Home
Login.
Artikelilmiahs
52189
Update
CLAUDIA ASHA BRAMINTA
NIM
Judul Artikel
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI REBUSAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza) DENGAN FERMENTASI MENGGUNAKAN Saccharomyces cerevisiae SECARA IN VITRO
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman herbal Indonesia yang kaya akan senyawa flavonoid dan fenolik dengan potensi antioksidan dan antibakteri. Fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae diketahui mampu meningkatkan aktivitas biologis bahan herbal melalui biotransformasi senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aktivitas antioksidan dan antibakteri rebusan temulawak dengan dan tanpa fermentasi ragi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental secara in vitro. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH dan dinyatakan sebagai nilai IC50. Aktivitas antibakteri diuji dengan metode difusi cakram terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Setiap perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali replikasi. Data dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dan Levene, kemudian dilanjutkan dengan uji Indpendent t-test atau MannWhitney U pada taraf signifikansi 0,05. Fermentasi menurunkan nilai IC50 rebusan temulawak dari 5,57 ± 0,29% menjadi 4,99 ± 0,10% (b/v) yang menunjukkan kecenderungan peningkatan aktivitas antioksidan, namun tidak berbeda signifikan secara statistik. Aktivitas antibakteri menunjukkan peningkatan diameter zona hambat terhadap E. coli (0.13 mm) dan S. aureus (0.43 mm) pada sampel dengan fermentasi ragi, tetapi tidak menunjukkan aktivitas terhadap B. cereus. Seluruh perbedaan yang diperoleh tidak signifikan secara statistik.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Curcuma xanthorrhiza is an Indonesian herbal plant rich in flavonoid and fenolic compounds with antioxidant and antibacterial potential. Fermentation using Saccharomyces cerevisiae may enhance biological activity through biotranformation of active constituents. This study aimed to compare the antioxidant and antibacterial activities of Curcuma xanthorrhiza decoction with and without yeast. This study was an in vitro experimental research. Antioxidant activity was determined using the DPPH method and expressed as IC50 values. Antibacterial activity was evaluated by the disc diffusion method against Escherichia coli, Staphylococcus aureus, and Bacillus cereus. Each treatment was carried out three times in replication. Data were analyzed using Shapiro-Wilk and Levene test, followed by Independent t-test or Mann-Whitney U test at a significance level of 0.05. Fermentation reduced the IC50 value from 5.57 ± 0.29% to 4.99 ± 0.10% (w/v), indicating a tendency to increase antioxidant activity, although the difference was not statistically significant. Antibacterial activity showed increased inhibition zones against E. coli (0.13 mm) and S. aureus (0.43 mm) in sample with yeast fermentation, but no activity against B. cereus. All differences were not statistically significant.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save