Home
Login.
Artikelilmiahs
50652
Update
YUSRIL THORIQ MUHAMMAD ZAEN
NIM
Judul Artikel
STUDI POPULASI Spodoptera frugiperda JE Smith (Lepidoptera: Noctuidae) DAN SERANGGA YANG BERASOSIASI PADA TANAMAN JAGUNG DI KABUPATEN PURBALINGGA, BANYUMAS, DAN CILACAP
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Jagung (Zea mays) merupakan tanaman strategis bernilai ekonomi tinggi di Indonesia, namun budidayanya terkendala serangan hama invasif ulat grayak (Spodoptera frugiperda). Penelitian ini bertujuan mengetahui: (i) tingkat serangan S. frugiperda, (ii) presentase kerusakan tanaman, (iii) keanekaragaman serangga hama dan musuh alami, serta (iv) hubungan populasi dan kerusakan dengan agroklimatik di eks-Karesidenan Banyumas (Purbalingga, Banyumas, Cilacap). Survei dengan random sampling pola "W" dilakukan di enam lahan pada tiga kabupaten bervariasi ketinggian. Analisis data mencakup deskriptif, regresi, korelasi, dan Principal Components Analysis (PCA) Biplot. Hasil menunjukkan populasi dan kerusakan tertinggi di Desa Karanganyar, Cilacap (249 individu; 54%) dengan suhu 29.5°C, kelembapan 81%, dan angin 11.9 satuan. Populasi dan serangan meningkat seiring penurunan ketinggian, kenaikan suhu, dan kecepatan angin. Kerusakan bervariasi: ringan di Serang (Purbalingga) dan Ciberem (Banyumas) (0–27%/minggu), serta berat di Karanganyar (2–54%/minggu). Keanekaragaman hama (4-5 spesies) berfluktuasi antar-lokasi, sedangkan musuh alami stabil (8 spesies) dan berkorelasi negatif dengan S. frugiperda. Suhu dan angin berpengaruh positif terhadap peningkatan populasi dan kerusakan, sementara kelembapan berkorelasi negatif.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Corn (Zea mays) is a strategic crop with high economic value in Indonesia, but its cultivation is hampered by attacks from the invasive fall armyworm (Spodoptera frugiperda). This study aims to determine: (i) the level of S. frugiperda infestation, (ii) the percentage of crop damage, (iii) the diversity of pest insects and natural enemies, and (iv) the relationship between population and damage with agroclimatic conditions in the former Banyumas Residency (Purbalingga, Banyumas, Cilacap). A survey using random sampling with a “W” pattern was conducted on six plots across three districts with varying elevations. Data analysis included descriptive, regression, correlation analyses, and Principal Components Analysis (PCA) Biplot. Results showed the highest population and damage in Karanganyar Village, Cilacap (249 individuals; 54%) with a temperature of 29.5°C, humidity of 81%, and wind speed of 11.9 units. Population and damage increased with decreasing elevation, rising temperature, and wind speed. Damage varied: light in Serang (Purbalingga) and Ciberem (Banyumas) (0–27%/week), and severe in Karanganyar (2–54%/week). Pest diversity (4-5 species) fluctuates between locations, while natural enemies remain stable (8 species) and negatively correlated with S. frugiperda. Temperature and wind positively influence population increases and damage, while humidity is negatively correlated.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save