Home
Login.
Artikelilmiahs
54502
Update
DENI RAMADHANA
NIM
Judul Artikel
Faktor-Faktor Sosial yang Mempengaruhi Persepsi Petani Terhadap Sistem Tebas Panen pada Komoditas Nanas Madu di Desa Siwarak
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Usahatani nanas madu di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu sumber pendapatan utama masyarakat. Dalam pemasaran hasil panen, sebagian besar petani masih menggunakan sistem tebas panen, yaitu menjual hasil panen kepada penebas sebelum proses panen dilakukan. Sistem ini dipandang lebih praktis, efisien, serta memberikan kepastian penerimaan hasil yang lebih cepat. Persepsi petani terhadap penggunaan sistem tebas panen tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi, tetapi juga oleh faktor-faktor sosial yang berkembang dalam lingkungan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik petani serta pola pelaksanaan sistem tebas panen pada usahatani nanas madu di Desa Siwarak; dan (2) menganalisis faktor-faktor sosial yang memengaruhi persepsi petani terhadap penggunaan sistem tebas panen. Penelitian dilaksanakan di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga pada bulan September 2025 sampai Maret 2026. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 70 petani nanas madu yang menjual hasil panennya melalui sistem tebas panen. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, dokumentasi, dan studi pustaka. Variabel yang dianalisis meliputi pengalaman bertani, kepercayaan kepada penebas, hubungan sosial dengan penebas, dan kebiasaan sebagai variabel independen, serta persepsi petani terhadap penggunaan sistem tebas panen sebagai variabel dependen. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif dan regresi linier berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik petani nanas madu di Desa Siwarak didominasi oleh petani berusia 50–59 tahun, berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan terakhir sekolah dasar, memiliki pengalaman bertani selama 5–10 tahun, memiliki tanggungan keluarga kurang dari lima orang, dan mengusahakan lahan milik sendiri. Pola pelaksanaan sistem tebas panen dilakukan dengan menjual hasil panen nanas madu kepada penebas sebelum panen sehingga proses pemanenan, pengangkutan, dan pemasaran menjadi tanggung jawab penebas. Pengalaman bertani, kepercayaan kepada penebas, hubungan sosial dengan penebas, dan kebiasaan merupakan faktor-faktor sosial yang membentuk persepsi petani terhadap penggunaan sistem tebas panen. Di antara keempat faktor tersebut, kebiasaan menjadi faktor yang paling dominan dalam membentuk persepsi petani. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi petani terhadap penggunaan sistem tebas panen tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi, tetapi juga oleh pengalaman, hubungan sosial, tingkat kepercayaan, dan kebiasaan yang berkembang dalam lingkungan masyarakat.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Honey pineapple farming in Siwarak Village, Karangreja District, Purbalingga Regency, is one of the main sources of income for the local community. In marketing their harvest, most farmers still use the tebas panen system, which involves selling the harvest to middlemen before the harvesting process takes place. This system is considered more practical, efficient, and able to provide faster certainty of income. Farmers’ perceptions of the use of the tebas panen system are influenced not only by economic considerations but also by social factors developing within the community. This study aimed to: (1) identify the characteristics of farmers and the implementation pattern of the tebas panen system in honey pineapple farming in Siwarak Village; and (2) analyze the social factors influencing farmers’ perceptions of the use of the tebas panen system. The research was conducted in Siwarak Village, Karangreja District, Purbalingga Regency, from September 2025 to March 2026. This study employed a case study method with a quantitative approach. Respondents were selected using purposive sampling, involving 70 honey pineapple farmers who sold their harvest through the tebas panen system. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, documentation, and literature review. The variables analyzed consisted of farming experience, trust in middlemen, social relationships with middlemen, and habits as independent variables, while farmers’ perceptions of the use of the tebas panen system served as the dependent variable. Data were analyzed using descriptive analysis and multiple linear regression with the assistance of SPSS software. The results showed that honey pineapple farmers in Siwarak Village were predominantly aged 50–59 years, male, had completed elementary school education, had 5–10 years of farming experience, had fewer than five family dependents, and cultivated their own land. The tebas panen system was implemented by selling the honey pineapple harvest to middlemen before harvesting, with the subsequent harvesting, transportation, and marketing processes becoming the responsibility of the middlemen. Farming experience, trust in middlemen, social relationships with middlemen, and habits were identified as social factors shaping farmers’ perceptions of the use of the tebas panen system. Among these four factors, habit was the most dominant factor in shaping farmers’ perceptions. These findings indicate that farmers’ perceptions of the use of the tebas panen system are influenced not only by economic considerations but also by farming experience, social relationships, trust, and habits that have developed within the community.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save