Home
Login.
Artikelilmiahs
6697
Update
ERSHANDY PRISSA
NIM
Judul Artikel
SUSUT MASAK DAN pH DAGING ITIK LOKAL AFKIR BERDASARKAN SISTEM PEMELIHARAAN DAN LOKASI YANG BERBEDA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian berjudul Susut Masak dan pH Daging Itik Lokal Afkir Berdasarkan Sistem Pemeliharaan dan Lokasi yang Berbeda dilaksanakan dari 18 Maret sampai dengan 30 April 2013 di Kecamatan Binangun dan Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap serta Laboratorium Produksi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar sistem dan lokasi pemeliharaan yang berbeda terhadap susut masak dan pH daging itik lokal afkir. Materi yang digunakan adalah itik lokal (Mojosari) afkir sebanyak 47 ekor. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan rancangan percobaan pola tersarang (Nested Clasification). Perlakuan yang diberikan terdiri dari lokasi pemeliharaan yaitu daerah pertanian (L1) dan pesisir (L2) sebagai grup, sistem pemeliharaan terkurung (K) dan gembala (G) sebagai sub grup. Variable yang diukur adalah Susut Masak (%) dan pH daging. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dan lokasi pemeliharaan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap susut masak daging itik, sedangkan sistem pemeliharaan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH daging itik tetapi lokasi pemeliharaan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap pH daging itik. Rataan susut masak daging itik adalah 31,69%, rataan pH daging itik adalah 6,47. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lokasi pemeliharaan tidak berpengaruh terhadap susut masak dan pH daging itik sedangkan sistem pemeliharaan berpengaruh terhadap pH daging itik. Pemelilharaan terkurung menghasilkan pH daging itik yang lebih rendah daripada pH daging itik yang dipelihara secara gembala.
Abtrak (Bhs. Inggris)
A research entitled “Cooking Loss and pH of Local Spent Duck Meat Based on Different Systems and Farming Location” was held from March 18th 2013 to April 30th 2013 at District of Binangun and District of Sampang, Regency of Cilacap and Laboratory of Animal Production, Faculty of Animal Science Jenderal Soedirman University Purwokerto. The purpose of the research was to study the effects of system and farming location on cooking loss and pH of local spent duck meat. The materials used were female local (Mojosari) spent duck as many as 47 heads. This research was held by survey method, using Nested Classification, the treatments were farming location (agricultural areas (L1) and in coastal areas (L2)) as group; intensive (K) and extensive (G) farming systems, as sub group. The variables measured were cooking loss and pH of local spent duck meat. The results showed that the production system and farming location had no significant effect (P>0,05) on cooking loss whereas production system had highly significant effect (P<0.01) on pH but farming location had no significant effect (P>0,05) on pH of duck meat. The average of cooking loss duck meat was 31,69%, the average of pH duck meat was 6,47. As conclusion, the farming location had no effect on cooking loss and pH. The production system had effect on pH of duck meat. Intensive system produced lower pH of duck meat than extensive system.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save