Home
Login.
Artikelilmiahs
5100
Update
CATUR WISNU PRABOWO
NIM
Judul Artikel
PERGESERAN PROSESI RITUAL KESENIAN LENGGER BANYUMASAN (Analisis Semiotika Pergeseran Prosesi Ritual Kesenian Lengger di Kabupaten Banyumas)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pergeseran makna prosesi ritual dalam kesenian lengger Banyumasan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan analisis semiotika. Lokasi penelitian adalah di Kabupaten Banyumas. Jenis data terdiri dari data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan metode analisis semiotik menurut Roland Barthes, yang meliputi analisis tanda denotatif dan konotatif, intertekstualitas, dan intersubjektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian lengger diwariskan secara turun temurun untuk mempertahankan kelestarian kesenian lengger di Kabupaten Banyumas agar tidak punah. Pada awal lahirnya kesenian lengger sebagai sebuah bagian dari prosesi kesuburan tanah. Seiring perkembangan zaman dan pola pikir masyarakat kesenian lengger telah berubah maknanya menjadi sebuah petunjukkan hiburan rakyat. Hal-hal yang bersifat ritual dan sakral hampir tidak lagi dapat dijumpai, seperti maksud dan tujuan lengger sebagai sarana untuk memohon kesuburan tanah dan ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Perubahan hampir terjadi di setiap babakan pada kesenian lengger yang pada awalnya di isi dengan tembang ricik-ricik dan sekar gadung dengan diiringi alunan instrumen/ gamelan calung yang terbuat dari bambu laras slendro, pelog dan gendang. Perubahan dalam babak lenggeran terlihat pada tambahan lagu campursari sesuai permintaan penonton dan penambahan alat musik modern, seperti organ atau keyboard, gitar dan drum. Pada akhirnya, lengger dewasa ini lebih berorientasi pada aspek profan dan tidak lagi mengedepankan kesakralan di dalamnya. Kemajuan atau perkembangan jaman dan tuntutan masyarakat yang menjadi konsumen lengger menjadi faktor penting yang menjadi penyebab lunturnya nilai-nilai kesakralan dalam kesenian lengger Banyumasan.. Saran yang diajukan adalah: 1) Bagi para praktisi lengger agar dalam melakukan inovasi terhadap lengger tidak sampai keluar dari pakem-nya, 2) Masyarakat umum agar tidak lagi berpandangan negatif terhadap penari lengger, 3) Pemerintah Kabupaten Banyumas agar memfasilitasi upaya pelestarian dan pengembangan lengger.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The research entitled "The Changing of Ritual Procession Lengger Banyumasan Art (Semiotics Analysis of Changing of Ritual Procession Lengger Banyumasan Art in Banyumas Regency)". The purpose of this research was to determine the changing of procesion ritual meaning in Lengger Banyumasan art. This research is a qualitative research using semiotic analysis. The research location is in Banyumas. Type of data consists of primary data and secondary data. Data collection method using observation and documentation. Methods of data analysis using the method semiotic analysis according to Roland Barthes', which includes analysis of denotative and connotative signs, intertextuality and intersubjectivity. The results showed that lengger art passed from generation to generation to maintain sustainability of lengger art in Banyumas from extinction. At the beginning of the birth of art lengger as a part of the procession of soil fertility. As the times and people's mindsets have changed the meaning of lengger art become a popular entertainment show. The things that are sacred ritual and almost no longer be found, such as the intent and purpose as a means to invoke lengger soil fertility and expression of gratitude for the harvest. Changes occur in almost every scene of the lengger art that was originally filled with song of ricik-ricik and sekar gadhung with rhythm accompaniment instrument/gamelan calung made of bamboo barrel slendro, pelog and percussion. Changes in extra innings lenggeran campursari look at the audience demand, and the addition of modern instruments, such as organ or keyboard, guitar and drums. In the end, lengger at present are more oriented aspects of the profane and the sacred is no longer puts in it. The progress or development of time and the demands of a consumer society lengger be important factors that cause erosion of the sanctity of the art lengger Banyumasan. The suggestions are: 1) For practitioners lengger order to innovate against iengger not get out of his grip, 2) The general public no longer believes to be negative towards Lengger dancers, 3) Government of Banyumas Regency in order to facilitate the preservation and development lengger.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save