS dan pembiayaan terhadap adanya goncangan dari bonus SBIS, serta respon variabel pembiayaan terhadap adanya goncangan dari variabel imbal bagi hasil PUAS. 2) Mengetahui respon dari variabel inflasi terhadap adanya goncangan dari variabel bonus SBIS, imbal bagi hasil PUAS dan pembiayaan. 3) Mengetahui besarnya porsi kontribusi variabel bonus SBIS, imbal bagi hasil PUAS, pembiayaan dan inflasi dalam menjelaskan inflasi sebagai tujuan akhir kebijakan moneter.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan data sekunder time series di Indonesia selama kuartal I tahun 2004 hingga kuartal II tahun 2014. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis model VAR (Vector Auto-Regression), dengan menggunakan uji Impulse Response Function (IRF) dan Variance Decomposition. Uji IRF digunakan untuk melihat besaran respon yang terjadi dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter, sedangkan variance decomposition digunakan untuk melihat besaran kontribusi tiap variabel bank syariah dalam menjelaskan inflasi di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan (1) Hasil Uji IRF menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang ketat akan direspon positif oleh variabel PUAS, kemudian direspon negatif oleh variabel pembiayaan (FIN). Sedangkan kenaikan tingkat imbal bagi hasil PUAS akan direspon negatif oleh variabel pembiayaan (FIN). (2) Hasil Uji IRF yang lain menunjukkan bahwa adanya goncangan dari variabel bonus SBIS, imbal bagi hasil PUAS, dan pembiayaan (FIN) akan direspon negatif oleh variabel inflasi (INF). Dengan kata lain variabel perbankan syariah dapat menurunkan inflasi. (3) Hasil variance Decompotion menunjukkan bahwa inflasi di Indonesia lebih banyak dijelaskan oleh variabel inflasi itu sendiri yaitu sebesar 68,56 persen. Sedangkan variabel bonus SBIS, imbal bagi hasil PUAS, dan pembiayaan (FIN) hanya menjelaskan sebesar 0 hingga 11,5 persen. Dengan kata lain variabel perbankan syariah tidak memiliki kontribusi yang besar dalam menjelaskan atau menyebabkan inflasi di Indonesia.
Melihat bahwa goncangan dari variabel syariah direspon negatif oleh variabel inflasi namun memiliki proporsi kecil dalam menjelaskan inflasi, diharapkan BI sebagai bank sentral berupaya dalam pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan peningkatan pangsa pasar perbankan syariah, dukungan dengan berbagai regulasi dan sosialisasi pada masyarakat terkait pengenalan bank syariah. Bank syariah sendiri juga ikut ambil andil dengan menciptakan berbagai inovasi produk dan jasa serta melakukan sosisalisasi terkait pengenalan produk dan jasa pada bank syariah.
Abtrak (Bhs. Inggris)This research, entitled “The Financing Channel of Islamic Bank Analysis in Monetary Policy Transmission Mechanism in Indonesia in 2004-2014. Development of the banking indusry, especially Islamic Banking now has a good progress. In line with the development of Islamic Banking industry, Islamic Banking has an important role in transmitted monetary policy. Implementation of tight monetary policy has recently led to a slowdown in bank financing in 2012 until June 2014. The mechanism of monetary policy transmission indicates the relationship between monetary policy with sector in the money market, Islamic banking to affect the rate of inflation.
The purpose of the research is 1) to know response from returns to results PUAS and financing because of shock of the bonus SBIS, and response from financing because of shock of the returns to results PUAS. 2) To know response from inflation variables because of shock of the bonus SBIS, returns to results PUAS and financing. 3) To know a large portion of the contribution of the bonus SBIS, returns to results PUAS, financing and inflation variables in explaining inflation as the ultimate goal of monetary policy.
This research is descriptive quantitative secondary data time series in Indonesia during the first quarter of 2004 until the second quarter of 2014. The analysis tool used in this research is the VAR (Vector Auto-Regression) analysis, using Impulse Response Function (IRF) test and Variance Decomposition. IRF test is used to look at the amount of responses in the transmission mechanism of monetary policy, while the variance decomposition is used to look at the contribution of each variables in explaining inflation in Indonesia.
Based on the research results indicate (1) IRF Test Results showed that tight monetary policy will be responded positively by variable of PUAS, then responded negatively by financing variables (FIN ). While the increase in the rate return to the result of PUAS will be responded negatively by financing variables (FIN). (2) Other IRF Test Results showed that the shock of bonus SBIS, returns to the results of PUAS, and financing (FIN) will be responded negatively by the inflation (INF) variable. In other words, Islamic Bank variables can decrease inflation. (3) Results Variance Decomposition showed that inflation in Indonesia, more explained by the variable inflation itself in the amount of 68.56 percent. While the bonus SBIS, returns to the results PUAS, and financing (FIN) only describes amount of 0 to 11, 5 percent. In other words, Islamic Banking variables do not have a big contribute to explaining or cause inflation in Indonesia.
Seeing that the shock of sharia variable responded negatively by inflation variable but has a smaller proportion in explaining inflation, expected BI as the central bank sought in the development of Islamic banking in Indonesia. This is done by to increase the market share of Islamic banking, or with a variety of regulatory support and socialization in the community related to the introduction of Islamic banks. Islamic banks also took contribute to creating a range of innovative products and services and conduct socialization related to the introduction of products and services on Islamic banks.
Kata kunciKunci : Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter, Bank Syariah, SBIS, PUAS, Pembiayaan, Inflasi.
Pembimbing 1Drs. Hary Pudjianto, M.M
Pembimbing 2Kikin Windhani, SE, M.Ec.Dev.
Pembimbing 3
Tahun2015
Jumlah Halaman21
Tgl. Entri2015-05-11 17:36:35.055858
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.