Home
Login.
Artikelilmiahs
5325
Update
BAMBANG TRIHADI WIBOWO
NIM
Judul Artikel
PENGARUH GRADASI SEDIMEN TERHADAP POLA DAN KEDALAMAN GERUSAN DI SEKITAR PILAR JEMBATAN
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Sungai merupakan saluran drainase yang terbentuk secara alami, setiap sungai mempunyai sedimen dasar (bed load) berbeda-beda. Aliran air pada sungai dengan dasar bergerak memiliki kemungkinan terhadap gerak sedimen dapat berupa erosi dan deposisi. Data sedimen diperlukan untuk perencanaan jembatan. Rusaknya suatu struktur jembatan bukan hanya disebabkan oleh faktor konstruksi saja, namun gerusan lokal (local scouring) juga bisa menyebabkan terjadinya degradasi konstruksi berakibat pada ketidakstabilan struktur maupun keruntuhan struktur pilar jembatan. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai salah satu masukan bagi para konsultan perencana dalam kaitannya dengan perencanaan jembatan, khususnya dalam menaikkan tingkat keamanan konstruksi pilar jembatan terhadap gerusan local. Penelitian menggunakan metode eksperimen di Laboratorium Universitas Jenderal Soedirman. Dari hasil penelitian didapat sedimen (bed load) Sungai Ciwulan memiliki berat jenis spesifik yang paling tinggi yaitu 2,85 diikuti dengan Sungai Ciyanduy 2,83 dan Sungai Serayu 2,80. Berdasarkan ASTM D-2487-98, AGU (American Geosphysical Union) dan Folk Ward (1957) nilai Cu dan Cc sungai Citanduy dan Ciwulan termasuk Poorly-Graded Sand atau pasir bergradasi jelek sedangkan sungai Serayu termasuk Well-Graded Sand atau pasir dengan gradasi bagus. Kedalaman gerusan maksimum dengan sampel sedimen (bed load) Sungai Citanduy 0,5 cm, Sungai Ciwulan 0,4 cm dan Sungai Serayu 0,6 cm. Terdapat hubungan yang erat antara gradasi sedimen dengan kedalaman gerusan lokal pada pilar lenticular. Sehingga pola dan kedalaman gerusan sangat dipengaruhi oleh ukuran butir, keseragaman butir, koefisien keseragaman dan koefisien gradasi sedimen (bed load). Semakin tinggi nilai koefisien keseragaman dan koefisien gradasi maka resiko gerusan lokal pada pilar akan semakin besar, dan kedalaman gerusan yang dihasilkan akan semakin dalam. Pola yang diberikan dari ketiga sampel sedimen mempunyai pola yang mirip dan cenderung simetris. Adanya suatu penumpukan sedimen pada bagian belakang pilar diakibatkan oleh sedimen yang bergerak berasal dari hulu menuju sisi pilar dan menumpuk di belakang pilar.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The river is a drainage channel that is formed naturally, every river have different bed load sediments. Water flow on the river with the basic moves have the possibility to move sediment. Sediment movement can be erosion and deposition. Sediment motion will not only change but also change the flow of the river/canal that high elevation base, slope of grain constituent and roughness of constituent grain bottom of the river/canal. Sediment data needed for planning the bridge. Damage to a bridge structure is not only caused by construction factors, but scours can also cause construction degradation resulting in structural instability and collapse of the pillars of the bridge structure. Scour that occurs due to a building named as local scour. The results can be used as an input for the planning consultants in relation to the planning of the bridge, specifically in raising the security level of the bridge construction pillar of local scour. Research using experimental methods at University Laboratory of General Sudirman. From the results obtained bed load sediment Ciwulan River has a specific gravity of 2,85 is the highest followed by the River Ciyanduy 2,83 and Serayu River 2,80. Based on ASTM D-2487-98, AGU (American Geosphysical Union) and Folk Ward (1957) Cu and Cc values Citanduy river and Ciwulan including Poorly-Graded Sand river while Serayu including Well-Graded Sand. The maximum scour depth with sediment samples (bed load) River Citanduy 0.5 cm, Ciwulan River 0.4 cm and River Serayu 0.6 cm. There is a strong relationship between the sediment gradation on local scour depth lenticular pillars. So the pattern and depth of scour is strongly influenced by the grain size, uniformity of grain, coefficient of uniformity and coefficient of gradation of bed load sediment. The higher the coefficient of uniformity and coefficient of gradation, the risk of scours on the pillars will be even greater. The resulting scour depth will be deep. Given pattern of three sediment samples have similar patterns and tend symmetrical. The existence of a buildup of sediment on the rear pillar caused by moving sediment from the upstream side of the pillar to the rear pillar and accumulate.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save