Home
Login.
Artikelilmiahs
54666
Update
RHESTYA AYU AURELIA
NIM
Judul Artikel
Determinan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja di SLTA/Sederajat Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang: Perilaku seksual berisiko pada remaja dapat menyebabkan kehamilan tidak diinginkan, penyakit menular seksual, dan putus sekolah. Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo mencatat 334 kasus perkawinan usia anak di bawah 19 tahun di Kabupaten Wonosobo dengan Kecamatan Sapuran menjadi kecamatan yang paling tinggi yaitu 48 kasus. Perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor individu maupun faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku seksual berisiko pada remaja di SLTA/sederajat Kecamatan Sapuran. Metodologi: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 264 remaja yang dipilih menggunakan proportional random sampling. Variabel bebas meliputi pengetahuan, pengalaman berpacaran, literasi media, peran teman sebaya, orang tua, dan guru. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil Penelitian: Literasi media menjadi faktor paling berpengaruh terhadap perilaku seksual berisiko (p-value=0,001; POR=2,816; 95% CI=1,544–5,136). Faktor yang tidak berpengaruh terhadap perilaku seksual berisiko yaitu pengetahuan remaja, pengalaman berpacaran remaja, peran teman sebaya, peran orang tua, dan peran guru. Kesimpulan: Literasi media merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja di SLTA/sederajat Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo. Upaya pencegahan perilaku seksual berisiko perlu dilakukan melalui peningkatan literasi digital, penguatan pendidikan kesehatan reproduksi, optimalisasi peran keluarga dan sekolah, serta pengawasan terhadap akses remaja terhadap media digital.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background: Risky sexual behavior among adolescents can lead to unwanted pregnancies, sexually transmitted infections, and school dropout. The Wonosobo Regency Ministry of Religious Affairs recorded 334 cases of child marriage under 19 years of age in Wonosobo Regency, with Sapuran District having the highest incidence of 48 cases. This behavior can be influenced by both individual and environmental factors. This study aimed to determine the determinants of risky sexual behavior among adolescents in high school (STA) and equivalent schools in Sapuran District. Methodology: This quantitative study used a cross-sectional design involving 264 adolescents selected using proportional random sampling. The independent variables included knowledge, dating experience, media literacy, the role of peers, parents, and teachers. Univariate, bivariate, and multivariate analyses were conducted. Results: Media literacy was the most influential factor on risky sexual behavior (p-value = 0.001; POR = 2.816; 95% CI = 1.544–5.136). Factors that did not influence risky sexual behavior were adolescent knowledge, adolescent dating experience, the role of peers, the role of parents, and the role of teachers. Conclusion: Media literacy is the most influential factor influencing risky sexual behavior among adolescents in high school/equivalent schools in Sapuran District, Wonosobo Regency. Efforts to prevent risky sexual behavior need to be implemented through increasing digital literacy, strengthening reproductive health education, optimizing the roles of families and schools, and monitoring adolescents' access to digital media.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save