Home
Login.
Artikelilmiahs
55270
Update
RAISAH
NIM
Judul Artikel
POLA KOMUNIKASI KELUARGA DALAM PEWARISAN NILAI-NILAI TRADISI UANG PANAI PADA MASYARAKAT BUGIS WAJO
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tradisi uang panai merupakan salah satu unsur penting dalam adat perkawinan masyarakat Bugis yang mengandung nilai penghormatan, tanggung jawab, dan penghargaan kepada pihak perempuan. Namun, perkembangan sosial dan ekonomi menyebabkan terjadinya pergeseran pemaknaan terhadap uang panai yang sering kali dipersepsikan sebagai simbol status sosial dan prestise. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi keluarga masyarakat Bugis Wajo dalam proses pewarisan nilai tradisi uang panai serta menganalisis pemaknaan generasi muda terhadap tradisi uang panai dalam pewarisan nilai budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif etnografi. Informan penelitian terdiri atas sepuluh orang yang berasal dari empat keluarga masyarakat Bugis Wajo dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis etnografi Spradley yang meliputi analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya. Penelitian ini menggunakan Teori Transmisi Budaya (Cultural Transmission Theory), Family Communication Patterns Theory (FCPT), dan Teori Interaksionisme Simbolik sebagai landasan analisis. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi keluarga dalam pewarisan nilai tradisi uang panai membentuk pola komunikasi keluarga yang cenderung mengarah pada tipe consensual, yang ditandai dengan tingginya conversation orientation dan conformity orientation. Selain itu, generasi muda Bugis Wajo memaknai tradisi uang panai sebagai warisan budaya yang masih relevan dan mengandung nilai-nilai yang perlu dipertahankan. Namun, mereka juga menilai bahwa praktik pelaksanaan uang panai di masyarakat telah mengalami pergeseran makna karena lebih berorientasi pada prestise, status sosial, dan beban ekonomi. Oleh sebab itu, kritik generasi muda tidak ditujukan pada keberadaan tradisi uang panai, melainkan pada praktik pelaksanaannya yang dinilai telah mengaburkan makna budaya yang menjadi esensi tradisi tersebut.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The uang panai tradition is one of the important elements in the marriage customs of the Bugis people, containing values of respect, responsibility, and appreciation for the women's side. However, social and economic developments have led to a shift in the meaning of the dowry, which is often perceived as a symbol of social status and prestige. This study aims to analyze the family communication patterns of the Bugis Wajo community in the process of passing down the traditional money bride price values, as well as to analyze how the younger generation interprets the bride price tradition in the inheritance of cultural values. This research uses a qualitative ethnographic method. The research informants consist of ten people from four Bugis Wajo families, selected using purposive sampling techniques. Data was collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using Spradley's ethnographic analysis model, which includes domain analysis, taxonomy, componential analysis, and cultural themes. This study uses Cultural Transmission Theory, Family Communication Patterns Theory (FCPT), and Symbolic Interactionism Theory as the basis for analysis. The validity of the data was checked through source triangulation and technique triangulation. The study results show that the family communication process in passing down the traditional value of uang panai shapes a family communication pattern that tends to lean towards the consensual type, marked by high conversation orientation and conformity orientation. Additionally, the young generation of Bugis Wajo sees the uang panai tradition as a cultural heritage that is still relevant and has values that need to be preserved. But, they also feel that the practice of uang panai in today's society has shifted in meaning, leaning more towards prestige, social status, and economic burden. So, the criticism from the younger generation isn’t aimed at the tradition itself, but at the way it’s carried out, which they feel makes the original cultural meaning of the tradition blur.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save