Home
Login.
Artikelilmiahs
9338
Update
ARIF DWI JAYANTO
NIM
Judul Artikel
Produksi Kroto Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina) yang Dibudidaya dengan Pakan Sumber Protein Berbeda
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Semut rangrang (Oecophylla smaragdina) telah diidentifikasi sebagai agen biokontrol pada berbagai jenis tanaman. Penurunan populasi dari tahun 2009-2012 sangat tajam, yakni berkisar 50% dari jumlah semula. Populasi semut rangrang pada tahun 1999-2006 cukup melimpah sehingga banyak tanaman hias maupun tanaman pangan dapat terselamatkan dari hama. Salah satu faktor penyababnya adalah perburuan telur atau larva (kroto) semut rangrang tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem. Hasil kroto yang ada di pasaran berasal dari alam, sedangkan alam tidak setiap saat menyediakan kroto. Disisi lain permintaan kroto terus meningkat, maka budidaya semut rangrang menjadi sangat penting untuk memenuhi permintaan kroto yang tinggi dan pelestarian habitat baik unsur abiotik maupun biotik mempengaruhi kelimpahan semut rangrang di alam. Produksi kroto semut rangrang hasil budidaya pada dasarnya saat ini belum menjawab kebutuhan pasar yang ada. Kebutuhan akan kroto masih sangat jauh terpenuhi karena metode dan sistem para peternak masih banyak yang menggunakan cara yang belum tepat. Dampaknya adalah produksi kroto tidak maksimal. Penelitian ini dilakukan di Grendeng, Purwokerto Utara, Banyumas selama bulan februari sampai maret 2014. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan sumber protein berbeda terhadap produksi kroto semut rangrang yang dibudidaya dan mengetahui jenis pakan sumber protein yang menghasilkan tingkat produksi kroto semut rangrang tertinggi yang dibudidaya. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas pakan sumber protein ulat hongkong (Tenebrio molitor), jangkrik (Gryllus assimilis), dan ulat kandang (Alphitobius diaperinus) masing-masing sebanyak 2 g dan setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali selama 25 hari. Hasil analisis ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pakan sumber protein berbeda (Tenebrio molitor, Gryllus assimilis, Alphitobius diaperinus) tidak berpengaruh nyata terhadap produksi kroto semut rangrang yang dibudidaya. Tingkat produksi kroto semut rangrang yang dibudidaya dengan pemberian pakan sumber protein ulat hongkong sebesar 50,98 g (3.568 individu), jangkrik sebesar 51,25 g (3.587 individu), dan ulat kandang sebesar 45,11 g (3.157 individu).
Abtrak (Bhs. Inggris)
Weaver ants (Oecophylla smaragdina) have been identified as a biocontrol agent on various types of plants. Weaver ant population in 1999-2006 was quite abundant so that many ornamental plants and crops were saved from pests. Weaver ants population declined from the year 2009-2012 sharply, by approximately 50%. One probable factor was hunting of eggs and larvae (Kroto) of weaver ants without caring the balance of the ecosystem. Recently, most kroto on the market came from nature. On the other hand kroto demand continues to increase. Thus weaver ants cultivation has become very important to meet the high demand of kroto and conservation of weaver ants in nature. Currently, the production of cultured kroto weaver ants kroto has not met the needs of the markets. The need for Kroto is still very much to be fulfilled and the method of the farming still needs to be improved to gain a maximum kroto production. The purpose of this reseacrh was to determine the effect of feeding different protein sources on the production of farmed weaver ants kroto and to know what type of feed protein source that produces the highest yield of weaver ants kroto. This research was conducted in the north Grendeng Purwokerto, Banyumas during the months of February to March 2014. This research was performed using an experimental methods with a completely randomized design. The treatments consisted of feeding each group of weaver ants with 2 g of Tenebrio molitor, Gryllus assimilis and Alphitobius diaperinus. Each treatment was repeated 5 times for 25 days. Analysis of variance (ANOVA) resulted that there was no significant effect between protein sources (Tenebrio molitor, Gryllus assimilis, Alphitobius diaperinus) on kroto production of cultived weaver ants. The production level of kroto weaver ants ktoro which was cultivated by feeding protein source Tenebrio molitor 50,98 g (3.568 individuals), Gryllus assimilis 51,25 g (3.587 individuals), and Alphitobius diaperinus 45,11 g (3.157 individuals).
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save