Home
Login.
Artikelilmiahs
54128
Update
MUHAMMAD AKMAL ALFAJRI
NIM
Judul Artikel
PEMODELAN TRAJEKTORI SAMPAH PLASTIK MAKRO DI PERAIRAN KUTAWARU, CILACAP MENGGUNAKAN DELFT3D
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Sampah plastik makro menjadi permasalahan serius di Perairan Kutawaru, Cilacap. Penelitian ini memodelkan pola pergerakannya serta mengidentifikasi faktor dominan distribusi menggunakan Delft3D. Validasi dilakukan dengan membandingkan trajektori simulasi terhadap tiga sampel prototype, dilengkapi algoritma pemotongan otomatis (<0,5 m) untuk menghilangkan bias data statis. Akurasi diuji melalui RMSE, selisih sudut arah (Δθ), dan rasio panjang lintasan (R). Arus pasang surut menunjukkan karakteristik osilatif dengan kontribusi kecil terhadap perpindahan horizontal, sementara angin dari Barat Daya (225°) kecepatan 5,7–8,8 m/s dan frekuensi 53–67% menjadi penggerak utama. Trajektori partikel konsisten menuju Timur Laut mengikuti vektor angin, dengan aliran dari hilir memiliki kecepatan yang lebih besar dan variatif dari pada dorongan air dari hulu. Pasca-pemotongan (Botol 1: 517, Botol 2: 367, Botol 3: 476 titik), skenario windage 5% memberikan RMSE terkecil (131,29 m, 66,21 m, 114,09 m), Δθ minimum, dan R lebih dari 1. Skenario windage 10% yang semestinya menghasilkan lintasan lebih halus dan terarah, justru menunjukan yang sebaliknya melihat dari hasil perhitungan statistika. Berdasarkan simulasi, windage diasumsikan sebagai faktor utama distribusi sampah, sehingga kalibrasi windage penting untuk akurasi pemodelan. Penelitian lanjutan disarankan mengintegrasikan data angin real-time dan modul shoreline stranding di area mangrove.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Macro plastic litter is a serious issue in the waters off Kutawaru, Cilacap. This study modelled its movement patterns and identified key distribution drivers using Delft3D. Validation compared simulated trajectories with three prototype samples, using an automatic clipping algorithm (<0.5 m) to remove static data bias. Accuracy was tested via RMSE, directional angle difference (Δθ), and path length ratio (R). Tidal currents showed oscillatory characteristics with minor horizontal displacement, while southwesterly winds (225°, 5.7–8.8 m/s, 53–67% frequency) were the primary driving force. Particle trajectories consistently moved northeast following the wind vector, with downstream flow exhibiting greater and more variable velocities than upstream push. After data truncation (Bottle 1: 517, Bottle 2: 367, Bottle 3: 476 points), the 5% windage scenario yielded the lowest RMSE (131.29, 66.21, 114.09 m), minimum Δθ, and R>1. The 10% windage scenario, expected to produce smoother trajectories, surprisingly showed the opposite based on statistical results. Windage is thus assumed as the main factor in litter distribution, making its calibration crucial for modelling accuracy. Further research is recommended to integrate real-time wind data and a shoreline stranding module in mangrove areas.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save