Home
Login.
Artikelilmiahs
54226
Update
DIANA PUTRI SURYANINGSIH
NIM
Judul Artikel
Studi tentang Pengaruh 2,4-D dan BAP pada Induksi dan Multiplikasi Kalus Padi Varietas Inpago Unsoed 1
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama di Indonesia yang berperan penting dalam ketahanan pangan nasional. Penurunan produktivitas padi secara nasional dan keterbatasan teknik perbanyakan konvensional yang memerlukan waktu lama dan bergantung pada musim menjadi tantangan dalam pengembangan varietas unggul. Inpago Unsoed 1 merupakan salah satu varietas unggul padi gogo yang memiliki potensi hasil tinggi, tekstur nasi pulen, dan aroma wangi. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan pengembangan bibit padi adalah melalui teknik kultur in vitro, khususnya melalui kultur kalus. Keberhasilan pembentukan kalus dalam kultur in vitro sangat dipengaruhi oleh penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang mengendalikan proses dediferensiasi, pembelahan, dan proliferasi sel. ZPT yang banyak digunakan dalam kultur in vitro di antaranya adalah 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) dan 6-Benzylaminopurine (BAP). Kedua ZPT ini secara sinergis berperan merangsang pembelahan dan proliferasi sel dalam pembentukan kalus. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk menguji pengaruh 2,4-D dan BAP pada induksi dan multiplikasi kalus padi varietas Inpago Unsoed 1 dalam kultur in vitro dan menentukan konsentrasi 2,4-D dan BAP terbaik untuk induksi dan multiplikasi kalus padi varietas Inpago Unsoed 1 dalam kultur in vitro. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola perlakuan faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi 2,4-D dengan 4 taraf, yaitu 0; 4,5; 9; dan 13,5 µM, sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi BAP dengan 4 taraf, yaitu 0; 0,4; 0,8; dan 1,2 µM. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Variabel bebas yang dicobakan adalah konsentrasi 2,4-D dan BAP. Variabel terikat yang diamati adalah induksi dan multiplikasi kalus. Parameter yang diukur adalah waktu muncul kalus, persentase pembentukan kalus, diameter kalus hasil induksi, diameter kalus hasil multiplikasi dan tipe kalus. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% dan 1%, dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf signifikansi 5%, dan dan uji regresi pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara konsentrasi 2,4-D dan BAP terhadap induksi dan multiplikasi kalus padi varietas Inpago Unsoed 1 secara in vitro. Kombinasi 2 mg/L (9 µM) 2,4-D dan 0,1 mg/L (0,4 µM) BAP merupakan perlakuan terbaik untuk induksi dan multiplikasi kalus padi varietas Inpago Unsoed 1 secara in vitro karena menghasilkan 100% kalus embriogenik.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Rice (Oryza sativa L.) is a major food commodity in Indonesia that plays a vital role in national food security. However, the decline in national rice productivity, as well as the limitations of conventional propagation techniques, which are time-consuming and season-dependent, pose challenges in the development of high-yielding varieties. One of the high-yielding upland rice varieties is Inpago Unsoed 1, which has high yield potential, a soft and fluffy texture, and a fragrant aroma. One approach to addressing propagation issues is through in vitro culture techniques, particularly via callus culture. The success of callus formation in in vitro culture is highly influenced by the use of plant growth regulators (PGRs), which control the dedifferentiation, cell division, and proliferation processes in plants. Plant growth regulators commonly used in in vitro culture include 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) and 6-Benzylaminopurine (BAP). These two growth regulators work synergistically to stimulate cell division and proliferation during callus formation. This study has been conducted to examine the effects of 2,4-D and BAP on the induction and multiplication of the Inpago Unsoed 1 rice callus in in vitro culture, and to determine the best concentrations of 2,4-D and BAP for the induction and multiplication of the Inpago Unsoed 1 rice callus in in vitro culture. This study was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD) with a two-factor factorial treatment pattern. The first factor was the concentration of 2,4-D with four levels: 0, 4.5, 9, and 13.5 µM, while the second factor was the concentration of BAP with four levels: 0, 0.4, 0.8, and 1.2. Each treatment combination was replicated three times, resulting in 48 experimental units. Variabel bebas yang dicobakan adalah konsentrasi 2,4-D dan BAP. The independent variables tested included 2,4-D and BAP concentrations. The dependent variables observed were callus induction and multiplication. The measured parameters included callus emergence time, callus formation percentage, the diameter of callus resulting from both induction and multiplication stages, as well as callus types. Variabel terikat yang diamati adalah induksi dan multiplikasi kalus. Parameter yang diukur adalah waktu muncul kalus, persentase pembentukan kalus, diameter kalus hasil induksi, diameter kalus hasil multiplikasi dan tipe kalus. The research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan’s test at the 5% significance level, and a regression test at a significance level of 5%. The results of this study demonstrated that no significant interaction between 2,4-D and BAP concentrations was observed in the in vitro induction and multiplication of callus from the Inpago Unsoed 1 rice cultivar. Nevertheless, the combination of 2 mg L⁻¹ (9 µM) 2,4-D and 0.1 mg L⁻¹ (0.4 µM) BAP was identified as the optimum treatment for in vitro callus induction and multiplication, as it resulted in 100% embryogenic callus formation.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save