Home
Login.
Artikelilmiahs
50336
Update
MUHAMMAD RAIHAN INDRAGUNA
NIM
Judul Artikel
KERAGAMAN GENETIK UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz) AKSESI ASAL KABUPATEN BANYUMAS BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI DAN MARKA SIMPLE SEQUENCE REPEATS (SSR)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tanaman ubi kayu di Indonesia merupakan salah satu komoditas pangan yang diminati oleh masyarakat Indonesia sejak awal penjajahan karena mudah untuk dibudidayakan serta berperan sebagai sumber bahan pangan pengganti beras. Kebutuhan ubi kayu dalam negeri akan semakin meningkat di masa yang akan datang sejalan dengan semakin meningkatnya dan berkembangnya industri berbahan baku ubi kayu. Upaya peningkatan produksi ubi kayu demi kecukupan kebutuhan permintaan ubi kayu dapat dilakukan melalui perakitan varietas atau galur superior ubi kayu dengan pemuliaan tanaman. Karakterisasi secara morfologi merupakan informasi awal yang diperlukan dalam upaya mencari karakter unggul dan keragaman yang diperlukan. Didukung dengan karakterisasi secara molekuler untuk menguatkan informasi mengenai hubungan kekerabatan antar kultivar ubi kayu. Salah satu upaya untuk mengetahui informasi keragaman genetik ubi kayu di Indonesia adalah dengan teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction) menggunakan penanda molekuler Simple Sequence Repeat (SSR). Karakter morfologi yang didapatkan dari 15 sampel ubi kayu bervariasi terutama pada bagian bentuk daun tengah, warna apikal, urat daun, dan daun. Enam dari delapan primer SSR yang digunakan sangat informatif dengan nilai polimorfisme 0,851 (SSRY164), diikuti 0,843 (SSRY69), 0,834 (SSRY182), 0,824 (SSRY161), 0,809 (SSRY19), dan 0,799 (SSRY9). Adapun nilai heterozigositas paling tinggi dihasilkan oleh primer SSRY182 dengan nilai 0,118, diikuti oleh SSR69 (0,102), SSR19 (0,059), SSR161 (0,059), SSRY164 (0,059), GBSS-I (0,059) dan terakhir SSRY9 (0,043). Dendogram hasil analisis filogenetik mengelompokkan tanaman ubi kayu menjadi dua klaster dengan rentang koefisien kemiripan Jaccard 0,07-0,33, dengan jarak genetik dan jarak identitas tanaman ubi kayu berkisar antara 0,714-1,000 dan 0,000-0,336.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Since the beginning of colonization, cassava plants have been in demand by the Indonesian people because they are easy to cultivate and can replace rice as a source of food. The demand for cassava will increase in the future as industries based on cassava grow and develop. Increasing cassava production to meet demand can be achieved by assembling superior varieties or strains of cassava through plant breeding. Morphological characterization is the initial step in identifying superior traits and the necessary diversity. This is supported by molecular characterization, which strengthens information on kinship relationships between cassava cultivars. One way to learn about cassava genetic diversity in Indonesia is to use PCR (polymerase chain reaction) technology with simple sequence repeat (SSR) molecular markers. Morphological characters obtained from 15 cassava samples varied mainly in the shape of the middle leaf, apical color, leaf veins, and leaves. Six of the eight SSR primers used were highly informative with a polymorphism value of 0.851 (SSRY164), followed by 0.843 (SSRY69), 0.834 (SSRY182), 0.824 (SSRY161), 0.809 (SSRY19), and 0.799 (SSRY9). The highest heterozygosity value was produced by primer SSRY182 with a value of 0.118, followed by SSR69 (0.102), SSR19 (0.059), SSR161 (0.059), SSRY164 (0.059), GBSS-I (0.059) and finally SSRY9 (0.043). The dendrogram of phylogenetic analysis results grouped cassava plants into two clusters with a Jaccard similarity coefficient range of 0.07-0.33, with genetic distance and identity distance of cassava plants ranging from 0.714-1.000 and 0.000-0.336.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save