Home
Login.
Artikelilmiahs
48964
Update
ARDIKA NOOR KHOIRUDDIN
NIM
Judul Artikel
GEOLOGI DAN EVALUASI KESTABILAN TEROWONGAN PADA SISTEM PENYANGGAAN AKTUAL TERHADAP REKOMENDASI PENENTUAN PENYANGGAAN BERDASARKAN KLASIFIKASI MASSA BATUAN RMR DAN Q-SYSTEM DI HEADING 5 STOCKPILE 10 PT BUMI SUKSESINDO
Abstrak (Bhs. Indonesia)
PT. Bumi Suksesindo yang berlokasi di wilayah Tujuh Bukit, Banyuwangi, Jawa Timur telah menerapkan sistem penambangan bawah tanah (underground) yang dilakukan dengan penggalian terowongan menggunakan metode drill and blast. Saat ini terowongan dalam kondisi maintenance dan telah digali hingga kedalaman 270 meter dengan panjang total 1,89 km. Terowongan yang telah dibentuk perlu diperhatikan dengan baik untuk memastikan kestabilan dan keamanan penyanggaan. Penelitian dilakukan melalui analisis geologi underground, analisis geomorfologi permukaan berbasis citra satelit, penentuan kondisi massa batuan, dan pemodelan numerik menggunakan Software Phase 2 versi 8.0 untuk menghitung faktor keamanan (FK) yang berlandaskan Kepmen ESDM Nomor 1827 Tahun 2018. Kemudian memverifikasi hasil analisis dengan pengukuran konvergensi terowongan. Didapatkan geomorfologi daerah penelitian termasuk dalam bentuk asal Antropogenik yang terbagi menjadi empat satuan bentuk lahan, menurut Szabó (2010) terbagi ke dalam Satuan Open Cast pits, Satuan Road cuts, Satuan Navvy pits, dan Satuan Waste tips. Sedangkan menurut Verstappen (1985) terbagi ke dalam Satuan Lahan Bukaan Tambang, Satuan Hauling Road, Satuan Sump, dan Satuan Waste Dump. Satuan litologi tergolong ke dalam Satuan Diorit Batuampar dengan kandungan alterasi Hsi-Cy dan masuk ke dalam kelompok Kaolin-Illit. Menurut Streckeisen (1967) tergolong ke dalam Granodiorite, Tonalite, dan Quartz-rich Granitoid Rocks yang telah teralterasi dengan intensitas alterasi kuat. Pada studi kasus geologi teknik, didapatkan hasil klasifikasi massa batuan data primer dan primer modifikasi pada RMR tergolong kelas buruk (poor) dan menurut data sekunder tergolong kelas cukup (fair). Sedangkan data Q-System primer dan primer modifikasi tergolong kelas buruk (poor) dan menurut data sekunder tergolong cukup (fair). Setelah dibandingkan dari ketiga data tersebut perlu diperdetail pemetaan joint untuk kedepannya, karena terdapat anomali dalam pengambilan nilai di beberapa paremeter pada data sekunder. Setelah dilakukan perbandingan rekomendasi penyanggaan, ternyata penyangga aktual memiliki FK lebih tinggi dengan nilai 6,03 dan tidak ditemukan adanya retakan, sehingga terdapat indikasi over support. Selain itu, dari data konvergen didapatkan area penelitian tergolong ke dalam kriteria stabil dengan penyanggaan yang sudah terpasang. Sehingga perlu dikaji lebih lanjut mengenai spesifikasi penyanggaan aktual, apakah benar diperlukan atau bisa dioptimalkan dengan hasil rekomendasi RMR dan Q-System. Berdasarkan hasil pemodelan dengan Phase 2, rekomendasi penyanggaan memiliki nilai faktor keamanan yaitu 3,69 yang artinya FK ≥ 2, maka dinyatakan aman untuk fixed facility.
Abtrak (Bhs. Inggris)
PT. Bumi Suksesindo, located in the Tujuh Bukit area of Banyuwangi, East Java, has implemented an underground mining system using tunnel excavation with the drill and blast method. Currently, the tunnel is under maintenance and has been excavated to a depth of 270 meters with a total length of 1.89 km. The formed tunnel requires careful attention to ensure the stability and safety of the support structure. The research was conducted through underground geological analysis, surface geomorphological analysis based on satellite imagery, determination of rock mass conditions, and numerical modeling using Phase 2 Software version 8.0 to calculate the factor of safety (FoS) based on Ministry of Energy and Mineral Resources Regulation No. 1827 of 2018. The results of the analysis were then verified through tunnel convergence measurements. The geomorphology of the study area was found to be of anthropogenic origin, divided into four landform units, according to Szabó (2010) Open Cast Pits, Road Cuts, Navvy Pits, and Waste Tips. According to Verstappen (1985), they are divided into Mining Open Pit Units, Hauling Road Units, Sump Units, and Waste Dump Units. The lithological units belong to the Diorite Batuampar Unit with Hsi-Cy alteration content and are classified into the Kaolin-Illite group. According to Streckeisen (1967), it is classified into Granodiorite, Tonalite, and Quartz-rich Granitoid Rocks that have undergone strong alteration. In the technical geological case study, the classification of primary and modified primary rock mass data at RMR was classified as poor, and according to secondary data, it was classified as fair. Meanwhile, the primary and modified primary Q-System data are classified as poor, and according to secondary data, they are classified as fair. After comparing the three sets of data, it is necessary to detail the joint mapping for the future, as there are anomalies in the value extraction of several parameters in the secondary data. After comparing the support recommendations, it was found that the actual support has a higher FK value of 6.03 and no cracks were found, indicating over-support. Additionally, based on convergent data, the study area is classified as stable with the installed support. Therefore, it is necessary to further examine the specifications of the actual support, whether it is truly necessary or can be optimized with the results of the RMR and Q-System recommendations. Based on the modeling results with Phase 2, the support recommendation has a safety factor value of 3.69, which means that the safety factor (FoS) is ≥ 2, so it is deemed safe for a fixed facility.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save