Home
Login.
Artikelilmiahs
50925
Update
RINDY LUHUNG NUGROHO
NIM
Judul Artikel
Studi Etnoekologi Pemanfaatan Tumbuhan dan Pengelolaan Ekosistem Hutan oleh Masyarakat Desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Hutan memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya. Desa Cikakak merupakan desa wisata sekaligus desa adat yang memiliki hutan yang dikelola secara adat, sehingga relevan sebagai lokasi studi etnoekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies tumbuhan hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Cikakak beserta manfaatnya dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya, serta mengetahui bentuk kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya ekosistem hutan. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur dengan panduan kuesioner, dan dokumentasi. Informan ditentukan dengan teknik snowball sampling, diawali dari satu informan kunci yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai pemanfaatan tumbuhan hutan dan kearifan lokal di Desa Cikakak. Variabel penelitian adalah keanekaragaman tumbuhan yang dimanfaatkan dari hutan yang dikelola secara adat, dan bentuk kearifan lokal masyarakat Desa Cikakak. Parameter penelitian adalah karakter morfologi dari tumbuhan, seperti daun, batang, bunga, dan buah, kemudian manfaat sosial berupa penggunaan tumbuhan untuk ritual atau tradisi, manfaat ekonomi berupa hasil tumbuhan yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, serta manfaat budaya berupa nilai simbolis kemudian bentuk aturan atau larangan adat yang berperan dalam menjaga kelestarian hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tujuh spesies tumbuhan kayu dari lima famili yang dimanfaatkan di hutan yang dikelola secara adat di Desa Cikakak, yaitu Acacia mangium, Albizia chinensis, Samanea saman, Syzygium polyanthum, Schima wallichii, Tectona grandis, dan Pinus merkusii. Pemanfaatan tumbuhan tersebut dilakukan secara terbatas dan berlandaskan kearifan lokal. Dalam aspek ekonomi, kayu digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan perbaikan bangunan tanpa tujuan komersial. Dalam aspek sosial, pemanfaatan tumbuhan juga terlihat pada kegiatan memasak bersama dalam rangka upacara adat seperti Jaro Rojab dan Sedekah Bumi, sedangkan secara budaya, kayu digunakan untuk keperluan seperti pembangunan rumah juru kunci, makam, dan Masjid Saka Tunggal yang menjadi simbol tradisi masyarakat Cikakak. Pengelolaan hutan adat di Desa Cikakak berlandaskan pada kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan dijalankan oleh juru kunci sebagai pewaris amanah leluhur untuk menjaga serta melestarikan warisan pendahulu. Aturan adat seperti larangan menebang pohon sembarangan, berbicara, dan bersikap tidak sopan di kawasan hutan.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Forests hold an essential role in community life, not only as natural resources but also as integral components of social and cultural systems. Cikakak Village is both a tourism village and a traditional village, where the forest is managed under customary law, making it a relevant site for an ethnoecological study. This research aims to identify the forest plant species utilized by the people of Cikakak Village along with their social, economic, and cultural benefits, as well as to understand the forms of local wisdom applied in managing forest ecosystem resources. This study employed a survey method with a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, semi-structured interviews using a guided questionnaire, and documentation. Informants were selected using the snowball sampling technique, beginning with a key informant who possesses extensive knowledge of forest plant utilization and local wisdom in Cikakak Village. The research variables consisted of the diversity of plants utilized from the forest managed under customary practices, as well as forms of local wisdom within the Cikakak community. Research parameters included the morphological characteristics of plants—specifically leaves, stems, flowers, and fruits—along with their social benefits, economic benefits, cultural values, and the customary rules or prohibitions that play a role in sustaining forest conservation. The results show that seven species of timber trees from five families are utilized within the customary forest of Cikakak Village, namely Acacia mangium, Albizia chinensis, Samanea saman, Syzygium polyanthum, Schima wallichii, Tectona grandis, and Pinus merkusii. The utilization of these species is limited and governed by local wisdom. Economically, the wood is used for household needs and building repairs without commercial purposes. Socially, plants are used for activities related to traditional rituals such as Jaro Rojab and Sedekah Bumi, while culturally, the wood is used for purposes such as constructing the caretaker’s house, graves, and the historic Masjid Saka Tunggal, which symbolizes the traditions of the Cikakak community. The management of the customary forest is grounded in inherited local wisdom and is carried out by the juru kunci as the custodian of ancestral heritage. Customary rules include prohibitions against cutting trees carelessly, speaking, or behaving disrespectfully within the forest area.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save