Home
Login.
Artikelilmiahs
51024
Update
SUBANA
NIM
Judul Artikel
ANALISIS LAJU DEFORESTASI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN HHBK- PENYADAPAN GETAH PINUS TERHADAP PERLINDUNGAN HUTAN DI KEC. SUMARORONG KAB. MAMASA PROVINSI SULAWESI BARAT
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya tekanan terhadap tutupan hutan di Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa. Situasi tersebut mendorong perlunya pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), khususnya penyadapan getah pinus. Aktivitas penyadapan diperkirakan tidak hanya memberikan pemasukan ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga berperan sebagai mekanisme sosial yang membantu menekan laju kehilangan hutan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini diarahkan untuk: (1) melihat perubahan tutupan lahan sebelum dan setelah adanya kegiatan penyadapan, (2) menilai sejauh mana peran partisipasi masyarakat dalam menjaga dan melindungi hutan, serta (3) merumuskan rekomendasi kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan yang berbasis komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-methods, yakni menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan melalui pengolahan citra satelit Landsat tahun 2011–2023 menggunakan ArcGIS dan Google Earth Engine untuk melihat perubahan tutupan hutan. Sementara itu, analisis kualitatif diperoleh dari wawancara dan kuesioner yang diberikan kepada penyadap guna memahami tingkat partisipasi dan peran masyarakat dalam kegiatan penyadapan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa desa-desa yang menjalankan penyadapan seperti Sasakan, Sibanawa, dan Batanguru mengalami peningkatan tutupan hutan setelah tahun 2017. Peningkatan ini sejalan dengan kegiatan penyadapan yang semakin tertata. Berbeda halnya dengan desa tanpa penyadapan, yaitu Rantekamase dan Salubalo, yang menunjukkan tren penurunan tutupan hutan. Temuan ini diperkuat oleh tingginya partisipasi masyarakat penyadap, yang tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga menunjukkan kepedulian ekologis dan aktivitas pengawasan hutan yang lebih intensif. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penyadapan getah pinus mampu berfungsi sebagai strategi konservasi yang melibatkan masyarakat secara langsung. Kegiatan ini terbukti dapat menekan deforestasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan demikian, pemanfaatan HHBK secara partisipatif menjadi model pengelolaan hutan yang potensial untuk diterapkan di Sumarorong maupun wilayah lain dengan kondisi serupa.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research is motivated by the increasing pressure on forest cover in Sumarorong Subdistrict, Mamasa Regency, which highlights the need for community-based approaches to forest conservation through the utilization of non-timber forest products (NTFPs), particularly pine resin tapping. Pine tapping is assumed to provide not only economic benefits but also a social mechanism that helps reduce forest loss. Therefore, this study aims to: (1) analyze changes in land cover before and after the implementation of resin tapping activities, (2) assess the contribution of community participation to forest protection efforts, and (3) formulate policy recommendations for sustainable, community-based forest management. A mixed-methods approach was employed by integrating quantitative and qualitative analyses. Quantitative analysis was carried out using Landsat satellite imagery from 2011–2023, processed through ArcGIS and Google Earth Engine to examine forest cover dynamics. Qualitative data were obtained through interviews and questionnaires administered to pine tappers to understand their level of participation and their role in forest protection. The findings indicate that villages practicing resin tapping Sasakan, Sibanawa, and Batanguru experienced an increase in forest cover after 2017, coinciding with the more structured implementation of tapping activities. In contrast, non-tapping villages such as Rantekamase and Salubalo consistently exhibited declining forest cover. These results are reinforced by high community participation among tappers, who not only benefit economically but also demonstrate ecological awareness and active involvement in forest monitoring. Overall, the study concludes that pine resin tapping functions as an effective community-based conservation strategy. The activity has proven capable of reducing deforestation while improving local household livelihoods. Thus, participatory NTFP utilization presents a promising model for sustainable forest management in Sumarorong and other areas with similar socio-ecological conditions.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save