Home
Login.
Artikelilmiahs
9019
Update
BASKORO ARDILA
NIM
Judul Artikel
MAKNA KESENIAN “EMBEG” (KUDA KEPANG) DI DESA PEKAUMAN KECAMATAN MADUKARA KABUPATEN BANJARNEGARA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
ABSTRAKSI Universitas Jenderal Soedirman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi 2014 Baskoro Ardila F1C009019 “Makna Kesenian Embeg (Kuda Kepang) di Desa Pekauman Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara” Penelitian yang berjudul “Makna Kesenian Embeg (Kuda Kepang) di Desa Pekauman Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara” ini bertujuan untuk mengetahui alasan mengapa kesenian embeg masih dilaksanakan dan dipentaskan di Desa Pekauman Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara dan untuk mengetahui makna kesenian embeg serta bagaimana pelaku kesenian embeg dan masyarakat memaknai kesenian embeg tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif yaitu menggambarkan kegiatan, ucapan, tingkah laku yang diamati oleh peneliti. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi dan interaksi simbolik. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis datanya menggunakan model interaktif. Untuk memperoleh keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi data. Dalam penelitian ini didapatkan hasil dan kesimpulan bahwa kesenian embeg merupakan salah satu kesenian yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Jawa secara umum, dan khususnya oleh anggota kelompok embeg Ngesti Laras Desa Pekauman Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara, yang merupakan keturunan Ki Cipto. Kesenian embeg ditanggap/dipentaskan pada waktu-waktu yang fleksible yaitu apabila ada hajatan pernikahan, khitanan, pentas kesenian, Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara, acara tutup ruwah (dipentaskan satu minggu sebelum bulan Ramadhan) dan sebagainya. Ritual embeg antara lain sehari sebelum pentas pada pukul 12 malam para pemain embeg mandi di Sendang Srikandi yaitu salah satu mata air yang dikeramatkan oleh masyarakat Desa Pekauman, kemudian minum air yang berasal dari Sendang Srikandi yang sebelumnya sudah dibacakan doa oleh Ki Cipto. Kesenian embeg memiliki makna yang diwarisakna turun-temurun. Setiap pelaku kesenian embeg memiliki makna atas ritual yang mereka ikuti sebagai hasil interaksi antar pelaku kesenian embeg. Makna yang muncul bukan hanya makna atas ritual tetapi juga atas sesaji yang digunakan dalam kesenian embeg. Setiap sesaji mengandung makna masing-masing yang sudah diyakini dari dahulu hingga sekarang.
Abtrak (Bhs. Inggris)
ABSTRACT University Jenderal Soedirman Faculty of Social and Political Sciences Department of Communication Studies 2014 Baskoro Ardila F1C009019 “The meaning of the arts Embeg (Kuda Kepang) in the village of Pekauman town in Madukara Banjarnegara district.” The research, entitled “The meaning of the Arts Embeg (Kuda Kepang) in the village of Pekauman district of Banjarnegara district Madukara. This research is aims to find out the reason why the art of embeg are still performed and staged in the village of Pekauman town in Madukara Banjarnegara district and to know the meaning of the art of embeg as well as how the perpetrator art embeg and art embeg the community to interpret. This research uses qualitative research methods that produce descriptive data that describe the activities, speech, behaviour observed by the researcher. The approach used in this study was the symbolic interaction and phenomenological approach. The Data obtained through in-depth interviews, observation, and documentation, and data analysis using the interactive model. To obtain the validity of the data the researchers used the technique of triangulation of the data. In this study the results obtained and the conclusions that the arts embeg arts is one that is still held by the Javanese people in General, and in particular by members of the Group embeg Ngesti Madukara District Pekauman Village Barrel Banjarnegara district, which is a descendant of Ki Cipto. Embeg was the only art/staged at flexible times that when there is a celebration of marriage, circumcision, performing arts, the birthday of the Republic of Indonesia, ruwah lid event (staged one week before the month of Ramadan) and so on. Embeg Ritual among others the day before performances on the night from 12 players embeg bathing in Sendang Srikandi, one of the springs which are sacred by the people of the village of Pekauman, then drink water that comes from the previously already Srikandi Sendang recited prayers by Ki Cipto. Art embeg has a meaning that is passed down from generation to generation. Every performer embeg art has meaning of rituals they follow as a result of interactions between actors embeg arts. Meaning that arises not only the meaning of the ritual but also over the offerings that are used in the art of embeg. Each of the offerings contain the meaning of each is already believed to be from the past to the present.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save