Artikel Ilmiah : P2BA11051 a.n. RENI ASMARANY, SST
| NIM | P2BA11051 |
|---|---|
| Namamhs | RENI ASMARANY, SST |
| Judul Artikel | EFEKTIVITAS INDUKSI TETRAPLOIDISASI IKAN NILEM (Osteochilus hasselti Valenciennes 1842) KEJUT TEMPERATUR PANAS 400C DENGAN LAMA WAKTU KEJUT BERBEDA |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Bioteknologi reproduksi tetraploidisasi alternatif solusi meningkatkan produktivitas ikan. Kejut temperatur panas 40oC selama 90 menit dilaporkan efektif menghasilkan triploid dan tetraploid nilem. Tujuan penelitian mengkaji efektivitas tetraploidisasi lama kejut 40oC berbeda : 60, 90, dan 120 detik. Telur dan spermatozoa segar (induk diinduksi GnRH-analog dan anti dopamin domperindon (Syndel, Vancauver, Canada)), difertilisasi, lalu pada 20 atau 25 menit pasca fertilisasi, dikejut 40oC selama 60, 90 atau 120 detik, kemudian dikultur dengan sistem kultur berairasi seragam untuk semua perlakuan. Pada umur 30 hari, kepadatan kultur diseragamkan. Hasil rerata persentase fertilitas (terendah 90%) berbeda sangat nyata (P<0,01) antar perlakuan. Rerata persentase penetasan antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05), demikian juga persentase sintasan benih nilem umur 60 hari. Rerata persentase sintasan benih nilem tetraploid tertinggi 73,33±15,28%, kontrol/diploidnya 53%. Dimensi sel darah merah (sdm) benih benih membuktikan keberhasilan tetraploidisasi, yaitu sdm tetraploid lebih besar secara sangat nyata (P<0,01), rerata panjang sdm tetraploid =7,08µm, kontrolnya=3,62µm; lebar sdm tetraploid=4,77µm, diploidnya 3,6µm; luas sdm tetraploid 26,67µm2 kontrolnya 7,57µm2 dan volume sdm tetraploid = 85,66µm3 dibanding kontrolnya 14,7µm3. Pertumbuhan panjang relatif tetraploid umur 60 hari, tertingginya 14,2mm/hari, dari kelompok perlakuan kejut pada 20 menit lama kejut 120 detik, kontrol diploidnya 8,4mm/hari, berbeda sangat nyata (P<0.01) antar perlakuan. Pertumbuhan spesifik benih tetraploid umur 60 hari, tertinggi 165,7mg/hari dari perlakuan kejut pada 20 menit lama kejut 60 detik, kontrol diploidnya 121,5mg/hari, juga berbeda sangat nyata (P<0,01) antar perlakuan. Secara keseluruhan penelitian ini membuktikan bahwa lama kejut 60 detik atau 120 detik pada 20 menit pasca fertilisasi, efektif menghasilkan tetraploid, dan dapat digunakan sebagai acuan pengembangan bioteknologi reproduksi ikan untuk diterapkan dalam skala yang lebih besar dalam rangka meningkatkan produktivitas ikan nilem (Osteochilus hasselti Valenciennes 1842). |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Bioteknologi reproduksi tetraploidisasi alternatif solusi meningkatkan produktivitas ikan. Kejut temperatur panas 40oC selama 90 menit dilaporkan efektif menghasilkan triploid dan tetraploid nilem. Tujuan penelitian mengkaji efektivitas tetraploidisasi lama kejut 40oC berbeda : 60, 90, dan 120 detik. Telur dan spermatozoa segar (induk diinduksi GnRH-analog dan anti dopamin domperindon (Syndel, Vancauver, Canada)), difertilisasi, lalu pada 20 atau 25 menit pasca fertilisasi, dikejut 40oC selama 60, 90 atau 120 detik, kemudian dikultur dengan sistem kultur berairasi seragam untuk semua perlakuan. Pada umur 30 hari, kepadatan kultur diseragamkan. Hasil rerata persentase fertilitas (terendah 90%) berbeda sangat nyata (P<0,01) antar perlakuan. Rerata persentase penetasan antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05), demikian juga persentase sintasan benih nilem umur 60 hari. Rerata persentase sintasan benih nilem tetraploid tertinggi 73,33±15,28%, kontrol/diploidnya 53%. Dimensi sel darah merah (sdm) benih benih membuktikan keberhasilan tetraploidisasi, yaitu sdm tetraploid lebih besar secara sangat nyata (P<0,01), rerata panjang sdm tetraploid =7,08µm, kontrolnya=3,62µm; lebar sdm tetraploid=4,77µm, diploidnya 3,6µm; luas sdm tetraploid 26,67µm2 kontrolnya 7,57µm2 dan volume sdm tetraploid = 85,66µm3 dibanding kontrolnya 14,7µm3. Pertumbuhan panjang relatif tetraploid umur 60 hari, tertingginya 14,2mm/hari, dari kelompok perlakuan kejut pada 20 menit lama kejut 120 detik, kontrol diploidnya 8,4mm/hari, berbeda sangat nyata (P<0.01) antar perlakuan. Pertumbuhan spesifik benih tetraploid umur 60 hari, tertinggi 165,7mg/hari dari perlakuan kejut pada 20 menit lama kejut 60 detik, kontrol diploidnya 121,5mg/hari, juga berbeda sangat nyata (P<0,01) antar perlakuan. Secara keseluruhan penelitian ini membuktikan bahwa lama kejut 60 detik atau 120 detik pada 20 menit pasca fertilisasi, efektif menghasilkan tetraploid, dan dapat digunakan sebagai acuan pengembangan bioteknologi reproduksi ikan untuk diterapkan dalam skala yang lebih besar dalam rangka meningkatkan produktivitas ikan nilem (Osteochilus hasselti Valenciennes 1842). |
| Kata kunci | tetraploidisasi, kejut panas 400C, lama kejut, dimensi sel darah merah, nilem |
| Pembimbing 1 | Dra. Yulia Sistina, M.Sc, Ph.D |
| Pembimbing 2 | Dr. Suhestri Suryaningsih, M.S |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2015 |
| Jumlah Halaman | 34 |
| Tgl. Entri | 2015-03-02 08:43:24.330594 |