Home
Login.
Artikelilmiahs
48418
Update
FILSA IBNU HARARI
NIM
Judul Artikel
Efisiensi Teknis Usahatani Padi Pada Masyarakat Adat Bonokeling Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Padi merupakan komoditas pangan utama di Indonesia, karena mayoritas masyarakat Indonesia memiliki makanan pokok berupa nasi. Desa Pekuncen merupakan salah satu desa di Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani padi. Desa Pekuncen memiliki kelompok masyarakat adat Bonokeling yang masih memegang tradisi secara umum dalam kegiatan usahataninya. Tradisi tersebut dapat dilihat pada saat penentuan waktu tanam atau pranata mangsa. Permasalahan utama pada usahatani padi masyarakat Adat Bonokeling yaitu hasil produksi padi yang mengalami penurunan, karena panjangnya musim kemarau, munculnya hama dan penyakit yang menyebabkan kegagalan panen. Fenomena tersebut dapat menyebabkan produktivitas padi mengalami penurunan, sehingga dapat ditingkatkan melalui upaya efisiensi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui karakteristik usahatani padi yang ada pada masyarakat adat Bonokeling, 2) mengetahui faktor yang memengaruhi produksi usahatani padi pada masyarakat adat Bonokeling, 3) mengetahui tingkat efisiensi teknis usahatani padi pada masyarakat adat Bonokeling, 4) mengetahui faktor yang memengaruhi inefisiensi teknis usahatani padi pada masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen. Penelitian dilaksanakan pada Masyarakat Adat Bonokeling, tepatnya di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menggunakan metode studi kasus. Waktu pelaksanaan penelitian yaitu bulan Februari 2025 sampai bulan Maret 2025. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara, kuesioner, dokumentasi dan studi pustaka untuk mendukung hasil penelitian. Petani yang menjadi responden penelitian ini yaitu petani yang masuk dalam Kelompok Tani Karangsari, yang mayoritas petani masih menerapkan tradisi dalam usahataninya, terutama penggunaan pranata mangsa. Data yang telah diperoleh akan diuji asumsi klasik, dan pengujian hipotesis, kemudian diolah menggunakan software frontier 4.1. Variabel yang diamati berupa luas lahan, benih, pupuk urea, pupuk phonska, pestisida, TKDK, TKLK, serta jumlah anggota keluarga, umur petani, pengalaman berusahatani padi, pendidikan formal petani, frekuensi penyuluhan, dan penggunaan pranata mangsa. Hasil penelitian menunjukan sebanyak 89,13 persen petani masih menggunakan pranata mangsa dalam penanggalan untuk menam padi pada masyarakat Bonokeling. Faktor produksi yang memiliki pengaruh nyata dalam penelitian ini yaitu luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk urea, jumlah pupuk phonska, dan TKLK, sedangkan jumlah pestisida dan TKDK tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Nilai rata-rata efisiensi teknis petani pada penelitian ini sebesar 0.71503490 atau 71,5% yang dapat dikategorikan baik, dan petani dikatakan sudah mencapai efisiensi secara teknis. Faktor yang memiliki pengaruh terhadap inefisiensi teknis pada penelitian ini yaitu umur petani dan penggunaan pranata mangsa, sedangkan jumlah anggota keluarga, pengalaman petani, pendidikan petani dan keikutsertaan dalam penyuluhan tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat inefisiensi teknis usahatani padi secara nyata.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Rice is the main food commodity in Indonesia, because the majority of Indonesian people have rice as their staple food. Pekuncen Village is one of the villages in Jatilawang District, Banyumas Regency, where the majority of the population works as rice farmers. Pekuncen Village has a group of Bonokeling indigenous people who still hold traditions in general in their farming activities. This tradition can be seen when determining the planting time or pranata mangsa. The main problem in the rice farming of the Bonokeling Indigenous People is the decline in rice production, due to the long dry season, the emergence of pests and diseases that cause crop failure. This phenomenon can cause rice productivity to decline, so that it can be increased through efficiency efforts. This study aims to 1) determine the characteristics of rice farming in the Bonokeling indigenous people, 2) determine the factors that influence rice farming production in the Bonokeling indigenous people, 3) determine the level of technical efficiency of rice farming in the Bonokeling indigenous people, 4) determine the factors that influence the technical inefficiency of rice farming in the Bonokeling indigenous people in Pekuncen Village. The research was conducted in the Bonokeling Indigenous Community, precisely in Pekuncen Village, Jatilawang District, Banyumas Regency, Central Java using a case study method. The research implementation time was February 2025 to March 2025. The sampling technique for this research used purposive sampling. The research was conducted by means of observation, interviews, questionnaires, documentation and literature studies to support the research results. The farmers who were respondents in this research were farmers who were members of the Karangsari Farmers Group, the majority of whom still apply traditions in their farming, especially the use of pranata mangsa. The data that has been obtained will be tested for classical assumptions, and hypothesis testing, then processed using frontier 4.1 software. The variables observed were land area, seeds, urea fertilizer, phonska fertilizer, pesticides, TKDK, TKLK, as well as the number of family members, farmer age, rice farming experience, formal farmer education, frequency of extension, and use of pranata mangsa. The results of the study showed that 89.13 percent of farmers still use pranata mangsa in the calendar for planting rice in the Bonokeling community. Production factors that have a significant influence in this study are land area, number of seeds, amount of urea fertilizer, amount of phonska fertilizer, and TKLK, while the amount of pesticide and TKDK do not have a significant influence. The average value of technical efficiency of farmers in this study was 0.71503490 or 71.5% which can be categorized as good, and farmers are said to have achieved technical efficiency. Factors that have an influence on technical inefficiency in this study are the age of farmers and the use of pranata mangsa, while the number of family members, farmer experience, farmer education and participation in extension do not have a significant influence on the level of technical inefficiency of rice farming.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save