Home
Login.
Artikelilmiahs
5165
Update
YULINAR RIZQI AKBAR
NIM
Judul Artikel
Makna Tradisi Rangkaian Upacara Kematian (Sedhekahan) Bagi Masyarakat Desa Pangempon Kecamatan Kejobong Kabupaten Purbalingga
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian berjudul “Makna Tradisi Rangkaian Upacara Kematian (sedhekahan) Bagi Masyarakat Desa Pangempon Kecamatan Kejobong Kabupaten Purbalingga” bertujuan untuk mengetahui makna dari tradisi ini bagi masyarakat, kemudian mengetahui sikap masyarakat terhadap tradisi ini, dan mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakat tetap menjunjung tinggi tradisi ini meskipun sebagian masyarakat memiliki keterbatasan secara ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Sasaran penelitian ini yaitu tokoh masyarakat seperti sesepuh, budayawan, dan warga masyarakat Desa Pangempon. Data diperoleh melalui wawancara dengan informan dan observasi. Metode yang digunakan melalui pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi ini memiliki makna-makna di dalam keseluruhan prosesinya yaitu sebagai penghormatan kepada almarhum, sebagai keselamatan bagi almarhum maupun bagi kita semua yang mendoakan, dan sebagai pengingat bahwa kita semua akan mengalami kematian. Masyarakat hingga saat ini masih menjunjung tinggi tradisi ini dengan keterbatasan ekonomi. Masyarakat desa ini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, sedangkan penyelenggaraan tradisi ini membutuhkan biaya yang cukup banyak. Masyarakat menyikapinya dengan mengandalkan bantuan/pinjaman dari tetangga karena sistem kekerabatan antar warga desa ini sangat erat. Tradisi sedhekahan tetap dipertahankan karena warga merasa dosa jika tidak memperingatinya, adanya perbedaan derajat antara manusia dengan hewan maka kematian manusia tidak bisa disamakan dengan hewan yang hanya dikuburkan saja, kemudian adanya istilah Jawa “njunjung dhuwur mandhem jero” yang artinya harus menjaga dengan baik amanat nenek moyang. Harus ada suatu pemahaman yang mendalam tentang Islam, bahwa Islam sebenarnya tidak mengajarkan adanya sedhekahan. Namun karena telah melekat sebagai tradisi maka sebaiknya dilaksanakan saja tetapi dihilangkan unsur-unsur dari tradisi Hindu seperti pembakaran kemenyan, air bunga, dan juga sesaji. Tradisi ini pun dapat diselenggarakan dengan cara yang sederhana tanpa mengurangi makna sebenarnya dari tradisi ini. Sehingga tidak menjadi suatu beban lagi bagi warga yang terkena musibah.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The study entitled "The Meaning of Death Tradition ritual Series (sedhekahan) For Rural Community Pangempon Sub District Kejobong Purbalingga Regency" aims to find out the meaning of the tradition for the community, then find out how the community in addressing this tradition, and knowing the factors which are the background of the community who still uphold the tradition even though some communities are difficult to do it because of their low economy. This research uses descriptive qualitative research methods. The target of this research that is of public figures such as elders, humanist, and the people of Pangempon village community. Data obtained through interviews with informants and observations. The method used is by taking sampling as in purposive sampling. Analysis technique used is interactive analysis model. The results of this study concluded that the tradition has meanings in whole procession. Community still uphold this tradition with economic limitations. Most of this rural communities lives as farmers, whereas the maintenance of this tradition requires substantial costs. They try so hard to hold this tradition, so they ask for help from their neighbour as they have a very good neighbourhood relation. This tradition is a cultural inheritance from their ancestors who must be cared for and preserved, especially the Pangempon village community itself because the intent and purpose of this tradition merely for goodness. But the arrangement of the tradition should be adapted to the economic conditions of each citizen. Actually this ceremony can be simply held without reducing the actual meaning of this tradition.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save