Artikel Ilmiah : G1F011020 a.n. SINTIYA UTAMI

Kembali Update Delete

NIMG1F011020
NamamhsSINTIYA UTAMI
Judul ArtikelANALISIS BIAYA MINIMAL KONVERSI TERAPI PARASETAMOL INTRAVENA KE ORAL DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Abstrak (Bhs. Indonesia)Rumah sakit dapat melakukan efisiensi ekonomi salah satunya dengan konversi terapi intravena ke oral. Parasetamol adalah salah satu obat yang dapat dilakukan konversi terapi intravena ke oral karena memiliki bioavailabilitas absolut berkisar antara 85-98%. Konversi terapi intravena ke oral dapat dilakukan jika kondisi pasien sudah memenuhi kriteria tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya persentase penghematan biaya jika diasumsikan konversi terapi parasetamol intravena ke oral dilakukan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Jenis penelitian ini merupakan deskriptif dengan data yang diperoleh secara retrospektif dari catatan rekam medik pasien di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Terapi diasumsikan dapat dikonversi dari intravena ke oral jika pasien memenuhi kriteria konversi yang meliputi suhu <38,3oC, tekanan darah sistol >90 mmHg, nadi <100 kali/menit dan respiratory rate <24 kali/menit. Data dianalisis menggunakan analisis biaya minimal.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 pasien. Sebanyak 85% pasien dapat dilakukan konversi terapi sedangkan 15% lainnya tidak dapat dilakukan konversi. Penghematan yang dapat dilakukan dengan konversi terapi ini sangat besar yaitu mencapai Rp.48.268.686,- atau sebesar Rp.567.867,- (Rp.65.210,5-Rp.2.072.880) per pasien. Konversi terapi dapat menghasilkan biaya yang lebih minimal dibandingkan dengan terapi tanpa konversi. Penghematan yang diperoleh dari konversi terapi yaitu sebesar 76,25% (5,69%-99,77%) terhadap biaya parasetamol tanpa konversi.
Abtrak (Bhs. Inggris)Hospitals can perform economic efficiency by doing conversion from intravenous to oral therapy. Paracetamol is one of a drug that can be converted because it has absolute bioavailability between 85-98%. The conversion from intravenous to oral therapy could be done, if the patient condition have already met certain criteria. The aim of this research is to know the percentage of cost that could be saved if the intravenous paracetamol therapy assumed being converted to oral therapy in RSUD.Prof.Dr.Margono Soekarjo.
This study was descriptive study with the data collected restrospectivly from patient medical record in RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Sample were selected using simple random sampling method. This therapy conversion can be applied to the patient if they meet this criteria, such as temperature >38,3oC, sistole blood pressure >90 mmHg, pulse <100/minute and respiratory rate <24/minute. Data were analyzed using cost minimization analysis.
The total sample that used intravenous paracetamol in this study was 100 patients. 85 patients (85%) were converted, while 15 patients (15%) were not converted. Cost savings that could be achieved when the conversion of paracetamol from intravenous to oral therapy done was Rp.48.268.686,- or Rp.567.867,- (Rp.65.210,5-Rp.2.072.880) per patient. Conversion therapy resulted minimum cost with percentage of saving 76,25% (5,70%-99,77%).
Kata kunciparasetamol, analisis biaya minimal, konversi terapi.
Pembimbing 1Tunggul Adi Purwonugroho, M.Sc., Apt.
Pembimbing 2Drs. Budi Raharjo, Sp.FRS., Apt.
Pembimbing 3
Tahun2015
Jumlah Halaman11
Tgl. Entri2015-02-20 14:49:15.910846
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.