Home
Login.
Artikelilmiahs
7458
Update
TYAS SETYAWAN
NIM
Judul Artikel
Strategi Komunikasi Antarpribadi Petugas LAPAS Dalam Membina Narapidana Kasus Terorisme di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Kedungpane Kota Semarang
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) memiliki tugas untuk melakukan pembinaan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) disamping menjalankan fungsinya untuk membuat efek jera pada pelanggar hukum. Tujuannya agar WBP menyadari kesalahannya berlaku pada semua warga binaan termasuk pada WBP kasus terorisme. Komunikasi antarpribadi dipilih karena umpan balik (feedback) langsung didapatkan sehingga memudahkan dalam menetapkan langkah berikutnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pemilihan informan adalah purposive sampling, didapat dua informan utama dan lima informan pendukung. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara menggunakan petunjuk umum, observasi dengan pola pemeran serta sebagai pengamat, dan penggunaan data resmi. Sumber data menggunakan kata-kata dan tindakan disamping juga menggunakan sumber tertulis serta foto. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis domain (Domain Analysis). Penelitian ini menggunakan triangulasi untuk validitas data. Hasil penelitian menunjukkan adanya penggunaan Progressive Treatment Program pada pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) termasuk WBP kasus terorisme. Perbedaan perlakuan WBP kasus terorisme terjadi pada penanganan dan strategi komunikasi antarpribadi yang dilakukan petugas. Dalam komunikasi antarpribadinya strategi menggunakan teknik edukatif, informatif, koersif, dan persuasif yang berbeda dengan WBP kasus lainnya. Hambatan yang ada yaitu masih kesulitannya petugas dalam merubah WBP kasus terorisme ketika berbicara tentang masalah ideologi. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi pembinaan yang dilakukan petugas terbukti efektif karena ditandai dengan berjalannya remisi dan Pembebasan Bersyarat (PB) bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Saran yang diberikan adalah memperbanyak jumlah pegawai yang berkompeten untuk melakukan pembinaan dengan pendekatan antarpribadi. Saran lainnya adalah adanya penguatan kerjasama antar pihak Lembaga Pemasyarakatan dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan pelatihan pada petugas dan pembinaan pada WBP kasus terorisme.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The correctional institutions has a duty to do correctional training to prisoners beside its function to create a detterent effect on lawbreakers. The goal is to make the prisoners realizing their error aplies to all citizens including the prisoners in cases of terorism. Interpersonal communication was chosen because of the feedback directly available to ease in determining the next step. The research methods that is used is qualitative descriptive research methods. The informant selection techniques is purposive sampling, two were main informant and five informer main supporters. Data collection techniques that are used are interviews using general instructions, observation with cast patterns as well as observers and the use of official data. Data sources use words and actions while also using the written sources and photos. The collected data is analyzed using domain analysis techniques (Domain Analysis). This research uses triangulation The result of the research indicates the presence of the use of progressive treatment program on the prisoners including the prisoners in cases of terrorism. Differences treatment for terrorist case occurs in handling and interpersonal communication strategy by officers. In interpersonal communication strategy using the technique of educational, informative, persuasive, and coercive that are different with other cases. The obstacle that the officer face is the difficulty to change the ideology of the prisoners in case of terrorism. Through this research it can be concluded that the officer coaching strategy proved effective as it marked the passing of parole for the prisoners in cases of terrorism. The advice that is given is to multiply the number of employees who are competent to conduct the coaching approach to interpersonal communication. The other suggestion is the strengthening of cooperation between the correctional institutions with related parties to conduct training for the officer and coaching on prisoners in cases of terrorism.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save