Artikel Ilmiah : F1A010030 a.n. RISA KUMENTAS
| NIM | F1A010030 |
|---|---|
| Namamhs | RISA KUMENTAS |
| Judul Artikel | Life History Seorang Penari Ebeg di Desa Bajing Kulon, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Ebeg merupakan bentuk kesenian tari daerah Banyumas yang menggunakan boneka kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Bahkan ebeg dianggap sebagai seni budaya yang benar-benar asli dari Jawa Banyumasan mengingat didalamnya sama sekali tidak ada pengaruh dari budaya lain. Para pemain ebeg pada umumnya adalah laki-laki, namun di Desa Bajing Kulon, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap terdapat pemain ebeg perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Lokasi di Desa Bajing Kulon, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kehidupan seorang wanita yang telah berkeluarga namun mempunyai profesi sebagai penari ebeg. Metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis interaktif. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa Rosiah telah menjadi seorang penari ebeg perempuan selama 12 tahun di Desa Bajing Kulon, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Menurut Rosiah sendiri ebeg itu adalah sebuah simbol ksatria penunggang kuda yang ingin berperang. Baginya ebeg adalah sisi lain dalam kehidupannya. Kehidupan sehari-hari Rosiah di luar panggung hanyalah sebagai ibu rumah tangga biasa seperti pada umumnya. Kesimpulannya, Tari ebeg sampai saat ini masih berkembang di daerah Cilacap. Di Kecamatan Kroya sendiri terdapat 45 grup Tari ebeg. Rosiah merupakan salah satu pemain ebeg perempuan yang bergabung selama 12 tahun. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Ebeg is the traditional dance of Banyumas that use the horse puppet made from woven bamboo. Even, ebeg regarded as a cultural art that really original from Java Banyumasan, remember in it is absolutely no influence from other cultures. The most ebeg players are a man, but in Bajing Kulon Village, Kroya’s district, Cilacap there are female ebeg players. This study used descriptive qualitative method. The location is in Bajing Kulon Village, Kroya’s district, Cilacap. The sampling technique is purposive sampling. The purpose of this study is to determine the life of a woman who has been married but have a profession as an ebeg dancer. Data were collected through in-depth interviews, observation and documentation. Analysis of the data used interactive analysis. The results of this study revealed that Rosiah has become an dancer for 12 years in the village of Bajing Kulon, Kroya’s district, Cilacap district. According Rosiah itself, ebeg is a symbol of equestrian knight who wants to fight. Ebeg is another side of her life. Rosiah daily life at the outside of stage just as an ordinary housewife like in general. In conclusion, ebeg is still growing in the area of Cilacap. In Kroya’s district, there are 45 ebeg dance groups. Rosiah is one of the women who joined the ebeg player for 12 years. |
| Kata kunci | Kebudayaan, penari ebeg, perempuan / Culture, ebeg dancer, woman |
| Pembimbing 1 | Haryadi, MA. PhD |
| Pembimbing 2 | Drs. Nalfaridas B, M.Hum |
| Pembimbing 3 | Drs. Hendri Restuadhi, M.Si, MA (SOC) |
| Tahun | 2015 |
| Jumlah Halaman | 12 |
| Tgl. Entri | 2015-01-22 11:36:50.973675 |