Home
Login.
Artikelilmiahs
9916
Update
ANNISA DWI HARTANTI
NIM
Judul Artikel
Kajian Aspek Finansial Usahatani Pembesaran Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kecamatan Padamara merupakan salah satu daerah sentra penghasil ikan nila di Kabupaten Purbalingga, namun sebagian besar petani ikan di Kecamatan Padamara hanya menjadikan usaha pembesaran ikan nila sebagai usaha sampingan sehingga tidak terlalu fokus dalam upaya pengembangannya. Sebagian besar petani ikan nila belum mengetahui apakah secara finansial usaha pembesaran ikan nila yang dijalankan sudah menguntungkan atau belum dan berapa tingkat keuntungan yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui gambaran umum usaha pembesaran ikan nila di Kecamatan Padamara, 2) Mengetahui biaya dan pendapatan usaha pembesaran ikan nila, 3) Mengetahui titik impas pada usaha pembesaran ikan nila, 4) Mengetahui tingkat efisiensi usaha pembesaran ikan nila di Kecamatan Padamara. Penelitian dilaksanakan di Desa Gemuruh dan Desa Purbayasa Kecamatan Padamara pada bulan Mei 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dengan jumlah responden sebanyak 23 petani pembesaran ikan nila yang diperoleh dari metode Simple Random Sampling. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis biaya dan pendapatan, analisis R/C, analisis Break Even Point, dan analisis rentabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila yang dibudidayakan sebagaian besar adalah jenis nila gift. Benih yang digunakan adalah benih ukuran 7-9 cm dengan lama produksi 5 bulan. Kegiatan pembesaran ikan nila di Kecamatan Padamara meliputi: persiapan kolam, penebaran benih, pemeliharaan, dan pemanenan. Persiapan kolam meliputi: pengurasan kolam, perbaikan kolam, pengeringan kolam, pengapuran, pemupukan dan pengisian air kolam. Hasil panen ikan pada umumnya dijual ke tengkulak di daerah Kabupaten Purbalingga. Berdasarkan kajian finansial, dapat dikatakan bahwa usaha pembesaran ikan nila di Kecamatan Padamara sudah menguntungkan dan sudah dijalankan secara efisien. Hal ini dilihat dari rata-rata pendapatan satu kali proses produksi (5 bulan) dengan luas kolam 193,87 m² sebesar Rp1.430.138,48. Jumlah rata-rata produksi yaitu 382,74 kg dan rata-rata penerimaan usaha sebesar Rp6.159.802,25 berada di atas nilai BEP sebesar 75,77 kg dan penerimaan pada saat BEP sebesar Rp997.787,21. Nilai R/C lebih dari satu yaitu 1,30 serta rentabilitas 30,24 persen lebih besar dari 0.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Padamara Subdistrict is one of the central areas of tilapia producers in Purbalingga, but most of the fish farmers in Padamara just make this business as a sideline so they do not focus in its fish farming development efforts. In general, it is because of the lack of knowledge about how much this business is profitable financially. This study aims to: 1) Determine the general picture of tilapia rearing business in the District Padamara, 2) Knowing the costs and revenues of tilapia rearing, 3) determine the breakeven point on tilapia rearing efforts, 4) determine the level of tilapia rearing business efficiency in Padamara Subdistrict. The experiment was conducted in Gemuruh Village and Purbayasa Village in Padamara District in May 2014. The method used is survey to respondents with a total of 23 farmers rearing tilapia obtained from simple random sampling method. The analytical method used is descriptive analysis, analysis of costs and revenues, the analysis of R/C, Break Even Point analysis, and profitability analysis. The results showed that tilapia business in the District mostly for tilapia gift species. The seeds used were 7-9 cm sized seed with 5 months production time. Tilapia rearing activities in the District Padamara include: pond preparation, stocking, maintenance, and harvesting. Pool preparation include: draining pool, pool repair, liming, fertilizing and water filling the pool. Fish yields are generally sold to middlemen in Purbalingga area. Based on a financial review, it can be said that the tilapia rearing business in District Padamara already profitable and has been run efficiently. It is seen from the average income of the production process (5 months) with an area of 193,87 m² for Rp1.430.138,48. The average number of production is 382,74 kg and the average revenue from operations is Rp6.159.802,25. It is above the BEP value of 75,77 kg and revenues at the time is Rp997.787,21 BEP. Value R/C is bigger than 1 (one), which is 1,30 and the rentability is 30,24 percent, which is greater than 0 (null).
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save