Home
Login.
Artikelilmiahs
49188
Update
DIMAS ARDIANSYAH
NIM
Judul Artikel
Peran Sutradara dan Juru Kamera dalam Produksi Film Dokumenter "Napas Terakhir Dalang Jemblung"
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Film dokumenter Napas Terakhir Dalang Jemblung hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap semakin memudarnya eksistensi kesenian Jemblung di Banyumas, Jawa Tengah. Jemblung, sebagai seni pertunjukan tutur yang khas, mengalami penurunan peminat akibat arus modernisasi, minimnya dokumentasi, serta berkurangnya rasa handarbeni (kepemilikan) terhadap budaya lokal. Karya ini bertujuan untuk merekam kondisi aktual kesenian jemblung, serta menampilkan dinamika pelestariannya melalui dua perspektif dalang, yaitu dalang tua yang tetap menjaga pakem tradisi dan dalang muda yang mencoba merespons zaman dengan pendekatan kontemporer. Film ini diproduksi dengan gaya dokumenter expository, menggunakan kombinasi wawancara mendalam bersama pelaku kesenian, pengamat budaya, serta dokumentasi pertunjukan langsung. Dalam proses ini, pencipta berperan ganda sebagai sutradara dan juru kamera, guna memastikan kesinambungan visi sinematik dan ketepatan naratif dalam menyampaikan realitas sosial-budaya yang ditangkap. Peran ganda ini memungkinkan eksplorasi yang lebih intim dan reflektif terhadap subjek, serta mendorong kedekatan emosional antara penonton dan konten yang dihadirkan. Film ini menyimpulkan bahwa pelestarian Jemblung memerlukan sinergi antara regenerasi seniman, edukasi publik, dukungan ekonomi, dan strategi penyampaian melalui media yang relevan. Sebagai karya dokumentasi dan komunikasi budaya, film ini diharapkan memberikan kontribusi dalam membangkitkan kesadaran kolektif, membangun apresiasi terhadap seni lokal, serta menjadi referensi edukatif dalam konteks pelestarian seni tradisional Indonesia.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The documentary film Napas Terakhir Dalang Jemblung is presented as a form of concern for the waning existence of Jemblung art in Banyumas, Central Java. Jemblung, as a distinctive storytelling performance art, is experiencing a decline in interest due to modernisation, lack of documentation, and a reduced sense of ownership of local culture. This work aims to record the actual condition of the art of jemblung, as well as to show the dynamics of its preservation through two perspectives of dalang, namely the old dalang who still maintains tradition and the young dalang who tries to respond to the times with a contemporary approach. The film is produced in an expository documentary style, using a combination of in-depth interviews with performers, cultural observers, and live performance documentation. In this process, the creator plays a dual role as director and cameraman, ensuring continuity of cinematic vision and narrative accuracy in conveying the socio-cultural reality captured. This dual role allows for a more intimate and reflective exploration of the subject, and encourages an emotional closeness between the audience and the content presented. The film concludes that Jemblung preservation requires a synergy between artist regeneration, public education, economic support, and delivery strategies through relevant media. As a work of documentation and cultural communication, the film is expected to contribute to raising collective awareness, building appreciation for local arts, and becoming an educational reference in the context of preserving Indonesian traditional arts.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save