Home
Login.
Artikelilmiahs
52040
Update
APSARI KUMALAJATI
NIM
Judul Artikel
Effect of Ketosis on Reproductive Efficiency and Delayed Conception in Friesian Holstein Heifers
Abstrak (Bhs. Indonesia)
ABSTRAK Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah ketosis selama laktasi awal berkorelasi dengan efisiensi reproduksi yang rendah pada sapi perah Friesian Holstein di peternakan sapi perah tropis. Sebuah kasus yang diakui secara internasional, sekelompok 38 sapi perah berusia 24-36 bulan dari peternakan sapi perah di peternakan pemerintah di Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, diikuti secara prospektif. Metode: Pada hari ke-7-30 pasca melahirkan, kadar BHBA diukur menggunakan alat pengukur keton portabel yang telah divalidasi yang beroperasi berdasarkan prinsip enzim elektrokimia dan hewan dikelompokkan menjadi standar (1,2 mmol/300 ml), ketosis subklinis (1,2-2,9 mmol/300 ml) dan ketosis klinis (3,0 mmol/300 ml) berdasarkan hasilnya. Hasil yang diukur dalam reproduksi adalah tingkat konsepsi (CR), layanan/konsepsi (SC) dan hari hingga konsepsi (DC), yang diperoleh dari catatan inseminasi dan kehamilan. Hasil: Prevalensi ketosis subklinis dan klinis masing-masing adalah 36,8% dan 15,8%, sehingga total prevalensi ketosis adalah 52,6%. Tingkat kehamilan menurun seiring dengan meningkatnya keparahan ketosis (77,8% pada normal, 35,7% pada subklinis, 16,7% pada klinis) dan sapi betina muda dengan BHBA normal menunjukkan kinerja reproduksi yang jauh lebih baik (SC 1,5±0,5; DC 95±12 hari) dibandingkan hewan yang mengalami ketosis (klinis: SC 3,4±0,9; DC 163±21 hari; p<0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan BHBA pada awal laktasi sangat terkait dengan gangguan kesuburan pada sapi betina muda pengganti, mendukung perlunya pemantauan BHBA secara teratur dan nutrisi yang optimal untuk mengurangi kerugian reproduksi terkait ketosis.
Abtrak (Bhs. Inggris)
ABSTRACT Background: This study aimed to determine whether ketosis during early lactation correlates with low reproductive efficiency in Friesian Holstein-fitted heifers on tropical dairy farms. An internationally acclaimed case, a group of 38 heifers aged 24-36 months from a dairy farm in a government farm in Banyumas, Central Java, Indonesia, was prospectively followed. Methods: On day 7-30 postpartum, the BHBA levels were measured using a validated portable ketone meter operating on an electrochemical enzymatic principle and the animals were grouped into a standard (1.2 mmol/ 300 ml), subclinical ketosis (1.2-2.9 mmol/300 ml) and a clinical ketosis (3.0 mmol/300 ml) based on the results. The outcomes measured in reproduction were conception rate (CR), services/conception (SC) and days to conception (DC), obtained from records of insemination and pregnancy. Result: Subclinical and clinical ketosis prevalences were 36.8% and 15.8%, giving a total ketosis prevalence of 52.6%. Pregnancy rate declined with increasing ketosis severity (77.8% in normal, 35.7% in subclinical, 16.7% in clinical) and heifers with normal BHBA showed markedly better reproductive performance (SC 1.5±0.5; DC 95±12 days) than ketotic animals (clinical: SC 3.4±0.9; DC 163±21 days; p<0.01). These findings indicate that elevated BHBA in early lactation is strongly associated with impaired fertility in replacement heifers, supporting the need for regular BHBA monitoring and optimized nutrition to reduce ketosis-related reproductive losses.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save