Home
Login.
Artikelilmiahs
50969
Update
KHALISTA LIAS DINI
NIM
Judul Artikel
Interaksi Parasosial dan Celebrity Worship Wibu dengan Waifu
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Fenomena wibu menunjukkan keterikatan emosional yang unik terhadap karakter fiktif perempuan atau waifu dalam budaya populer Jepang. Hubungan ini tidak hanya bersifat hiburan, tetapi dapat berkembang menjadi bentuk interaksi parasosial yang menyerupai hubungan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola interaksi parasosial wibu dengan waifu serta mengklasifikasikan intensitas keterikatannya menggunakan teori Celebrity Worship (McCutcheon, Lange, & Houran, 2002). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap lima mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang mengidentifikasikan diri sebagai wibu dan memiliki waifu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan parasosial wibu dengan waifu terbagi dalam tiga tingkat pemujaan, yaitu Entertainment–Social, Intense–Personal, dan Borderline–Pathological. Mayoritas responden berada pada dua tingkat pertama, di mana keterikatan terhadap waifu masih bersifat wajar dan berfungsi sebagai bentuk hiburan serta dukungan emosional. Namun, satu responden menunjukkan keterikatan ekstrem yang menggantikan hubungan sosial nyata. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa model Celebrity Worship relevan diterapkan pada objek fiksi seperti waifu, karena mampu menjelaskan perbedaan antara bentuk keterikatan yang sehat dan yang bersifat patologis.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The wibu phenomenon reflects a unique emotional attachment toward fictional female characters, known as waifu, within Japanese popular culture. This attachment goes beyond mere entertainment and often develops into a parasocial interaction that resembles real-life relationships. This study aims to analyze the patterns of parasocial interaction between wibu and their waifu, and to classify the intensity of attachment using the Celebrity Worship framework by McCutcheon, Lange, and Houran (2002). This research employs a descriptive qualitative method with data collected through in-depth interviews involving five students from Universitas Jenderal Soedirman who identify themselves as wibu and have a waifu. The findings reveal three levels of parasocial attachment corresponding to the dimensions of Celebrity Worship: Entertainment–Social, Intense–Personal, and Borderline–Pathological. Most respondents fall into the first two categories, where attachment to waifu serves as a healthy form of entertainment and emotional support. However, one respondent exhibits an extreme level of attachment that replaces real social interactions. The study concludes that the Celebrity Worship model is applicable to fictional figures such as waifu, providing a theoretical framework to distinguish between healthy admiration and pathological obsession.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save