Home
Login.
Artikelilmiahs
54788
Update
FARISKA ANGGRIANI
NIM
Judul Artikel
STRUKTUR KOMUNITAS PERIFITON SUNGAI BANJARAN BERDASARKAN JENIS ANTROPOGENIK
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Sungai Banjaran dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas antropogenik, mulai dari kawasan hutan, wisata alam, persawahan dan budi daya ikan, permukiman, hingga kawasan perkotaan yang berpotensi memengaruhi kualitas perairan dan struktur komunitas perifiton. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas air berdasarkan parameter fisik-kimia, struktur komunitas perifiton, serta perbedaan struktur komunitas perifiton berdasarkan jenis aktivitas antropogenik di sepanjang Sungai Banjaran. Penelitian dilaksanakan pada Februari-April 2026 pada lima stasiun yang mewakili jenis aktivitas antropogenik berbeda menggunakan metode purposive sampling. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, Total Suspended Solids (TSS), Total Dissolved Solids (TDS), pH, dan Dissolved Oxygen (DO), yang dibandingkan dengan baku mutu air sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021. Struktur komunitas perifiton dianalisis berdasarkan kerapatan, kelimpahan relatif, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, indeks dominansi Simpson, dan indeks kemiripan Bray-Curtis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Banjaran berdasarkan parameter fisik-kimia secara umum masih memenuhi baku mutu air Kelas III. Komunitas perifiton terdiri atas empat divisi dengan 28 spesies, yaitu Bacillariophyta (14 spesies), Chlorophyta (9 spesies), Cyanophyta (3 spesies), dan Euglenophyta (2 spesies). Bacillariophyta memiliki kelimpahan relatif tertinggi sebesar 68%, diikuti Chlorophyta sebesar 19%, Cyanophyta sebesar 10%, dan Euglenophyta sebesar 4%. Spesies penciri kawasan hutan dan wisata alam adalah Synedra sp. dan Tabellaria sp., sedangkan Navicula sp., Navicula radiosa, dan Nitzschia sp. menjadi spesies penciri pada kawasan persawahan dan budi daya ikan, permukiman, serta perkotaan. Nilai indeks keanekaragaman (H') berkisar 2,614-3,052, dengan kategori tinggi pada Stasiun 1-3 dan sedang pada Stasiun 4-5, sedangkan nilai indeks dominansi (D) berkisar 0,060-0,104 yang menunjukkan tidak terdapat spesies yang mendominasi komunitas perifiton. Analisis Bray-Curtis menunjukkan adanya perbedaan struktur komunitas perifiton berdasarkan jenis aktivitas antropogenik yang ditunjukkan oleh terbentuknya dua kelompok utama. Stasiun 1 dan 2 memiliki tingkat kemiripan sekitar 80%, sedangkan Stasiun 3, 4, dan 5 membentuk kelompok lainnya dengan tingkat kemiripan Stasiun 4 dan 5 sebesar sekitar 82%, sementara kelompok Stasiun 4 dan 5 memiliki kemiripan dengan Stasiun 3 pada tingkat sekitar 66%.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The Banjaran River is subject to various types of anthropogenic activities, ranging from forest areas, natural tourism, rice fields and freshwater fish farming, residential areas, to urban areas, which may affect water quality and periphyton community structure. This study aimed to analyze water quality based on physicochemical parameters, periphyton community structure, and differences in periphyton community structure based on different types of anthropogenic activities along the Banjaran River. The study was conducted from February to April 2026 at five sampling stations representing different types of anthropogenic activities using purposive sampling. The water quality parameters measured included temperature, Total Suspended Solids (TSS), Total Dissolved Solids (TDS), pH, and Dissolved Oxygen (DO), which were compared with the water quality standards according to Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 22 of 2021. Periphyton community structure was analyzed based on density, relative abundance, the Shannon-Wiener diversity index, Simpson dominance index, and Bray-Curtis similarity index. The results showed that the physicochemical water quality of the Banjaran River generally met the Class III water quality standards. The periphyton community consisted of four divisions comprising 28 species, namely Bacillariophyta (14 species), Chlorophyta (9 species), Cyanophyta (3 species), and Euglenophyta (2 species). Bacillariophyta had the highest relative abundance (68%), followed by Chlorophyta (19%), Cyanophyta (10%), and Euglenophyta (4%). The indicator species for forest and natural tourism areas were Synedra sp. and Tabellaria sp., whereas Navicula sp., Navicula radiosa, and Nitzschia sp. were indicator species for rice field and freshwater fish farming areas, residential areas, and urban areas. The Shannon-Wiener diversity index (H') ranged from 2.614 to 3.052, indicating high diversity at Stations 1-3 and moderate diversity at Stations 4-5. The dominance index (D) ranged from 0.060 to 0.104, indicating that no single species dominated the periphyton community. Bray-Curtis analysis revealed differences in periphyton community structure based on different types of anthropogenic activities, as indicated by the formation of two main groups. Stations 1 and 2 showed approximately 80% similarity, while Stations 3, 4, and 5 formed another group. Stations 4 and 5 showed approximately 82% similarity, while the group comprising Stations 4 and 5 showed approximately 66% similarity with Station 3.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save