Home
Login.
Artikelilmiahs
50245
Update
NABILLA PUTRI SYAHARANI
NIM
Judul Artikel
Pengaruh Asap Cair Tempurung Kelapa, Sekam, dan Kayu Jati terhadap Penekanan Intensitas Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Bawang Merah
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi. Salah satu penyakit yang timbul pada budidaya bawang merah adalah penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Pengendalian penyakit layu fusarium pada bawang merah dapat dilakukan dengan penggunaan asap cair. Kandungan utama dalam asap cair berupa fenol, asam dan karbonil memiliki sifat antimikroba dan antioksidan. Efektivitas asap cair dipengaruhi oleh jenis dan konsentrasi asap cair yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis asap cair dari tempurung kelapa, sekam, dan kayu jati dengan konsentrasi berbeda terhadap pertumbuhan jamur Fusarium sp., mengetahui kemampuan asap cair dalam menekan intensitas penyakit layu fusarium pada tanaman bawang merah, dan mengetahui kombinasi jenis dan konsentrasi asap cair yang optimal dalam menekan intensitas penyakit layu fusarium pada tanaman bawang merah. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi, dan Green House Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa bahwa perlakuan asap cair tempurung kelapa 2% dan 3% menghasilkan indeks antijamur 100%, asap cair dari sekam 3% sebesar 30,72%, dan asap cair kayu jati 3% sebesar 100%. Sementara itu, pada uji in plantae menunjukkan bahwa asap cair tempurung kelapa 2% memiliki pengaruh terbaik dalam menekan penyakit layu fusarium pada tanaman bawang merah. Perlakuan asap cair sekam 3% dan kayu jati 3% juga masih mampu menekan penyakit layu fusarium pada tanaman bawang merah, namun efektivitasnya tidak sebaik asap cair tempurung kelapa 2%.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Shallot (Allium ascalonicum L.) is a horticultural commodity with high economic value. One of the diseases that occurs in shallot cultivation is fusarium wilt, which is caused byFusarium oxysporum. Fusarium wilt disease in shallots can be controlled using liquid smoke. The main components of liquid smoke, phenols, acids, and carbonyls, have antimicrobial and antioxidant properties. The effectiveness of liquid smoke is influenced by the type and concentration of liquid smoke used. This study aimed to determine the effect of liquid smoke from coconut shells, rice husks, and teak wood at different concentrations on fungal growth. Fusariumsp., to determine the ability of liquid smoke to suppress the intensity of fusarium wilt disease in shallot plants, and to determine the optimal combination of types and concentrations of liquid smoke to suppress the intensity of fusarium wilt disease in shallot plants. This research was conducted in the Mycology and Phytopathology Laboratory, andGreen HouseFaculty of Biology, Jenderal Soedirman University, using an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD). The test results in vitro showed that the treatment of 2% and 3% coconut shell liquid smoke produced an antifungal index of 100%, 3% liquid smoke from rice husks produced 30.72%, and 3% teak wood liquid smoke produced 100%. Meanwhile, the test results in plantae showed that 2% coconut shell liquid smoke had the best effect in suppressing fusarium wilt in shallots. Treatments with 3% rice husk liquid smoke and 3% teak wood were also able to suppress fusarium wilt in shallots, but their effectiveness was not as good as 2% coconut shell liquid smoke
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save