Home
Login.
Artikelilmiahs
55175
Update
SITI KHOLISOH
NIM
Judul Artikel
Struktur, Perilaku, dan Kinerja Pasar Kapulaga di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kecamatan Gumelar merupakan sentra produksi kapulaga di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Petani kapulaga di Kecamatan Gumelar dihadapkan dengan berbagai permasalahan meliputi fluktuasi harga, petani sebagai price taker, serta lemahnya posisi tawar petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur pasar kapulaga di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, mengetahui perilaku pasar kapulaga di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, dan mengetahui kinerja pasar kapulaga di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode survei dan pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan sentra produksi kapulaga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2026. Pengambilan responden petani dilakukan menggunakan teknik accidental sampling dan diperoleh sebanyak 66 responden petani. Teknik pengambilan responden lembaga pemasaran menggunakan metode snowball sampling dan diperoleh sebanyak 14 lembaga pemasaran yang terdiri dari 10 pedagang pengepul dan 4 pedagang besar. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif, analisis struktur pasar yang terdiri dari analisis pangsa pasar, concentration ratio, dan hambatan masuk pasar menggunakan Minimum Efficiency Scale, analisis perilaku pasar yang terdiri dari analisis saluran pemasaran dan fungsi pemasaran, serta analisis kinerja pasar yang terdiri dari margin pemasaran, farmer’s share, dan keuntungan pemasaran. Hasil analisis struktur pasar jika ditinjau dari analisis pangsa pasar menunjukkan bahwa pasar kapulaga di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas didominasi oleh pedagang besar. Pedagang besar 2 mendominasi 19%, pedagang besar 4 mendominasi 15%, pedagang besar 1 dan 3 mendominasi 10%. Hasil analisis CR4 menunjukkan angka 54% dan berdasarkan kriteria penilaian merujuk pada struktur pasar oligopoli longgar. Hasil analisis Minimum Efficiency Scale menunjukkan angka 19% yang artinya terdapat hambatan dalam memasuki pasar kapulaga di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas. Hambatan tersebut berupa persaingan dalam mendapatkan pasokan kapulaga serta ikatan kepercayaan dengan pembeli berikutnya. Hasil analisis perilaku pasar jika dilihat berdasarkan saluran pemasaran terdapat tiga saluran pemasaran. Saluran I merupakan saluran terpendek yang melibatkan petani, pedagang besar, dan konsumen perantara. Terdapat 14% responden petani yang memasarkan kapulaga pada saluran ini. Saluran II merupakan saluran yang paling banyak dipilih oleh responden petani sebesar 59%. Saluran ini melibatkan petani, pengepul, pedagang besar, dan konsumen perantara. Saluran III merupakan salurang yang paling panjang dengan melibatkan petani, pengepul I, pengepul II, pedagang besar, serta konsumen perantara. Terdapat 14% responden petani yang memasarkan kapulaga pada saluran ini. Hasil analisis fungsi pemasaran menunjukkan bahwa setiap lembaga pemasaran pada setiap saluran menjalankan fungsi pemasarannya masing-masing. Hasil analisis kinerja pasar jika dilihat dari analisis margin pemasaran menunjukkan bahwa saluran I merupakan saluran yang paling efisien karena memiliki total margin pemasaran terkecil yaitu Rp7.000,00. Saluran II memiliki total margin pemasaran senilai Rp14.000,00, dan saluran III memiliki total margin pemasaran terbesar dengan nilai Rp17.500,00. Hasil analisis farmer’s share menunjukkan saluran I memberikan farmer’s share sebesar 92%, saluran II dan III memberikan farmer’s share senilai 83% karena memiliki kesamaan harga di tingkat petani dan harga di tingkat konsumen perantara. Berdasarkan hasil analisis farmer’s share menunjukkan bahwa ketiga saluran pemasaran tersebut tergolong efisien karena dapat memberikan farmer’s share >50%. Hasil analisis keuntungan pemasaran menunjukkan bahwa saluran I memiliki total keuntungan pemasaran terkecil senilai Rp5.000,00. Saluran II memiliki total keuntungan pemasaran senilai Rp10.000,00 dan saluran III memiliki total keuntungan pemasaran terbesar Rp11.500,00.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Gumelar District is a center for cardamom production in Banyumas Regency, Central Java Province. Cardamom farmers in Gumelar District face various challenges including price fluctuations, their status as price takers, and weak bargaining positions. The objectives of this study were to determine the market structure, market behavior, and market performance of cardamom in Gumelar District, Banyumas Regency. This study employed a survey method, with the location selected purposively Gumelar District, Banyumas Regency based on its status as a cardamom production hub. The research was conducted from March to April 2026. Farmer respondents were selected using accidental sampling, resulting in a sample of 66 farmers. Marketing institutions were selected using snowball sampling, yielding 14 institutions comprising 10 collectors and 4 wholesalers. Analytical methods included descriptive analysis, market structure analysis (market share, concentration ratio, and market entry barriers via Minimum Efficiency Scale), market behavior analysis (marketing channels and functions), and market performance analysis (marketing margins, farmer’s share, and marketing profits). Market structure analysis regarding market share indicates that the cardamom market in Gumelar District, Banyumas Regency is dominated by wholesalers. Wholesaler 2 held a 19% share, wholesaler 4 held 15%, and wholesalers 1 and 3 each held 10%. The CR4 analysis yielded a figure of 54%, indicating a loose oligopolistic market structure based on established criteria. The Minimum Efficiency Scale analysis showed a figure of 19%, signifying the existence of barriers to entry for the cardamom market in Gumelar District, Banyumas Regency. These barriers include competition for cardamom supplies and established bonds of trust with downstream buyers. Analysis of market behavior reveals the existence of three marketing channels. Channel I is the shortest, involving farmers, wholesalers, and intermediary consumers, 14% of farmer respondents market their cardamom through this channel. Channel II is the most frequently chosen by farmer respondents, accounting for 59% it involves farmers, collectors, wholesalers, and intermediary consumers. Channel III is the longest, involving farmers, first level collectors, second level collectors, wholesalers, and intermediary consumers 14% of farmer respondents market their cardamom through this channel. Analysis of marketing functions indicates that each marketing entity within every channel performs its respective marketing functions. Analysis of market performance based on marketing margins shows that Channel I is the most efficient, as it has the lowest total marketing margin at Rp7,000.00. Channel II has a total marketing margin of Rp14,000.00, while Channel III has the highest total marketing margin at Rp17,500.00. Analysis of the farmer’s share shows that Channel I yields a farmer’s share of 92%, whereas Channels II and III yield a farmer’s share of 83%, due to identical price levels at both the farmer and intermediary consumer stages. The farmer’s share analysis indicates that all three marketing channels are efficient, as each provides a farmer’s share greater than 50%. Analysis of marketing profits shows that Channel I yields the lowest total marketing profit at Rp5,000.00. Channel II yields a total marketing profit of Rp10,000.00, and Channel III yields the highest total marketing profit at Rp11,500.00.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save