Home
Login.
Artikelilmiahs
54930
Update
KHOLIFATUN NUR ALIYAH
NIM
Judul Artikel
Seleksi Jamur Asal Tanaman Lahan Salin dan Kering Nusa Tenggara Timur sebagai Agen Biokontrol dan Biostimulan pada Bawang Merah
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kondisi lingkungan seperti kekeringan dan salinitas sering menjadi penyebab menurunnya produktivitas tanaman bawang merah serta meningkatkan kerentanan tanaman terhadap serangan penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae. Penggunaan pestisida kimia yang intensif mendorong perlunya alternatif pengendalian yang lebih aman dan berkelanjutan, seperti pemanfaatan agen hayati. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi jamur endofit akar dan rizosfer asal tanaman lahan salin dan kering Nusa Tenggara Timur sebagai agen biokontrol terhadap patogen F. oxysporum f.sp. cepae dan sebagai biostimulan untuk meningkatkan toleransi tanaman bawang merah terhadap cekaman salinitas dan kekeringan. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental di Laboratorium LAPTIAB BRIN Serpong. Tahap pertama menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial untuk seleksi toleransi cekaman dan uji antagonisme terhadap patogen. Tahap kedua menggunakan RAL faktorial dua faktor untuk menguji interaksi antara 8 isolat jamur terpilih dan cekaman salinitas (NaCl 0, 100, 200 mM) serta kekeringan (PEG 6000 0, 10, 20%). Parameter yang diamati meliputi biomassa jamur, daya hambat terhadap patogen, vigor indeks, panjang tajuk dan akar, serta bobot basah dan kering tanaman. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf α = 0,05. Sebanyak 35 isolat awal yang diuji, dipilih 8 isolat yang mewakili keragaman performa berdasarkan hasil seleksi toleransi cekaman dan uji antagonis, dengan mempertimbangkan potensi unggul pada salah satu atau kedua kriteria tersebut. Isolat jamur endofit akar (J8, J15, J16, J19, dan J21) serta jamur rizosfer (J3, J5, J6, dan J13) menunjukkan antagonisme tinggi terhadap patogen, sementara isolat lainnya menunjukkan toleransi tinggi terhadap cekaman salinitas dan kekeringan, dengan beberapa isolat memiliki keunggulan pada kedua kriteria sekaligus. Isolat J19 (Penicillium sp., endofit) menunjukkan daya hambat tertinggi (73,18%) terhadap patogen dan performa terbaik secara konsisten pada cekaman moderat (NaCl 100 mM dan PEG 6000 10%), mampu mempertahankan panjang tajuk (6,44 cm) dan bobot kering tajuk (0,0014 g) yang tidak berbeda nyata dengan kontrol tanpa cekaman. Isolat J9 (Fusarium sp., endofit) unggul pada salinitas tinggi (NaCl 200 mM), sedangkan isolat J6 dan J7 (rizosfer) menunjukkan keunggulan spesifik pada cekaman salinitas moderat dan kekeringan. Secara umum, kelompok jamur endofit lebih adaptif terhadap salinitas ekstrem, sementara kelompok rizosfer lebih tahan terhadap cekaman kekeringan berat.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Drought, salinity, and Fusarium wilt disease caused by Fusarium oxysporum f.sp. cepae are major constraints on shallot productivity, while the intensive use of chemical pesticides necessitates safer and more sustainable alternatives such as biological control agents. This study aimed to select endophytic and rhizosphere fungi from saline and dry land plants in East Nusa Tenggara as biocontrol agents against F. oxysporum f.sp. cepae and as biostimulants to enhance shallot tolerance to salinity and drought stress. The experimental research was conducted at LAPTIAB BRIN Serpong Laboratory. The first stage employed a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) for stress tolerance selection and antagonistic tests against the pathogen. The second stage employed a two-factor factorial CRD to examine the interaction between 8 selected fungal isolates and salinity stress (NaCl 0, 100, 200 mM) as well as drought stress (PEG 6000 0, 10, 20%). Parameters observed included fungal biomass, inhibitory activity against the pathogen, vigor index, shoot and root length, and fresh and dry weight of shallot plants. Data were analyzed using ANOVA and Tukey's HSD test at α = 0.05. Of the 35 initial isolates tested, 8 isolates were selected to represent the diversity of performance based on the results of stress tolerance screening and antagonist assays, taking into account superior potential in one or both of these criteria. The root endophytic fungal isolates (J8, J15, J16, J19, and J21) as well as the rhizosphere fungal isolates (J3, J5, J6, and J13) showed high antagonism against the pathogen, while the other isolates exhibited high tolerance to salinity and drought stress, with several isolates showing advantages in both criteria simultaneously. Isolate J19 (Penicillium sp., endophyte) exhibited the highest inhibition rate (73.18%) against the pathogen and consistently performed best under moderate stress (NaCl 100 mM and PEG 6000 10%), maintaining shoot length (6.44 cm) and shoot dry weight (0.0014 g) that were not significantly different from the unstressed control. Isolate J9 (Fusarium sp., endophyte) excelled under high salinity (NaCl 200 mM), while isolates J6 and J7 (rhizosphere) showed specific advantages under moderate salinity and drought stress. In general, the endophytic fungal group was more adaptive to extreme salinity, whereas the rhizosphere group was more tolerant to severe drought stress.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save