Home
Login.
Artikelilmiahs
52075
Update
SYAFRIDA DWI APRIYANTI
NIM
Judul Artikel
Pendekatan Analytical Hierarchy Process dalam Analisis Peta Mikrozonasi Bahaya Gempabumi di Kota Bandung dan Cimahi sebagai Upaya Mitigasi Bencana
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat zona bahaya gempabumi di Kota Bandung dan Cimahi melalui kajian mikrozonasi. Data mikrotremor diolah menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR). Metode ini digunakan untuk memperoleh frekuensi dominan (f0), faktor amplifikasi (A0), indeks kerentanan seismik (Kg), dan kecepatan gelombang geser rata-rata 30 meter (Vs30). Parameter tersebut dikombinasikan dengan kemiringan lereng, nilai Peak Ground Acceleration batuan dasar dan permukaan, nilai Ground Shear Strain (γ), serta kepadatan penduduk dan bangunan sebagai indikator exposure. Kontribusi masing-masing parameter ditentukan menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah studi terbagi menjadi tiga zona bahaya, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Zona rendah didominasi area dengan amplifikasi kecil daan dihuni sekitar 658.048 jiwa penduduk dan 90.450 unit bangunan. Zona sedang mencakup sebagaian besar wilayah penelitian, dengan 2.185.145 jiwa penduduk dan 252.402 unit bangunan, menunjukkan kombinasi kerentanan geologi dan exposure yang tinggi. Zona tinggi berada pada area dengan nilai amplifikasi besar dan dihuni 55.809 jiwa penduduk dan 4.623 unit bangunan, sehingga memiliki potensi dampak kerusakan tertinggi. Variasi respon tanah yang dipengaruhi kuat oleh faktor amplifikasi dengan bobot AHP 48,2 %. Temuan ini menunjukkan bahwa kajian mikrozonasi bahaya gempabumi berkontribusi sebagai dasar dalam upaya mitigasi dan perencanaan tata ruang di masa mendatang.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study aims to analyze the level of earthquake hazard zones in the cities of Bandung and Cimahi through microzonation studies. Microtremor data were processed using the Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method. This method was used to obtain the dominant frequency (f0), amplification factor (A0), seismic vulnerability index (Kg), and average shear wave velocity at 30 meters (Vs30). These parameters were combined with slope inclination, Peak Ground Acceleration values of bedrock and surface, Ground Shear Strain (γ) values, and population and building density as exposure indicators. The contribution of each parameter was determined using the Analytical Hierarchy Process (AHP) approach. The results showed that the study area was divided into three hazard zones, namely low, medium, and high. The low zone is dominated by areas with small amplification and is inhabited by approximately 658.048 people and 90.450 buildings. The medium zone covers most of the study area, with 2.185.145 people and 252.402 buildings, indicating a combination of high geological vulnerability and exposure. The high zone is located in an area with high amplification values and is inhabited by 55.809 residents and 4.623 buildings, thus having the highest potential for damage. Soil response variation is strongly influenced by amplification factors with an AHP weight of 48.2%. These findings indicate that earthquake hazard microzonation studies contribute to future mitigation and spatial planning efforts.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save