Home
Login.
Artikelilmiahs
48965
Update
SOLEMAN IBNU SETIAWAN
NIM
Judul Artikel
FENOMENA PAKSEL DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA JAWA BANYUMASAN DI KALANGAN MAHASISWA FISIP UNSOED ASLI BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Hadirnya mahasiswa dari wilayah Jabodetabek membawa keragaman budaya yang signifikan di lingkungan Fisip Universitas Jenderal Soedirman, terutama dalam aspek bahasa. Interaksi intens antara mahasiswa asli Banyumas dan mahasiswa pendatang mendorong terjadinya percampuran gaya bahasa yang dikenal sebagai fenomena "paksel" (ngapak Jaksel), yaitu gabungan antara bahasa Jawa Banyumasan dan bahasa gaul Jakarta Selatan. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan terjadinya fenomena paksel dan dampaknya terhadap penggunaan bahasa Jawa Banyumasan pada mahasiswa Fisip Unsoed asli Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik Snowball Sampling dan melibatkan 8 informan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan analisis model interaktif dan validasi data melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya fenomena paksel disebabkan oleh beberapa faktor, seperti dominasi mahasiswa dari Jabodetabek, anggapan bahwa Jakarta sebagai simbol kemoderenan, pengaruh media sosial, adanya stigma bahwa bahasa Jawa Banyumasan terdengar ndeso atau kurang keren. Stigma ini membuat mahasiswa asli Banyumas merasa kurang percaya diri dalam menggunakan bahasa daerahnya. Fenomena paksel menunjukkan adanya adaptasi dalam penggunaan bahasa di kalangan mahasiswa yang mengakibatkan menurunya penutur bahasa Jawa Banyumasan, jika terus dibiarkan, hal ini bisa membuat bahasa Jawa Banyumasan kehilangan ciri khasnya dan bisa menyebabkan generasi muda kehilangan kemampuan dalam menggunakan bahasa daerahnya secara lancar.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The presence of students from the Jabodetabek area brings significant cultural diversity in the Fisip Universitas Jenderal Soedirman, especially in the aspect of language. The intense interaction between native Banyumas students and newcomer students encourages the mixing of language styles known as the "paksel" (ngapak Jaksel) phenomenon, which is a combination of Banyumasan Javanese and South Jakarta slang. The purpose of this study is to explain the occurrence of the paksel phenomenon and its impact on the use of Banyumasan Javanese among Banyumas native Fisip Unsoed students. This research used qualitative method with snowball sampling technique and involved 8 informants. Data collection was conducted through participant observation, in-depth interviews, and documentation, with analysis interactive model and data validation through source triangulation. The results show that the emergence of the paksel phenomenon is caused by several factors, such as the dominance of students from Jabodetabek, the assumption that Jakarta is a symbol of modernity, the influence of social media, the stigma that the Banyumasan Javanese language sounds ndeso or less cool. This stigma makes native Banyumas students feel less confident in using their local language. This phenomenon shows that there is an adaptation in the use of language among students which results in the decline of Banyumasan Javanese speakers, if left unchecked, this can make Banyumasan Javanese lose its characteristics and can cause the younger generation to lose the ability to use their local language fluently.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save